• News

  • Rukun Suku Nusantara

Nenek Moyang Suku Dayak Berasal dari Tiongkok?

Ilustrasi orang Dayak
Tanah Nusantara
Ilustrasi orang Dayak

JAKARTA, NNC - Sebuah pertanyaan yang hingga kini terus muncul dalam khazanah antropololgi dan sosial budaya adalah terkait asal usul atau leluhur dari Suku Dayak.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, orang pun memunculkan pertanyaan berikut, apakah leluhur Suku Dayak adalah orang Tionghoa? Pertanyaan ini kerap muncul karena terlihat adanya kemiripan antara orang Dayak sekarang dengan orang Tionghoa.

Lalu, bagaimana menjawabnya? Secara umum kebanyakan penduduk kepulauan Nusantara adalah penutur Bahasa Austronesia. Saat ini teori dominan adalah yang dikemukakan linguis seperti Peter Bellwood dan Blust, yaitu tempat asal Bahasa Austronesia adalah Taiwan.

Sekitar 4.000 tahun lalu, sekelompok orang Austronesia mulai bermigrasi ke Filipina. Kira-kira 500 tahun kemudian, ada kelompok yang mulai bermigrasi ke Selatan menuju kepulauan Indonesia sekarang dan ke Timur menuju Pasifik.

Namun orang Austronesia ini bukan penghuni pertama Pulau Borneo. Antara 60.000 dan 70.000 tahun lalu, waktu permukaan laut 120 atau 150 meter lebih rendah dari sekarang dan kepulauan Indonesia berupa daratan (para geolog menyebut daratan ini "Sunda"), manusia sempat bermigrasi dari benua Asia menuju ke Selatan dan sempat mencapai Benua Australia.

Di daerah Selatan Kalimantan, Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, di daerah itu sering disebut Nansarunai Usak Jawa, yakni Kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan yang dihancurkan oleh Majapahit. Diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389.

Kejadian tersebut mengakibatkan Suku Dayak Maanyan terdesak dan terpencar. Sebagian masuk daerah pedalaman ke wilayah Suku Dayak Lawangan. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasal dari Kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1520).

Sebagian besar Suku Dayak di wilayah Selatan dan Timur Kalimantan yang memeluk agama Islam keluar dari Suku Dayak dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak. Mereka menyebut diri sebagai orang Banjar dan Suku Kutai.

Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman, bermukim di daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Batang Amandit, Batang Labuan Amas, dan Batang Balangan.

Sebagian lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin. Salah seorang pimpinan Banjar Hindu yang terkenal adalah Lambung Mangkurat menurut orang Dayak adalah ia adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum).
 
Tidak hanya dari Nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa tercatat mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming yang tercatat dalam buku "323 Sejarah Dinasti Ming" (1368-1643).

Dari manuskrip berhuruf Hanzi disebutkan bahwa kota yang pertama dikunjungi adalah Banjarmasin dan disebutkan bahwa seorang pangeran yang berdarah Biaju menjadi pengganti Sultan Hidayatullah I. Kunjungan tersebut pada masa Sultan Hidayatullah dan penggantinya yaitu Sultan Mustain Billah.

Hikayat Banjar memberitakan kunjungan tidak menetap oleh pedagang dari bangsa Tionghoa dan Eropa (disebut Walanda) di Kalimantan Selatan telah terjadi pada masa Kerajaan Banjar Hindu (abad XIV). Pedagang Tionghoa mulai menetap di Kota Banjarmasin pada tahun 1736.

Kedatangan bangsa Tionghoa di Selatan Kalimantan tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung, karena mereka hanya berdagang, terutama dengan Kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak.
 
Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian Suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci), dan peralatan keramik lainnya.

Sejak awal abad V, bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Kaisar Yongle mengirim sebuah angkatan perang besar ke Selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Cheng Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok.

Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan, di antaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkuk, dan guci.

Dewasa ini Suku Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, yakni Apokayan (Kenyah-Kayan-Bahau), Ot Danum-Ngaju, Iban, Murut, Klemantan, dan Punan. Rumpun Dayak Punan merupakan Suku Dayak yang paling tua mendiami Pulau Kalimantan. Sementara rumpun Dayak yang lain merupakan rumpun hasil asimilasi antara Dayak Punan dan kelompok Proto Melayu (moyang Dayak yang berasal dari Yunnan).

Keenam rumpun itu terbagi lagi dalam kurang lebih 405 subetnis dengan ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu apakah suatu subsuku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak atau tidak. 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Disarikan dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?