• News

  • Rukun Suku Nusantara

Orang Jawa Ingin Masuk Surga, Beginilah Caranya

Ilustrasi falsafah Jawa.
Wawartos
Ilustrasi falsafah Jawa.

JAKARTA, NNC - Sebelum Hindu-Budha dan Islam tersebar ke Nusantara, sebenarnya dalam budaya Jawa Kuno atau Kejawen sudah memiliki sistem kepercayaan tentang kehidupan setelah kematian. Kehidupan di akhirat sudah mereka rumuskan walaupun tidak menggunakan istilah surga dan neraka.

Dalam ilmu agama, seseorang yang mampu menjalani hidup di dunia dengan sebaik-baiknya, banyak bersedekah, tertib menjalankan ibadah, tidak korupsi, tidak berlaku curang, dan menyusahkan orang lain, setelah mati akan masuk surga. Sebenarnya tidak berbeda dengan falsafah Suku Jawa.

Berdasar kajian Sri Wintala Achmad dalam buku “Asal-Usul dan Sejarah Orang Jawa” (2017: 131-140), dapat diistilahkan bahwa orang Jawa yang ingin masuk surga harus mengetahui dan mencapai makna hidup yang terdalam.

Makna hidup orang Jawa biasanya dijabarkan dalam tiga konsep falsafah, yaitu falsafah sangkan paraning dumani (mengetahui tentang asal-usul dan tujuan hidup), falsafah manunggaling kawula-Gusti (bersatunya saya dengan Tuhan), dan falsafah kasampurnaning dumadi (hidup sempurna).

Dalam budaya Jawa, manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan empat unsur, yaitu tanah, api, angin, dan air. Masing-masing memiliki unsur yang menggerakkan manusia untuk menjalani hidupnya dari lahir hingga ajal berakhir.

Sementara itu, laksana perjalanan hidup, setiap orang harus tahu apa yang akan dituju, tak lain dan tak bukan adalah “manunggaling kawula-Gusti” atau mampu bersatu kembali dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta dan Pemberi hidup. Hanya Tuhan yang memberi hidup dan hidup harus kembali kepadaNya.   

Sementara untuk falsafah “kasampurnaning dumadi” atau hidup yang sempurna, kuncinya apabila seseorang mampu menjalani segala hidupnya berdasar spiritual mengabdi kepada Yang Maha Kuasa secara total. Manusia tidak boleh mengabdi pada nafsu dunia.

Falsafah tentang “kasampurnaning dumadi” biasanya diajarkan kepada generasi muda melalui kisah pewayangan. Salah satu tokoh teladan yang hidupnya sempurna adalah Prabu Yudistira atau Prabu Puntadewa, Raja Negeri Indraprasta.

Prabu Yudistira adalah pribadi yang sempurnya, baik terhadap sesama dan alam sekitarnya, serta baik kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ia mampu menyeimbangkan hidup secara horizontal (sesama manusia dan alam sekitarnya) dan secara vertikal (Tuhan). 

Walaupun seorang raja, selama masa hidupnya Prabu Yudistira digambarkan sebagai pribadi yang selalu murah hati dan selalu mendermakan semua kekayaan yang dimilikinya. Ia biasa disebut sebagai raja yang “lila ing donyo lan pati” (ikhlas dengan segala hal di dunia termasuk kematian).

Saat memainkan tokoh Yudistira, seringkali Sang Dalang membuat adegan di mana Prabu Yudistira selalu tidak mau terjadi perang saudara. Ia selalu mengusulkan untuk menyerahkan negara kepada saudara-saudaranya, para Satria Kurawa. Ia ikhlas.

Namun, pendapatnya selalu ditentang oleh Prabu Kresna yang mengatakan bahwa perang harus terjadi untuk membuktikan siapa benar dan siapa salah. Dalam kisah Perang Baratayuda, memang akhirnya pemenangnya adalah pihak Prabu Yudistira dan empat adiknya (Satria Pandawa).

Prabu Yudistira menyakini bahwa semua harta benda dan hidup-mati manusia hanyalah milik Tuhan. Kalaupun mendapat rejeki berupa harta benda, itu hanyalah titipan yang harus segera dibagikan lagi kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Ia selalu merasa tidak memiliki apapun di dunia.

Manusia harus menyerahkan hidup-matinya bagi Tuhan dengan cara beribadah dan menjalani hidup hingga akhir untuk menyejahterakan umat manusia dan ikut memperjuangkan perdamaian dunia.

Bila sosok Prabu Yudistira dijabarkan dalam bentuk falsafah Jawa tentang cara bagaimana agar manusia bisa mencapai “kasampurnaning dumadi”, maka dapat dirinci menjadi empat pokok yang harus dijalani.

1. Memayu Hayuning Pribadi
“Memayu Hayuning Pribadhi” artinya menjaga kesehatan jiwa dan raga. Setiap manusia tidak akan mampu menjalankan tugas hidupnya jika tidak memiliki kesehatan tubuh atau jasmani dan jiwa atau rohani. Olahraga harus cukup, istirahat harus cukup, dan makan harus teratur dengan porsi yang secukupnya.

Agar rohani juga sehat, membutuhkan sumber yang cukup yaitu ibadah secara tertib sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Setiap ibadah yang baik pasti selalu menghasilkan buah-buah perilaku yang baik bagi lingkungan, alam sekitar, dan sesama.   

2. Memayu Hayuning Kulawarga
“Memayu Hayuning Kulawarga” artinya menciptakan ketentraman keluarga. Untuk menjadi manusia sempurna harus dimulai dari wilayah terdekat. Setelah menjaga kesehatan jiwa raganya sendiri, selanjutnya wajib mewujudkan kehidupan yang baik di keluarga masing-masing.

Semua pihak, baik bapak, ibu, anak, mertua, menantu, atau siapapun, yang ada dalam keluarga harus mampu hidup rukun, saling menyayangi, saling berbagi, dan sebagianya. Saat susah harus saling menghibur dan menguatkan. Saat senang juga tidak boleh lupa bersedekah kepada orang lain.

3. Memayu Hayuning Sesama
“Memayu Hayuning Sesama” artinya menciptakan kehidupan yang baik dengan semua makhluk hidup, khususnya kepada sesama manusia tanpa dibatasi oleh suku, agama, dan ras. Persaudaraan yang baik kepada semua orang akan memberikan andil bagi terwujudnya perdamaian dunia.

Sementara itu, sikap menyayangi seluruh makhluk hidup dan lingkungan alam akan melahirkan keseimbangan alam semesta. Setelah menebang pohon harus menanam kembali, sebelum dibuang limbah harus diolah agar tidak beracun dan tidak mencemari lingkungan, dan masih banyak contoh lainnya.

4. Memayu Hayuning Bawana
“Memayu Hayuning Bawana” artinya ikut mewujudkan perdamaian dunia. Setelah mengurus diri sendiri, keluarga, dan sesama, barulah bisa berbicara soal mewujudkan perdamaian negara dan dunia. Tidak mungkin tiba-tiba melompat hanya mengurus perdamaian dunia.

Bila semua orang sudah mampu hidup sempurna kepada dirinya sendiri, keluarga, dan sesama, sesungguhnya perdamaian masing-masing negara dengan sendirinya akan terwujud. Setelah masing-masing negara terwujud, maka dunia pun akan damai.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?