Kamis, 23 November 2017 | 08:45 WIB

  • News

  • Rukun Suku Nusantara

Ingin Tahu Suku Dayak Primitif Berkaki Merah dan Kuburan Raksasa,  Ini Dia

Suku Dayak Punan berkaki merah
youtub
Suku Dayak Punan berkaki merah

KUTAI, KALIMANTAN TIMUR, NETRALNEWS.COM - Mengulas cerita tentang suku Dayak pada umumnya selalu penuh dengan tanda tanya. Apalagi bercerita dan berkisah tentang suku-suku Dayak pedalaman. Dan lebih khususnya lagi kalau soal suku Dayak Punan, sebuah suku yang masih primitif, meskipun sudah ada sekelompok suku Dayak Punan yang sudah mulai maju dan mulai hidup berbaur dengan masyaakat dari suku-suku lan di Kalimantan.

Salah satu kisah yang membuat siapa pun selalu tertarik tentang suku Dayak Punan, adalah informasi-informasi yang menyangkut ilmu-imu kesaktian, tata cara perkawinan, ilmu perang, dan salah satu yang menarik adalah informasi suku Dayak Punan Siau atau Ot Siau atau Punan berkaki merah yang katanya hingga kini masih ada. 

Anak suku Dayak Siau ini masih hidup dalam goa-goa yang boleh dikatakan angker. Orang-orang yang pernah ke goa-goa tempat tinggal mereka, sering terkagum-kagum akan cara dan filosofi menjalankan kehidupan mereka. Mereka juga bercerita tentang kehidupan religi dan kepercayaan atau keyakinan hidup mereka yang menyangkut leluhur. 

Yang menarik tentang suku Dayak Punan Siau, adalah sosok mereka yang dengan cirri-ciri khusus yang mereka miliki, seperti berkaki merah. Secara jelas suku Dayak Punan Siau dilukiskan sebagai orang Dayak yang berkaki merah yang tinggal di goa-goa yang penyebarannya mulai dari pedalaman Kalimantan Tengah hingga Kalimantan Timur. Warga menggambarkan, Punan Siau selalu menyalakan kayu bakar di dalam goa untuk perapian.

Suku Dayak Punan Siau ini merupakan suku yang masih primitif dan masih sangat tertutup dengan dunia luar. Bahkan dengan suku Dayak Punan yang lain pun mereka masih sulit atau tidak mau bergaul secara bebas. Suku Siau ini dilukiskan hanya mengenakan pakaian dari kulit kayu dan bisa berjalan cepat di antara tebing-tebing dan rerimbunan pohon di dalam hutan.

Menurut cerita,  hingga kini belum ada warga yang paham bahasa mereka. “Ketika dua warga Tumbang Tujang dibawa ke goa mereka, para Punan Siau ini hanya menggunakan bahasa isyarat, tidak mengeluarkan kata-kata dan bercerita banyak. Karena itu, sulit dimengerti apa sebenarnya yang terjadi pada mereka,” ungkapnya.

Punan berkaki merah mendiami goa-goa karena terdesak akibat penjajahan Belanda. Belanda telah membuat mereka takut dan mereka hingga kini tetap bersembunyi di dalam goa-goa. Warna kulit kaki mereka memang berwarna merah, tidak sama dengan kulit kaki manusia dari suku Dayak lainnya.

Hanya saja, perlu diingatkan,  jika ingin mencari goa mereka, jangan berpakaian modern atau membawa peralatan modern. Kalau mereka melihat orang yang dianggap aneh dan bukan dari kalangan sekitar, mereka biasanya akan melepaskan senjata sumpit.

Oleh karena itu, Samsi mengingatkan, siapa yang ingin menemui mereka sebisanya mengenakan pakaian pemburu dengan senjata tombak agar bisa menyerupai warga suku Punan. “Kalau dengan senjata tradisional seperti tombak dan mandau, mereka malah tidak akan menyerang kita,” kata seorang dari suku Dayak Punan yang lainnya ketika ditanya oleh sebuah tim ekspedisi.

Antropolog dari Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis (STT GKE) yang menggeluti masalah etnis Dayak, yang juga Direktur Eksekutif Lembaga Studi Dayak-21, Marko Mahin, mengingatkan agar berhati-hati menerima informasi yang masih simpang siur. “Bisa jadi itu hanya mitos,” katanya.

Bahwasanya juga, di sekitar goa-goa suku Dayak Siau itu terdapat kuburan orang zaman dulu dengan ukuran sangat besar. Sehingga ada yang mengatakan kalau zaman dulu pernah hidup manusia raksasa di situ. Dan ini perlu penelitian lebih lanjut. 

 

Editor : Thomas Koten
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?