• News

  • Rukun Suku Nusantara

Pesona Kecantikan Gadis Dayak yang Diselimuti Mistik

Gadis Dayak
inovasee
Gadis Dayak

PONTIANAK, NNC - Berbicara tentang suku Dayak tak pernah habis. Berjilid-jilid buku bisa kita kisahkan dan tuliskan. Baik tentang sukunya yang unik dan beragam, tentang kisah-kisah mistik yang menyelimuti suku Dayak, apalagi tentang perempuan-perempuan atau gadis-gadis suku Dayak yang penuh pesona.

Jadi, semacam ada stereotip yang mengena dengan suku atau perempuan atau gadis-gadis Dayak yang cantik-cantik, anggun, dan penuh pesona, yang tidak lain juga diselimuti aneka macam balutan mistisnya. Dayak dan mistis memang seperti tidak pernah terpisahkan.

Ada stereotip tentang suku Dayak juga gadis Dayak yang cenderung dibilang ganas dan beringas. Kadang-kadang sangat mengerikan, misalnya jangan macam-macam dengan perempuan atau gadis Dayak, dimana jika Anda atau seorang laki-laki  melakukan hal-hal yang aneh-aneh, jangan sentuh sembarangan. Anda bisa-bisa tidak bisa pulang kampung, atau alat kelamin alias gagang pacul Anda bisa hilang dan digantung di atap rumah. Woow, ngeri, tentunya.  

Apakah itu benar? Tentu tidak selamanya benar. Banyak juga yang mengatakan, itu hanya stereotip saja. Karena setelah lama bergaul dengan mereka, bayangan kejam dan ngeri itu tak terlihat sama sekali. Yang Anda temukan justru masyarakat Dayak yang ramah tamah dan cenderung pemalu.

Orang-orang Dayak, khususnya para gadis atau perempuannya sangat ramah dan sangat menghargai dan menerima pendatang dengan baik. Seperti mereka yang memilih mengalah ketika orang luar berbondong-bondong membalak hutan atau menggali kandungan tambang di tanah mereka. Mereka juga tak meributkan ketika sebagian warganya berpindah ke keyakinan yang dibawa pendatang.

Jika dipikir, semua pandangan negatif itu hanyalah satu bagian dari budaya "sawang sinawang" sebagian dari kita. Apalagi pasca kerusuhan etnis Sampit dulu, dengan mudah kita menggeneralisir pandangan tentang suku Dayak yang sadis. Buat banyak orang itu bukanlah simbol kebiadaban suku Dayak.

Editor : Thomas Koten

Apa Reaksi Anda?