• News

  • Rukun Suku Nusantara

Tradisi Tionghoa Menyimpan Abu, Bukan untuk Menyembah Leluhur

Ilustrasi rumah abu
Memorialparkheaven
Ilustrasi rumah abu

JAKARTA, NNC - Banyak orang, entah sadar atau tidak, menyebutkan bahwa orang Tionghoa “menyembah” arwah leluhur. Mereka menyimpan abu kremasi dari jenazah leluhur dan disimpan di rumah-rumah abu.

Pernyataan tersebut tidak tepat. Yang tepat adalah bahwa tradisi Tionghoa menyimpan abu kremasi adalah untuk “menghormati” lelulur mereka. Penghormatan tersebut merupakan bentuk ungkapan sayang, layaknya seorang anak yang tetap mencintai orang tuanya, walaupun sudah meninggal.

Tradisi  itu, hingga kini diteruskan oleh sejumlah warga keturunan etnis Tionghoa di Indonesia. Mereka biasanya menyediakan meja khusus untuk meletakkan abu leluhur di rumah mereka. Cara lainnya adalah disimpan di rumah khusus yang disebut sebagai rumah abu.

Contoh Komunitas Etnis Tionghoa yang mempertahankan tradisi itu antara lain di sekitar Tangerang dan Lampung. Komunitas Tionghoa di kawasan Pasar Lama, Tangerang, Banten, sering pula disebut sebagai Perkumpulan Keagamaan dan Sosial Boen Tek Bio atau Komunitas Cina Benteng.

Sedangkan di kawasan Kunyit Dalam, Teluk Betung, Bandar Lampung, seperti dilansir media budaya-tionghoa.net, terdapat pula rumah abu yang dikelola oleh Yayasan Rumah Abu Thung. Rumah abu ini didirikan oleh komunitas etnis Tionghoa marga Thung melalui gotong royong.

Rumah Abu untuk Reuni Keluarga
Tidak semua orang Tionghoa yang sudah meninggal dikremasi. Ada sebagian warga yang memilih menguburkan atau dimakamkan. Bagi yang memilih model kremasi, keluarganya akan mengumpulkan abu hasil kremasi.

Ada sebagian warga yang memilih untuk melarung atau menenggelamkan abu hasil kremasi ke lautan. Sebagian lainnya memilih memasukkannya dalam guci dan disimpan di meja rumah abu, lengkap dengan foto leluhur semasa masih hidup.

Sama halnya dengan model penghormatan di pemakaman atau kuburan, keluarga yang melarung abu, juga melakukan penghormatan dan doa secara rutin dengan mengunjungi laut. Demikian pula doa dan penghormatan bagi leluhur yang abunya disimpan di rumah abu.

Saat melakukan sembayang dan penghormatan di rumah abu, biasanya sambil mempersembahkan aneka makanan dan minuman yang diletakkan di depan guci atau depan foto almarhum. Tentu, sambil membakar hio atau dupa, seperti khasnya tradisi Tionghoa.

Keberadaan rumah abu menjadi sarana penting bagi komunitas Tionghoa. Keberadaan rumah abu memungkinkan sekali untuk berlangsungnya reuni keluarga secara berkala.

Anggota keluarga besar yang kemudian merantau dan ingin menghormati leluhur mereka, dapat dipastikan akan datang ke rumah abu untuk berdoa. Dengan cara ini, komunikasi dan pertemuan antaranggota keluarga besar dapat dijaga.

Saat-saat di mana seluruh anggota keluarga bisa berkumpul biasanya terjadi pada perayaan Ceng Beng. Perayaan ini biasanya rutin dilangsungkan setiap 5 April.

Dibangun dengan Gotong Royong
Etnis Tionghoa dari marga Thung yang ada di Teluk Betung, Lampung, juga mempertahankan tradisi penghormatan abu leluhur sebagai media mengumpulkan anggota keluarga dari marga Thung. Rumah abu tersebut dibangun secara gotong royong.

Selain saat perayaan Ceng Beng, kegiatan berkumpul di rumah abu untuk menghormati leluhur juga diadakan pada saat Chun Cie (setelah Ceng Beng) dan Chiu Cie (bulan purnama/Ci Ye Se U). Semua perayaan tersebut terkait dengan penghormatan kepada orang tua dan leluhur.

Tradisi marga Thung di Teluk Betung berasal dari tradisi di Kampung Sak Mun Liang, Kwang Tung, Tiongkok. Leluhur mereka kemudian merantau hingga sebagian membangun komunitas di Teluk Betung, sejak era Kolonial. Konon di daerah ini terdapat leluhur mereka yang paling awal merantau.

Suatu ketika, beberapa keturunan perantau dari Kwan Tung tersebut menginginkan mendirikan rumah abu. Tujuannya adalah agar mereka dapat berkumpul melakukan upacara penghormatan leluhur secara rutin setiap tahun.

Gagasan itu disambut positif oleh semua keturunan marga Thung, baik yang ada di Lampung maupun yang ada di luar Lampung. Mereka rata-rata sudah mempunyai gagasan tersebut, namun mengaku tak sanggup membangunnya sendiri.

Maka dibentuklah semacam panitia pembangunan. Panitia dikoordinir oleh Thung Khong Nyen. Pada tahun 1975, ia berhasil mengumpulkan tokoh-tokoh Tionghoa marga Thung dalam suatu pertemuan yang diadakan di Gedung Perkumpulan Hakka Metta Sarana, Lampung.

Beberapa tokoh yang ikut menghadiri pertemuan antara lain Thing Kim Siong, Thung Piang Yun, Thung Ce Yin, Thung Pun Jin,Thung Kwok Kwi, Thung Cen Cung, Thung Kwang Tat, Thung Kiang Min, Thung Thai, Thung Tat Chan, Thung Sak Sen, Thung Can Yung, Thung Cin Siong, Thung Piang Yun, Thung Pun Cau, dan Thung Ce Yung.

Melalui perjuangan yang tidak sederhana, upaya panitia mewujudkan keinginan bersama mulai menampakkan hasilnya. Pada tahun 1978, panitia berhasil memperoleh Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Wali Kotamadya Tanjung Karang, Teluk Betung, dengan nomor 432/1978.

Pembangunan pun berjalan dengan relatif lancar. Dana berhasil digalang dari donatur yang berasal dari sesama marga Thung yang tersebar di seluruh Indonesia. Di dinding rumah abu tersebut, dipajanglah foto-foto tokoh yang ikut andil dalam proses pendirian rumah abu.

Rumah abu kemudian menjadi salah satu sarana bersama yang dikelola oleh yayasan yang mereka bentuk pada 14 Mei 1978. Yayasan itu bernama Yayasan Rumah Abu Thung dengan nomor akta 84/1998.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagi sumber

Apa Reaksi Anda?