• News

  • Rebranding

Bendera Indonesia Berusia 6.000 Tahun, Terlalu Tua dan Perlu Diubah?

Ilustrasi bendera Merah Putih.
Jatim Times
Ilustrasi bendera Merah Putih.

JAKARTA, NNC - Melacak umur Sang Saka Merah Putih, bendera kebanggaan bangsa Indonesia, ternyata sudah mencapai 6.000 tahun. Pernyataan ini diungkapkan oleh Prof H Muhammad Yamin dalam bukunya “6.000 Tahun Sang Merah Putih” (2017: 8-48).

Melalui suatu kajian sejarah dan kajian bahasa atau linguistik, Muhhammad Yamin berhasil menyimpulkan bahwa bendera Merah Putih sudah dikenal dan digunakan sebagai simbol-simbol manusia paling awal yang menghuni wilayah Nusantara, tepatnya sejak zaman Aditiacandra.

Memang, berdasar fosil-fosil yang ditemukan di situs Mojokerto, pada 600 ribu tahun lalu sudah ada kebudayaan manusia purba. Bukti lebih muda juga ditemukan di aliran Sungai Bengawan Solo, ada manusia purba berusia 300-500 ribu tahun. Selain itu, di Ngandong dan Trinil, ditemukan fosil manusia purba berusia 40 ribu tahun lalu.

Namun, sepanjang kehidupan manusia purba tersebut, tak dijumpai adanya bukti bahwa mereka sudah mengenal warna merah-putih. Baru pada 6.000 tahun lalu, dalam dongeng-dongeng kuno, misalnya dongeng masyarakat Batak purba, panji, dan mitologi yang tersebar di Nusantara, lahirlah apa yang disebut sebagai suryacandra.

Muhammad Yasin menyebut masa kelahiran suryacandra sebagai zaman Aditiacandra. Zaman tersebut merupakan babak pertama prasejarah merah-putih, di mana dalam berbagai ritual manusia purba menggunakan kata “merah” sebagai lambang matahari dan “putih” sebagai lambang bulan.

Dalam Bahasa Austronesia purba, “putih” dilukiskan dengan kata “bulan”. Sedangkan kata “ra” itu berarti matahari. Dalam pengembangnnya, kata “ra” melahirkan kata “terang”, “benderang”, “padang” (bahasa Jawa), “caang” (bahasa Sunda), dan “pu-ra” (bahasa Filipina dan Sulawesi).

Usia penghormatan bayangan matahari dan bulan di wilayah katulistiwa, jauh lebih tua dari simbol “merah-putih” sebagai alat penghormatan terhadap kesaktian dan zat kehidupan. Pengembangan pemahaman dan pengertian “merah-putih”, ternyata membutuhkan proses selama ribuan tahun.  

Menginjak era 2.000 tahun lalu, pemahaman budaya manusia purba terhadap merah-putih makin berkembang. Istilah merah-putih telah dikaitkan dengan sistem kepercayaan dan kesaktian dengan unsur terkait “getah-getih” dalam tubuh manusia, binatang, dan tumbuhan.

Pemahaman baru itu dapat dilacak dalam Bahasa Austronesia purba yang berkembang di daerah Madagaskar, Filipina, Semenanjung Malaya, Asia Tenggara, dan wilayah Nusantara. Dari semua daerah itu, paling tidak ada tiga hal yang dapat ditarik kesimpulan.

Pertama, kata “merah-putih” hampir selalu memakai awalan kata “da-", "ra-", "pu-“, dan “si-“. Dalam ilmu bahasa, awalan ini disebut sebagai awalan kata untuk “memuliakan” sesuatu. Sisa-sisa sejarah kata itu bisa kita lihat melalui kata “pu-tih” (Jawa Kuno), “fo-tsy “ (Malagasi), “si-rah” (Minangkabau), “me-rah” (Melayu), dan “ma-rara” (Batak).

Kata “pu-tih” dalam Bahasa Jawa Kuno, kata “pu-“ sama dengan “mpu” dan “empu” yang berati “dimuliakan”. Sementara dalam Bahasa Batak, ada kata “Ompu” yang artinya tak jauh berbeda.

Pokok menarik berikutnya adalah bahwa kata “-rah” dan “-tih” pada kata kembar “merah-putih”, menunjuk pengertian yang pada mulanya melambangkan warna putih pada getah tumbuhan (ge-tah) dan warna darah manusia (ge-tih).

Pengertian “merah-putih” dalam “getah-getih” juga tersebar dalam bahasa rumpun Austronesia lainnya. Sisa-sisanya masih banyak yang bisa kita temukan.

Penghormatan merah-putih yang kini berbentuk bendera kebangsaan, sebenarnya sudah ada sejak era itu. Memuliakan kekuatan unsur kehidupan diduga juga dilakukan melalui pengibaran panji atau semacam bendera berwarna merah dan putih yang kemudian menjadi corak kelompok masyarakat atau bangsa tertentu.

Pokok penting ketiga adalah bahwa melalui penyelidikan tentang sejarah hukum adat, ditemukan pula banyak sekali penggunaan kata “merah-putih”. Di Bali, antara Denpasar dan Karangasem, warna putih menunjukkan dua macam perkawinan.

Perkawinan pertama adalah perkawinan merah (Bali: barak), yang artinya perkawinan bagi anak dara yang telah mengandung sebelum perkawinan. Sedangkan perkawinan putih adalah kebalikannya yaitu kondisi di mana si dara calon pengantin tidak terbukti sedang hamil.

Perkawinan merah dilukiskan dalam lontar istimewa bernama “Kliajang Luanan” di mana disebutkan, “Tidak mempersaksikan dengan ikut pergi ke dalam rumah teruna yang berkawin, tetapi menantikan kabar di balai banjar bagaimana hasil pemeriksaan yang dibawa kepadanya.”

Babak-babak selanjutnya, kata “merah-putih” menjadi semakin sering digunakan dan terus berkembang. Di balik kata itu selalu mengandung kekuatan tersendiri seperti munculnya kata “darah merah”, “darah putih”, penghormatan roh nenek moyang melalui “bubur merah” yang terbuat dari campuran beras dan gula kelapa atau gula merah, serta “bubur putih” yang tanpa gula merah.

“Merah-putih” terus bertahan dan semakin diperkaya dengan nuansa politik ketika digunakan sebagai panji-panji pada era Kerajaan Singhasari, Majapahit, hingga digunakan sebagai bendera pasukan Pangeran Diponegoro. Di era kemerdekaan, tepatlah saat Sang Saka Merah Putih dipilih sebagai simbol negara Indonesia.

Jadi, bendera yang kita banggakan itu umurnya sudah sangat tua. Dengan mengenal kepurbakalaanya itu, kita bisa semakin menghormatinya dan memperlakukannya secara pantas.

Mengenai gagasan perlunya penyempurnaan, sesungguhnya juga bukan sesuatu yang mengada-ada. Salah satu tokoh yang menggagas perlu adanya rebranding adalah Ricky Sutanto, pendiri Blossom Group.

Beliau mengusulkan agar pada Sang Saka Merah Putih, disematkan lambang Garuda Pancasila. Penambahan tersebut sangat penting untuk mempertegas identitas Indonesia sebagai bangsa yang ber-bhinneka tunggal ika dan berdasarkan pada Pancasila.

Selain itu, kita juga tahu bahwa di dunia, bendera Merah Putih bukan hanya milik Indonesia. Warna bendera negara Monako juga sama. Dengan penambahan lambang Garuda Pancasila, kiranya akan menambah kesakralan di balik usianya yang telah lebih dari 6.000 tahun.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?