• News

  • Rebranding

Hari Sumpah Pemuda, Ini yang Harus Diubah dari Indonesia

Bendera Merah Putih dengan lambang Garuda Pancasila.
Istimewa
Bendera Merah Putih dengan lambang Garuda Pancasila.

JAKARTA, NNC - Bangsa yang besar harus menghargai dan tidak boleh melupakan sejarah bangsanya. Melalui sejarah, gambaran bagaimana asal-usul, jatuh-bangunnya, semangat, dan cita-cita terhadap hari esok di bawah payung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat ditemukan kembali.

Maka, walaupun sesibuk apapun, memperingati Hari Sumpah Pemuda adalah sangat penting. Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27-28 Oktober 1928 merupakan peristiwa ikrar para pemuda dalam menggeloraan tekad persatuan dengan bertanah air, berbangsa, dan berbahasa yang satu.

Dalam rangka itulah, pendiri Blossom Group dan pendiri Netralnews.com (NNC) Ricky Sutanto menyatakan, “Selamat Hari Sumpah Pemuda. Selamat memperingati semangat dan tekad pemuda. Jadikan semangat Sumpah Pemuda sebagai cambuk untuk membangun Indonesia.”

Dalam peringatan hari tersebut, ia juga menyampaikan pemikiran-pemikirannya tentang wujud nasionalisme dan inovasi-inovasi yang menurutnya penting bagi kemajuan Indonesia.

Dirikan Istana Negara yang baru
“Sudah lima generasi lahir sejak Sumpah Pemuda, namun hingga kini, ada hal tertentu yang sangat penting terkait simbol peradaban dan citra Indonesia, belum juga direalisasikan,” tutur Ricky.

Ricky selalu yakin bahwa Indonesia di masa mendatang akan mampu menjadi negara terkaya kelima di dunia. Untuk menuju ke sana, ada berbagai persoalan dan prinsip tertentu yang harus dilakukan. Dalam konteks semangat Sumpah Pemuda, Ricky kembali menyoroti dua hal.

Katanya, “Indonesia itu negara yang besar, berdasar Pancasila, ber-Bhinneka Tunggal Ika. Dan jangan lupa, Indonesia juga negara kaya raya. Masak Istana Negara-nya masih saja menggunakan bangunan yang bukan didirikan oleh bangsanya sendiri?”

Memang, Indonesia memiliki Istana Merdeka, Istana Negara, Istana Cipanas, dan Istana Bogor. Namun semua itu adalah peninggalan Belanda. Istana tersebut dibangun oleh bangsa asing tatkala masih menguasai Indonesia. Bagaimanapun, labelnya adalah budaya Belanda atau budaya Eropa.

Ricky menambahkan, “Apakah Indonesia tidak mampu membangun istana sendiri? Apakah Indonesia tidak ingin membangun istana yang mencerminkan budaya Indonesia? Bukankah Istana Negara juga akan menunjukkan jatidiri dan peradaban bangsa yang khas Indonesia?”

Indonesia bukan negara miskin. Menurut Ricky, “Untuk membangun istana baru, sebenarnya bukanlah persoalan sulit. Persoalannya hanyalah mau atau tidak.”

Ricky menambahkan, “Istana baru harus dibangun untuk menjadi citra Indonesia, bercorak khas Indonesia. Corak itu bisa dituangkan dalam arsitekturnya yang berisi falsafah, simbol-simbol budaya, keragaman, dan lain-lain. Bisa juga mengambil model Istana Majapahit, dikombinasikan dengan model Borobudur, Prambanan, atau unsur Masjid Demak.”

Kobarkan semangat rebranding
Masih diliputi semnagat memperingati Hari Sumpah Pemuda, Ricky Sutanto mengungkapkan kembali persoalan pentingnya melakukan rebranding terhadap nama Indonesia, bendera, dan lagu kebangsaan. Itu semua juga bagian untuk mempertegas citra Indonesia di mata dunia.

