• News

  • Rebranding

Rebranding Negeri ‘Manusia Kerdil’ Terjadi Akibat Praktik Kolonialisme

Kampung manusia kerdil (Hobbit) di Waikato, Selandia Baru
newzealand.com
Kampung manusia kerdil (Hobbit) di Waikato, Selandia Baru

JAKARTA, NNC - Pada mulanya, negara ini bukan bernama Selandia Baru atau New Zealand. Penduduk asli yaitu suku Maori, menyebutnya Aotearoa. Namun akibat penjelajahan samudera oleh bangsa Eropa, disusul kemudian dengan praktik kolonialisme, Aotearoa berubah namanya.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Mengapa Suku Maori menerima perubahan nama itu? Mari kita tengok sejarah Selandia Baru yang terkenal juga sebagai negeri manusia kerdil atau Hobbit seperti digambarkan dalam film The Lord of The Rings (LOTR).

Dan perlu diketahui, di Selandia Baru terdapat kampung laksana desa Hobbit yaitu di Pulau Utara, Selandia Baru, tepatnya di kawasan Waikato. Di sanalah The Shire dibangun dan menjadi objek wisata unggulan di negara tersebut.

Suku Maori menamainya Aotearoa

Pada mulanya, Selandia Baru dihuni oleh Suku Maori. Mereka menamai negerinya sebagai Aotearoa, yang berarti 'Negeri Awan Putih'.

Dalam sejarah lisan suku Maori, penjelajah pertama yang tiba di Selandia Baru bernama Kupe. Ia berhasil mengarungi samudera dengan menggunakan waka hourua (kano pelayaran) dari Hawaiki hingga berlabuh di Hokianga Harbour, Northland, sekitar 1000 tahun yang lalu.

Diperkirakan Hawaiki berada di daerah Polinesia di Samudra Pasifik Selatan. Hal ini didasarkan dari adanya persamaan budaya di antara bahasa Maori dengan bahasa di Polinesia, termasuk Cook Islands, Hawaii, dan Tahiti.

Kaum Maori dikenal sebagai pemburu dan nelayan ulung. Mereka juga mengonsumsi sayuran, umbi-umbian, dan buah beri.

Namun, walaupun berasal dari satu suku, sebelum bangsa Eropa datang, mereka terpecah dalam beberapa kelompok. Dan antar kelompok sering terjadi konflik. Akibatnya, mereka juga sudah mengenal seni dan teknologi (senjata) perang seperti taiaha (mirip tombak) dan mere (mirip gada).

Praktik Kolonialisme

Sebenarnya, bangsa Eropa yang pertama tiba di Selandia Baru adalah penjelajah asal Belanda, yaitu Abel Tasman. Ia menjelajah samudera untuk mencari sumber mineral. Dan pada 1642, ia menemukan kepulauan Selandia Baru.

Abel Tasman kemudian menamainya “Staten Landt” namun kemudian diubah menjadi “New Zealand”. Ulah yang dilakukan Abel Tasman tanpa menghiraukan suku Maori yang sebenarnya sudah memiliki sebutannya sendiri.

Perjumpaan Abel Tasman beserta anak buahnya dengan suku Maori terjadi di puncak South Island (Pulau Selatan), yang sekarang disebut Golden Bay. Namun perjumpaan itu melahirkan kesalahpahaman yang mengakibatkan pertempuran dan empat anak buah Tasman tewas.

Karena pencarian mineral tidak berhasil, Abel Tasman kemudian memutuskan meninggalkan New Zealand. Saat tiba di Batavia (Jakarta) pemerintah Dutch East Indies (Hindia Belanda) menganggap misinya gagal karena “harta karun” tidak berhasil ditemukan.

Tiba di New Zealand berikutnya adalah Kapten James Cook, dari Inggris pada tahun 1769. Cook kemudian memetakan daerah itu. Temuannya kemudian tersebar luas sehingga banyak orang Inggris berdatangan ke New Zealand dan membangun pemukiman.

Sekitar tahun 1840, pemukiman orang Inggris semakin berkembang. Mereka adalah para nelayan pemburu paus dan anjing laut, misionaris, dan para pedagang.

Para pendatang itu kemudian berinteraksi dengan suku Maori dan melakukan pertukaran (perdagangan). Dalam proses ini, orang Maori sebenarnya dirugikan. Hanya saja, tidak disadari.

Orang Inggris sering menjual persenjataan kepada orang Maori yang sedang perang antar kelompok. Akibat senjata yang dipasok itu, banyak anggota suku Maori yang terbunuh. Selain karena penyakit, perang dengan senapan dari Inggris ikut menyebabkan jumlah suku Maori berkurang drastis.

Perjanjian Waitangi

Hingga pertengahan abad ke-19, diperkirakan jumlah orang Maori adalah 125.000 jiwa, sedangkan orang Eropa (terutama Inggris) berjumlah 2.000 jiwa.

Walaupun jumlah orang Inggris lebih sedikit, tetapi mereka semakin mendominasi dalam setiap interaksi dengan suku Maori. Sehingga pada 6 Februari 1840 dilakukan perjanjian Waitangi yaitu suatu perjanjian antara Kerajaan Inggris dengan sekitar 500 kepala suku Maori.

Pasal-pasal dalam perjanjian itu memuat tiga hal pokok yaitu: bahwa Ratu (atau Raja) Britania Raya memiliki hak untuk memerintah di Selandia Baru; bahwa para kepala suku Maori akan tetap memiliki tanah air dan kepemimpinan mereka, dan sepakat untuk menjual lahan mereka hanya kepada monarki Inggris; dan bahwa seluruh suku Maori memiliki hak yang sama sebagai warga negara Inggris.

Perjanjian itu bukan lagi membuat damai tetapi justru melahirkan konflik berdarah sepanjang abad ke-19. Rangkaian konflik itu dikenal sebagai sejarah Peperangan Selandia Baru, antara orang Maori dengan orang Inggris.

Hasil akhirnya dapat diketahui. Walau harus menanggung banyak kerugian di kedua belah pihak, namun orang Inggris justru semakin berjaya.

Terjadilah penyitaan lahan dan penjualan lahan kepada orang Inggris semakin merajalela. Dan sebagian besar lahan di Selandia Baru dimiliki dan dikuasai oleh Kerajaan Inggris hingga sekarang. 

Kondisi masa kini

Smemasuki tahun 1975, situasi New Zealand relatif sudah berubah. Konflik akibat perjanjian Waitangi diselesaikan melalui Pengadilan Waitangi. Dalam pengadilan itu banyak hak-hak iwi (suku) Maori dipenuhi dan banyak kasus kompensasi juga dikabulkan.

Orang Maori dengan orang Inggris berbaur dalam proses asimilasi yang baik. Mereka ini kemudian secara perlahan melahirkan ikatan persatuan senagai bangsa. Orang-orang (bangsa) Selandia Baru kemudian mampu memiliki identitasnya.

Mereka terus berupaya mandiri dari bayang-bayang Kerajaan Inggris dan Amerika Serikat (Sekutu). Negara yang aslinya bernama Aotearoa itu kemudian menjadi zona bebas nuklir, lengkap dengan pasukan penjaga perdamaian di kawasan Pasifik. 

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?