Kamis, 22 Juni 2017 | 21:09 WIB

  • News

  • Rebranding

Perlukah Merah Putih Diubah? Ini Komentar Solihin GP

Tokoh masyarakat Sunda yang juga mantan Gubernur Jawa Barat periode 1970-1975,Solihin GP (Netralnews/Sesmawati)
Tokoh masyarakat Sunda yang juga mantan Gubernur Jawa Barat periode 1970-1975,Solihin GP (Netralnews/Sesmawati)

BANDUNG, NETRALNEWS.COM - Bendera  itu hanyalah sepotong kain yang dikibarkan di sebuah tiang.  Umumnya bendera digunakan secara simbolis untuk memberikan sinyal atau identifikasi. 

Dalam konteks kenegaraan, bendera sering digunakan untuk melambangkan identitas suatu Negara, untuk menunjukkan kedaulatannya.

Indonesia punya bendera, namanya Bendera Merah Putih. Bendera ini menjadi lambang negara setelah melalui proses yang panjang.

Bendera Indonesia memiliki makna filosofis. Merah berarti berani, dan putih berarti suci. Merah melambangkan tubuh manusia, dan  putih melambangkan jiwa manusia. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan untuk Indonesia. 

Sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, untuk pertama kalinya secara resmi Bendera Merah Putih dikibarkan oleh Latief Hendaningrat dan Suhud. S. 

Bendera tersebut merupakan hasil jahitan Ibu Fatmawati Soekarno dan selanjutnya bendera inilah yang disebut “Bendera Pusaka.” 

Kini 71 tahun Indonesia merdeka. Banyak hal telah berubah.  Bersamaan dengan pesatnya kemajuan zaman dan teknologi, segala sesuatu yang berbau sejarah dipertanyakan, termasuk mempertanyakan apa yang telah ditorehkan para pendiri bangsa ini.

Banyak bangsa mengubah warna dan logo bendera, karena tidak sesuai dengan filosofi di zaman modern. Salah satu yang dipertanyakan adalah bendera Merah Putih

Ada yang menginginkan rebranding bendera Merah Putih dengan menambahkan logo Burung Garuda  di tengah-tengah.

Terkait ini, mantan Gubernur Jawa Barat (Jabar),  Solihin  GP tidak setuju kalau Bendera Merah Putih itu ditambahkan logo burung garuda di tengah-tengahnya.

“Kalau saya sih, kalau sekian negara lain juga memakai merah putih, lantas kita mau menunjukkan bahwa kita ini merah puith. Kita harus mampu mempertahankan keaslian,” ujar pria yang akrab disapa Mang Ihin  kepada Netralnews.com di kediamannya di Bandung, Jawa Barat, Senin (31/10/2016).  

Solihi GP, yang juga tokoh masyarakat  Sunda, mengatakan, koruptor semakin merajalela karena makin jauh dari Pancasila.

“Kenapa timbul koruptor, kenapa timbul tawuran-tawuran antar kita-kita ini, antara rakyat? Itu karena kita menjauhkan diri  dari Pancasila. Makin kita jauh dari Pancasila, makin rusak kita,” jelasnya.

“Jadi sebaiknya kita bisa mempertahankan Pancasila dalam segala kemurnian. Ini semuanya kalau memikirkan tambahan-tambahan, kita bisa bertambah rusak,” kata tokoh masyarakat Sunda yang juga mantan Gubernur Jawa Barat periode 1970-1975, dan Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan (Sesdalopbang)  di era Soeharto ini.

Reporter : Sesmawati
Editor : Marcel Rombe Baan

Apa Reaksi Anda?