“Nama Indonesia itu sebenarnya tidak mencerminkan identitas Nusantara, baik secara historis maupun secara filosofis. Sejara historis, nama Nusantara jauh lebih tua. Nama Indonesia, dipopulerkan oleh George Samuel Windsor Earl (1813-1865), seorang ahli etnologi dari Inggris,” ujarnya.

Pada 1850, Windsor Earl menjadi salah satu redaksi Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA) dan menulis sejumlah artikel dengan menyebut wilayah Nusantara dengan nama “Indunesia” untuk menyebut Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu sebagai nama khas (a distinctive name).

Namun, nama itu sebenarnya menjadi rancu dengan sebutan untuk wilayah India, Ceylon (Srilanka), dan Maldives (Maladewa) yang sebenarnya lebih cocok disebut “Indunesia”. Windsor Earl sendiri justru merekomendasikan nama “Melayunesia” yang artinya negeri orang Melayu.

Namun malangnya, “Indunesia” dipungut lagi oleh penulis lain yang bernama James Richardson Logan sehingga makin populer. Ia juga menganti huruf “u” dengan huruf “o”. Nama “Indonesia” kemudian tersebar dan populer di Nusantara, padahal maknanya tidak tepat.

“Selain nama Indonesia, bendera Indonesia juga bermasalah. Di dunia, Merah Putih bukan hanya bendera Indonesia saja. Bendera Monako juga Merah Putih. Masak hal ini mau dibiarkan terus,” sambung Ricky.

Dalam berbagai kesempatan, Ricky mengusulkan agar bendera Indonesia diubah. Ia menyatakan, “Sempurnakan Sang Saka Merah Putih dengan menyematkan lambang Garuda Pancasila di dalam bendera Merah Putih! Ciri khas Indonesia dengan sendirinya akan terwujud!”

Dengan penambahan lambang Garuda Pancasila, menurut Ricky, “Indonesia tidak perlu lagi diperdebatkan lagi. Dasar negaranya sudah jelas Pancasila. Tak boleh ada yang mengganggu atau mengganti dasar negara kita.”

Terakhir, Ricky ternyata juga menyoroti lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Saat Sumpah Pemuda berlangsung, untuk pertama kalinya lagu “Indonesia Raya” diperdengarkan oleh WR Soepratman walau hanya dengan instrumen biola yang ia mainkan sendiri.

Lagu gubahan WR Soepratman kemudian dikenal oleh seluruh rakyat Indonesia karena dimuat dalam harian Sin Po pada edisi 10 November 1928 dengan judul “Indonesia”. Harian itu dicetak hingga 5.000 eksemplar.

Menurut Ricky, syairnya lagu kebangsaan haruslah melambangkan jiwa dan cita-cita bangsa Indonesia. Lagu itu lahir dari refleksi perjuangan rakyat Indonesia untuk meraih kedaulatan melalui penggubahnya, Wage Rudolf Soepratman.

Namun, menurut Ricky, ada beberapa kata yang sebaiknya disempurnakan. Pada baris pertama stanza pertama, disuarakan “tanah tumpah darahku”. Di mata Ricky, pemilihan kata “tumpah darah” justru memberikan pralambang yang tidak baik bagi Indonesia.

“Kata itu seperti halnya doa yang diramalkan bahwa Indonesia akan selalu diliputi pertumpahan darah. Itulah yang ikut melahirkan energi negatif,” tutur Ricky.

Masih pada stanza pertama disuarakan, “Di-sana-lah aku berdi-ri.” (nada meninggi) Lalu, “Jadi pandu i-bu-ku.” Sebutan “Di sanalah” dan “aku” dipertanyakan oleh Ricky.
“Seharusnya menggunakan kata “Di sinilah” dan “kita”. Indonesia adalah tanah air kita dan di sinilah kita berdiri,” jelas Ricky.

Contoh terakhir adalah pada bagian penutupan lagu. Disuarakan, “Hiduplah Indonesia Raya.” Menurut Ricky, kata “raya” pada akhir baris penutup tersebut tidak perlu. “Negara kita bernama ‘Indonesia’ bukan ‘Indonesia Raya’. Tidak ada negara di dunia ini bernama Indonesia Raya,” pungkas Ricky.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?