• News

  • Rebranding

Seharusnya, Capres-Cawapres Pemilu 2019 Mengusulkan Mengubah Bendera Indonesia

Debat capres keempat yang mempertemukan Joko Widodo dengan Prabowo Subianto
Netralnews-Adel Manafe
Debat capres keempat yang mempertemukan Joko Widodo dengan Prabowo Subianto

JAKARTA, NETRALNEWS-COM - Nama negara bisa dikenal dengan mudah dengan mengetahui bendera, lagu kebangsaan, mata uang, dan sebagainya. Untuk Indonesia, bendera khasnya adalah Sang Saka Merah Putih.

Namun, benarkah semua orang di dunia tidak akan salah tebak saat melihat bendera Merah Putih? Benarkah mereka pasti mengansumsikan bendera itu adalah bendera Indonesia? Bagaimana kalau salah?

Pertanyaan itu bukan mengada-ada karena kita semua sudah tahu bahwa di dunia ini, bendera Merah Putih bukan hanya menjadi milik Indonesia. Warna merah putih juga menjadi bendera negara Monako.

Ada satu lagi yang mirip karena posisinya terbalik atau putih merah. Negara itu adalah Polandia.

Jadi, memang benar bahwa ketika warga dunia melihat bendera merah putih, mereka belum tentu dapat memastikan bahwa itu adalah bendera Indonesia. Bisa saja mereka menyebut negara Monako.

Dengan demikian, keistimewaan Sang Sangka Merah Putih menjadi ternodai karena tidak lagi menjadi penanda khas Indonesia. Dalam hal ini, bendera Indonesia memiliki kekurangan.

Maka bukan mengada-ada bila muncul gagasan pentingnya mengubah bendera negara Indonesia. Dan andaikata hal itu dilakukan, sebenarnya tidak merombak tatanan. Sebab, perubahan bisa dilakukan dengan cara yang paling tepat, berlandaskan, sehingga bisa memperjelas identitas bangsa Indonesia.

Gagasan perubahan bendera sudah  berulangkali disampaikan Ricky Sutanto, yang merupakan salah satu pendiri Blossom Group dan Netralnews.com.  

"Di dunia ini, setidaknya ada empat negara yang memiliki bendera mirip, bahkan ada yang sama dengan Indonesia," kata Ricky beberapa waktu lalu kepada NNC. Negara mana saja yang dimaksud oleh beliau?

Pertama adalah Polandia yang telah menggunakan bendera putih merah sejak 1919. Kedua adalah Singapura yang juga menggunakan warna dasar merah putih.

Bedanya, pada sudut kiri atas terdapat lima bintang dan bulan sabit. Bendera ini diperkenalkan pada rakyat Singapura sejak 3 Desember 1959.

Ketiga, tentu saja adalah negara Monako yang sama persis warnanya dengan Indonesia. Perbedaan hanya pada ukurannya atau perbandingan antara panjang dan lebarnya saja. Bendera Monako sudah digunakan secara resmi sejak 1339, namun dengan desain yang berubah-ubah.

Keempat adalah bendera negara Malta yang juga mengadopsi warna putih dan merah dengan formasi berjajar atau menyamping  dan dibubuhi sebuah Salib George di kiri atas. Bendera itu diberlakukan sejak 21 September 1964.

Oleh sebab itu, dalam berbagai kesempatan Ricky Sutanto mengusulkan agar pada bendera Merah Putih ditambahkan lambang Garuda Pancasila sehingga bendera Indonesia berbeda dengan Monako.

Mengapa lambang Garuda Pancasila? Sebab, lambang itu adalah lambang dasar negara Indonesia. Bila disematkan (bisa di atas, di tengah, atau di samping) maka otomatis akan membedakan dengan bendera lain.

Kelebihan lainnya adalah bahwa dengan cara itu, maka warga dunia juga akan mengetahui bahwa Indonesia adalah negara yang berbendera merah putih dan memiliki dasar negara Pancasila. Indonesia menjadi lebih mudah ditengarai.

Keberadaan Pancasila sebagai dasar negara mampu memayungi bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam budaya, suku, agama, dan ras adalah sangat penting. Pancasila adalah payung yang mempersatukan Nusantara.

Pancasila adalah cita-cita bersama yang mengikat semua bentuk impian penduduk dari Sabang sampai Merauke. Maka, tidak berlebihan jika ia ditempatkan secara terhormat di bendera negara Indonesia.

Satu lagi, dengan penambahan tersebut, tak ada lagi perdebatan tentang dasar negara Indonesia. Indonesia adalah negara Pancasila, bukan negara agama, bukan pula negara yang murni sekuler.

Indonesia yang berdasar Pancasila bersifat final. Justru karena itu perlu diberikan tanda yang tegas melalui lambang Garuda Pancasila yang tersematkan di bendera negara.

Dengan cara ini, upaya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi diperkuat. Upaya ini sekaligus menjadi wujud jargon “NKRI Harga Mati”.

Perlakuan terhadap Sang Saka Merah Putih sudah diatur dalam UU No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Dalam ketentuan itu, status lambang negara Indonesia adalah sangat terhormat. Sang Saka Merah Putih tidak boleh disepelekan.

Seperti disebutkan dalam Pasal 24a jo Pasal 66, “Setiap orang dilarang: (a) merusak, merobek, menginjak-injak, membakar, atau melakukan perbuatan lain dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Bendera Negara dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00.”

Pasal di atas adalah contoh bagaimana bangsa Indonesia memuliakan Sang Saka Merah Putih. Penghormatan itu rasanya akan semakin lengkap apabila sebagai negara Pancasila, pada Sang Saka Merah Putih disematkan lambang Garuda Pancasila.

Namun alangkah disayangkan, sepanjang Pemilu 2019, dari kedua kubu capres-cawapres, baik dalam kampanye maupun debat Pilpres 2019 yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) selama empat kali, tampaknya gagasan ini tidak pernah diangkat.

Kedua capres yang beradu program tak ada yang menyatakan untuk mengubah bendera. Apakah mereka tidak berani? Apakah tindakan itu belum dianggap prioritas? Apakah hal itu justru tidak membuat rakyat bersimpati?

Memang, mengangkat gagasan perubahan bendera belum tentu berdampak positif dalam konteks mendongkrak perolehan suara dalam pelaksanaan pemilu 17 April 2019 nanti. Namun, semoga, baik kubu Jokowi maupun Prabowo mau untuk mencermati gagasan tersebut.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?