Sabtu, 27 Mei 2017 | 22:34 WIB

  • News

  • Rebranding

Ide Mengubah Nama Negara: Indonesia Bukanlah Kesebelasan

Selasa, 11 Oktober 2016 | 14:49 WIB
Negara Kesatuan Republik Indonesia (webedukasi.com)
Negara Kesatuan Republik Indonesia (webedukasi.com)

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS - "Indonesia bukan kesebelasan sepakbola yang namanya bisa dengan mudah diubah. Menyebut sebuah nama Indonesia, itu melalui proses yang panjang, dengan darah dan perjuangan," kata Supardi dengan mata berkaca-kaca.

Pernyataan pria renta mantan pejuang di kesatuan KKO (sekarang marinir) ini, layak untuk direnungkan. Perebutan kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajahan tidaklah mudah. "Perlu pengorbanan ," tuturnya lirih.

Tak cuma dia. Mungkin masih banyak Supardi-Supardi lainnya, di luar sana, yang tak ridho nama Indonesia diubah.

Banyak pertanyaan ikutannya. Misalnya, bagaimana dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya jika nama Indonesia benar-benar diganti? Apakah bangsa ini masih ada jika Indonesia adalah bagian integral dari penduduknya dengan tanah tumpah darahnya, dan dengan Ibu Pertiwi-nya?

Apakah pula negeri ini masih ada bila Indonesia diganti di tengah-tengah gagasan separatisme?

Ide mengubah nama Indonesia pernah dikemukakan Arkand Bodhana Zeshaprajna. Dengan dalih rendahnya kualitas struktur nama Indonesia, Arkand melontarkan wacana mengubah nama Indonesia menjadi Nusantara.

Sejarahwan Baskoro Raden mengatakan, perubahan nama Indonesia menjadi Nusantara bisa saja dilakukan, tapi hendaknya harus dilakukan kajian yang mendalam.

Nama Indonesia, kata dia, tak bisa dilepas dari sejarah dan proses kemerdekaan.

Dikisahkan pada tahun 1922 atas inisiatif pemuda Mohammad Hatta, yang mengenyam pendidikan di Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam nama Indische Vereeniging, berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia.

Dalam sebuah tulisan, Hatta muda menegaskan, "Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut Hindia Belanda. Juga tidak Hindia saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."

Sementara itu, sambung Baskoro, di tanah air Dr Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Pada tahun 1925, Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). "Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama Indonesia," katanya.

Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Hindia Belanda agar nama "Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Tetapi Belanda menolak mosi ini.

Dengan jatuhnya tanah air ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda”. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, lahirlah Republik Indonesia.

Sebelumnya, Arkand Bodhana Zeshaprajna dalam situsnya, Arkand.com mengusulkan agar nama negara Indonesia diganti menjadi Nusantara. Bukan tanpa alasan bagi Arkand untuk mengganti nama republik ini yang sudah terlanjur melekat itu.

Menurut Arkand, nama Indonesia hanya memiliki Synchronicity Value sebesar 0.5 dan Coherence Value 0.2 yang menunjukkan rendahnya kualitas struktur nama tersebut. Dalam situsnya itu, Arkand juga menjelaskan apa itu Synchronicity Value dan Coherence Value.

Sebagai perbandingan, dalam lamannya itu Arkand juga memberikan tabel negara-negara yang memiliki nama Synchronicity Value dan Coherence Value yang baik. Negara yang memiliki Synchronicity Value dan Coherence Value tinggi maka pendapatan perkapitanya juga tinggi.

Menurut Arkand, kata Indonesia bukan berasal dari orang Indonesia atau pribumi. Hal ini membuat perjalanan bangsa kini menjadi terseok-seok.

"Asal-usul kata yang ternyata bukanlah hasil karya putra bangsa dan struktur kata yang ternyata tidak baik, yang terbuktikan dengan kondisi bangsa dan negara hingga saat ini yang semakin buruk membangkitkan pemikiran untuk mengganti nama negara Indonesia," ujar Arkand.

Dikatakannya, banyak kebudayaan di dunia yang mengganti nama seseorang yang sering sakit pada masa anak-anak. Begitupun dengan negara, jika bangsanya sering sakit-sakitan, maka mengganti nama negara bisa jadi solusi.

"Jika di banyak budaya di dunia yang mengganti nama seseorang yang sering sakit pada masa anak-anak melalui pendekatan budaya dan religiusitas, maka saat ini kita mendekatinya juga melalui pendekatan budaya, religiusitas dan ilmu pengetahuan. Tiga pendekatan ini menemukan satu kata: Nusantara," tutup Arkand.

Reporter : Wahyu Praditya Purnomo
Editor : Hila Japi

Apa Reaksi Anda?