• News

  • Rebranding

Mengubah Nama Negara Lebih Penting dari Persoalan HIV?

Raja Mswati III
plukme
Raja Mswati III

JAKARTA, NNC - Seperti dilansir BBC, pada 19 April 2018, terjadi peristiwa bersejarah di negara yang dikenal dengan nama Swaziland. Penguasa negara kecil yang terletak di bagian Selatan Benua Afrika ini menyatakan untuk mengubah nama negaranya, dari Swazilandmenjadi eSwatini.

"Jadi, mulai sekarang negara ini akan secara resmi dikenal sebagai Kerajaan eSwatini," demikian pidato Yang Mulia Raja Mswati III di depan khalayak di sebuah stadion di negeri itu.

Alasan Raja Mswati III mengeluarkan keputusan tersebut antara lain untuk memperjelas identitas negara yang menurutnya sering membuat masyarakat luar negeri salah persepsi dan tertukar dengan negara lain yang mirip dengan namanya, yaitu Switzerland atau Swiss.

Selain itu, nama baru tersebut dianggap lebih sesuai dan mewakili latar belakang budaya asli mereka. Sebutan eSwatini berarti “rumah orang-orang Swazi”. Sebutan itu diharapkan juga untuk menegaskan kedaulatannya dari penjajahan Inggris, sejak 6 September 1968.

Namun demikian, perubahan nama tersebut bukanlah sesuatu yang semudah membalikkan tangan. Banyak konsekuensi dan biaya yang tak murah harus ditanggung akibat keputusan itu.

Negara dengan jumlah pengidap HIV tertinggi

Negara eSwatini memiliki luas wilayah seluas 17.364 kilometer persegi dan dihuni oleh sekitar 1,5 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk yang relatif kecil, semestinya negeri ini bisa mudah dikelola. Namun, ternyata tidak demikian.

Penduduk eSwatini sangat bergantung pada sektor pertanian yang telah menyumbang 70 persen pemasukan negara. Jenis produk pertanian unggulan antara lain gula kristal putih (rafinasi).

Hasil produk pertanian diekspor ke negara lain di Afrika. Artinya, secara ekonomi, eSwatini, relatif cukup baik dibanding negara-negara tetangganya di Afrika. Namun, negeri ini memiliki masalah serius, yaitu merupakan salah satu negara dengan Human Immunodeficiency Virus atau pengidap HIV tertinggi di dunia.

Berdasarkan laporan International AIDS Society tahun 2011, sebesar 31 persen dari total penduduk yang berusia 18 hingga 49 tahun dinyatakan telah menjadi pengidap HIV. Pemerintah bekerja sama dengan lembaga Penanggulangan AIDS Global telah bekerja keras mengatasi persoalan tersebut.

Hasilnya memang tidak sia-sia. Setelah dilakukan kajian ulang, pada 2016 jumlah pengidap HIV telah turun menjadi 27 persen. Salah satu program di balik kesuksesan tersebut adalah dengan gencar mensosialisasikan penggunaan obat-obat antiretroviral atau pengobatan untuk perawatan infeksi akibat HIV.

Namun, penyebab tingginya jumlah pengidap HIV di negeri ini tetaplah menjadi teka-teki yang menarik untuk disingkap. Budaya apa yang menyebabkan satu dari tiga orang dewasa di eSwatini bisa terjangkit HIV? 

Pro-kontra perubahan nama negara

Keputusan Raja Mswati III merubah nama Swazilandmenjadi eSwatini ternyata tidak disetujui oleh semua rakyatnya. Sebagian rakyat kurang setuju dengan keputusan itu.

Ada yang melihat dari dampak besarnya biaya, ada pula yang berpendapat bahwa lebih penting menuntaskan masalah HIV dibanding persoalan mengubah nama negara.

Bheki Makhubu, seorang jurnalis majalah lokal di Swaziland, The Nation, mengkritik dengan menyebutkan bahwa raja seolah memperlakukan eSwatini sebagai milik pribadinya. Ia menyebut keputusan perubahan itu sebagai sesuatu yang "horor".

Sementara, menurut Darren Olivier, seorang pengacara sekaligus intelektual di Afrika Afrika Selatan, perubahan identitas negara akan melahirkan biaya yang tidak sedikit. Jumlah biaya yang harus dikorbankan, menurut Darren, akan mencapai sekitar US$6 juta.

Memang, kebijakan perubahan nama negara otomatis akan berdampak ke semua bidang kehidupan, mulai dari administrasi pemerintahan, lembaga ekonomi, biaya perubahan pemasaran, dan lain-lain. Jumlah biaya untuk semua proses itu, menurut Darren, bukanlah persoalan sederhana bila harus ditanggung negara kecil seperti eSwatini.

Menanggapi banyaknya rumor dan pro-kontra yang beredar di masyarakat, lembaga pemerintah eSwatini  berusaha mengirimkan pesan dan menyatakan bahwa perubahan nama tidak akan terlalu mengganggu dan tidak akan menimbulkan biaya yang mahal.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri eSwatini, Putri Tsandzile Dlamini, mengatakan bahwa penggantian nama akan dilakukan secara bertahap untuk menekan biaya yang ditimbulkan.

Sebagai contoh, kop surat pemerintah yang masih menggunakan kata "Swaziland", masih akan digunakan sampai adanya anggaran untuk perubahan tersebut. “Perlu beberapa waktu sampai kami menghabiskan stok," katanya di hadapan media massa setempat.

Walaupun penjelasan dan sosialisasi perubahan nama negara gencar dilakukan oleh lembaga pemerintah eSwatini, sejumlah pelaku ekonomi di negara itu masih belum sepenuh hati menerimanya. Bahkan, Andrew Le Roux, Presiden Federasi Pengusaha di eSwatini pernah memberikan kritik pedas.

Ia sempat menyebut Raja Mswati III dengan istilah “playboy”. Mungkin ia ingin menggarisbawahi tentang perilaku Raja Mswati III yang terkenal gemar menikahi perempuan muda walau ia sudah berusia 50 tahun dan telah memiliki sedikitnya 14 istri.

Bahkan, pada April 2018 lalu, salah satu istrinya dilaporkan telah meninggal akibat bunuh diri di salah satu kamar istana raja. Selang beberapa hari berikutnya, Raja Mswati III berkeinginan mengubah nama negara. 

Walau begitu, Andrew Le Roux menyebutkan pula, “Identitas nasional yang dimodifikasi adalah kesempatan bagi Swazi (penduduk eSwatini, red) untuk menentukan siapa mereka dan bagaimana mereka ingin dilihat di dunia.”

Ia juga mempertanyakan apakah dengan perubahan tersebut berati eSwatini telah terlahir kembali dan tetap ramah bagi pelaku bisnis seperti drinya? Kalau memang demikian, mungkin biaya yang ditimbulkan bisa ditebus secara bertahap.

Namun, alangkah disayangkan, seandainya kebijakan perubahan itu hanyalah sekadar pengalihan isu yang menjadi perhatian dunia, terkait tingginya pengidap HIV dan budaya poligami sang raja, yang semestinya dituntaskan oleh pemerintah dan rakyat di negara itu tanpa harus repot-repot mengubah nama negaranya.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?