• News

  • Romansa

Mengenang Ende, Kota Jejak Inspirasi Bung Karno Melahirkan Pancasila Untuk Indonesia

Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila berlangsung penuh khidmat di Lapangan Pancasila, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (1/6/20180.
Sindonews
Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila berlangsung penuh khidmat di Lapangan Pancasila, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (1/6/20180.


ENDE, FLORES, NNC - Semburan sinar mentari pagi menembus pori-pori tubuh ribuan masyarakat yang melebur bersama sejumlah anggota TNI dan Polri di kota Ende, kampung lahirnya benih Pancasila dari rahim Bung Karno hari itu.

Pagi itu, di Taman Rendo, tempat dimana Bung Karno menemukan inspirasi hingga mencetuskan Pancasila sebagai lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ribuan massa yang dengan penuh antusias, melebur bersama sekelompok Tentara Nasional Indonesia  dan Polisi Republik Indonesia. Mereka terlihat antusias memaknai  arti Pancasila yang telah tumbuh dan terus dibudidayakan atau disosialisasikan oleh generasi bangsa hingga detik ini bahkan hingga akhir zaman di tanah nusantara.

Upacara hari itu dipimpin langsung oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, didampingi istri tercinta Erni Guntarti. Hadir pula Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pereira, Gubernur NTT Frans Lebu Raya dan sejumlah unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) NTT dan Ende sebagai tuan tanah Inspirasi Bung Karno Melahirkan Pancasila untuk Indonesia tercinta.

Mantan Sekjen DPP PDI Perjuangan Tjahjo tampak elegan dalam balutan busana adat tenun  khas Ende. Bersama  sejumlah pejabat lain secara khusus mengenakan kain menyerupai sarung yang disebut Ragi Lambu. Sementara di bagian kepala tampak mengenakan Lesu.

"Sejarah membuktikan seorang tokoh nasional pernah diasingkan oleh penjajah Belanda di Kota Ende. Tapi dengan api dan semangat yang ada di tanah ini, Bung Karno bisa melihat detak denyut nafas seluruh Nusantara dari Sabang sampai Merauke,” urai Tjahjo mengawali sambutan selaku inspektur upacara.

Tjahjo menguraikan, bahwa nilai-nilai budaya falsafah dari seluruh Nusantara, kemudian, dirangkai oleh Bung Karno ke dalam bentuk sila sila Pancasila.

Mantan Sekjen DPP PDI Perjuangan itu juga mengingatkan pesan Bung Karno, manusia penting memiliki imajinasi dan impian. Karena dengan imajinasi dan impian seseorang punya konsepsi, gagasan dan ide-ide.

“Dengan konsepsi dan gagasan seseorang bisa melaksanakan apa yang menjadi konsepsi dan pikiran untuk membangun. Itulah impian dan imajinasi Bung Karno saat diasingkan di Kota Ende yang bersejarah ini," ujarnya mengisahkan.

Tjahjo melanjutkan, pesan Presiden Joko Widodo agar masyarakat setiap saat mengamalkan nilai-nilai Pancasila yang digali oleh Bung Karno di Kota Ende, sehingga mampu menjadi bintang pemandu bangsa Indonesia selamanya.

“Selama 73 tahun Pancasila sudah bertahan dan tumbuh didera ombak energi lain yang berusaha menggesernya. Tapi Pancasila yang dari akar budaya bangsa Indonesia, mampu mempertahankan keutuhan NKRI. Insya Allah sampai akhir zaman," kata Mendagri Tjahjo.

Usai memimpin upacara, Tjahjo didampingi istri, Hasto, Andreas, Frans dan sejumlah pejabat lain berjalan menuju Pohon Sukun yang terdapat di Taman Rendo, tempat Bung Karno berkontemplasi hingga melahirkan Pancasila.

Taman ini juga dikenal dengan sebutan Taman Perenungan. Di dalamnya terdapat sekitar 15 pohon besar didominasi Pohon Beringin dan sebuah Pohon Sukun.

Menurut informasi, bahwa Pohon Sukun yang ada saat ini bukan lagi yang dulu sering dijadikan Bung Karno sebagai tempat berteduh. Pohon yang ada sekarang ditanam sekitar 1980, menggantikan pohon lama yang punah dimakan usia.

Uniknya, pohon yang ada saat ini bercabang lima, menggambarkan lima sila dari Pancasila. Pohon dipagari dinding batu setinggi satu meter. Pada salah satu sisinya terdapat prasasti bertuliskan, "Di kota ini kutemukan lima butir mutiara. Di bawah Pohon Sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai Pancasila.”

Selain itu, di taman ini juga terdapat patung Bung Karno dengan posisi duduk di kursi panjang menghadap ke arah pantai. Letaknya persis di atas kolam berbentuk persegi panjang.

Setelah meninjau lokasi permenungan itu, Tjahjo bergeser, berjalan kaki menuju rumah pengasingan Bung Karno. Sebuah rumah tua yang terletak di Jalan Perwira, berjarak sekitar 300 meter dari Taman Perenungan yang melahirkan Pancasila untuk Indonesia.

Sebelum masuk ke dalam rumah dengan luas areal sekitar 9 x 12 meter tersebut, mantan anggota DPR ini disambut dengan upacara adat. Ia kemudian meresmikan "Patung Penggali Pancasila Ir Soekarno".

Diketahui, Patung setinggi lima meter itu ditempatkan persis di pekarangan depan sebelah kanan, menghadap ke jalan.

"Ini rumah inspirasi, harus dilestarikan. Saya kira sangat baik anak-anak usia sekolah wajib melihat detail sejarah, cerita sampai Pohon Sukun. Insipirasi bagi anak-anak muda, walau diasingkan pikiran Bung Karno terus berjalan untuk bangsa ini," imbuhnya.

Usai meresmikan patung Bung Karno, Tjahjo dan rombongan kemudian berkeliling di dalam rumah. Melihat satu persatu barang bersejarah yang pernah digunakan Soekarno -Bung Karno saat selama masa  pengasingan.

Pada bagian paling belakang, masih terdapat sebuah sumur tua sedalam lebih kurang sepuluh meter. Hampir semua pengunjung terlihat menggunakan air yang ada untuk membasuh wajah.

Sumur ini masih mengeluarkan air dengan baik, sama seperti saat Soekarno diasingkan selama empat tahun di Ende, sejak 1934 lalu. Terima Kasih Bung Karno, Semoga nilai-nilai Pancasila terus dimaknai dan diresai oleh generasi bangsamu, NKRI.

Reporter : Dominikus Lewuk
Editor : Wulandari Saptono

Apa Reaksi Anda?