• News

  • Rukun Suku Nusantara

Menyingkap Mitos Pohon-Pohon Berkekuatan Gaib

Ilustrasi pohon keramat
plukme
Ilustrasi pohon keramat

JAKARTA, NNC - Terdapat banyak jenis pohon yang dianggap unik dan berkekuatan gaib di Nusantara. Masing-masing memiliki ciri dan kegunaan tertentu. Ada yang sudah dimanfaatkan dengan semestinya, namun banyak yang masih memerlukan pengungkapan melalui kajian ilmiah sehingga bisa lebih berdaya guna.

Dalam tradisi lisan suku-suku Nusantara, ada sejumlah pohon yang dipandang ajaib karena memiliki kekuatan gaib. Sayangnya, tradisi lisan itu sering terhenti dan menjadi sekadar mitos. Karena dianggap mitos, kemudian disepelekan (baca: malas melakukan kajian ilmiah).

Contoh pohon yang dianggap memiliki mitos berkekuatan gaib, antara lain pohon kelor atau Moringa oleifera (untuk tolak bala), sawo kecik atau Manilkara kauki (mendatangkan keberuntungan), bunga wijaya kusuma atau Epiphyllum anguliger (mendatangkan berkah), bambu kuning atau Bambusa vulgaris (mengusir energi negatif), pohon kamboja atau Plumeria (memanggil arwah),  dan masih banyak lagi.

Dalam kajian Purnomo berjudul “Tanaman Kultural dalam Perspektif Adat Jawa” (2013: 67-68), disebutkan bahwa tradisi masyarakat Tengger di Jawa Timur, sejak dulu terbiasa mengolah daun kelor sebagai bagian dari ritual tolak bala.

Ritual itu dilakukan dengan mengolah daun kelor yang dicampur dengan sambal kelapa.

Dalam budaya Jawa (Kejawen), harus diakui bahwa luluhur terbiasa menyampaikan pesan apapun selalu dibumbui dengan metafora. Mengutip pernyataan Stephen Litllejohn dan Karen Fos dalam “Teori Komunikasi” (2009), dinyatakan bahwa makna metafora terkandung di dalam proses dan bukan kata-kata bermakna tunggal.

Metafora adalah jenis bahasa khas. Di dalamnya, si penulis berusaha menyampaikan pesan melalui teka-teki. Makna sesungguhnya kadang tidak terduga. Demikianlah logika leluhur orang Jawa ketika menyampaikan pesan lisan secara turun-temurun tentang keunikan dan kekuatan gaib pada tanaman tertentu.

Ketika leluhur orang Jawa menyebut bahwa daun kelor termasuk jenis tanaman “tolak bala”, maka sesungguhnya frasa “tolak bala” adalah teka-teki yang harus dipecahkan bersama. Zaman dahulu belum ada kajian ilmiah yang dapat menjelaskan unsur kimiawi yang terkandung dalam tanaman tersebut.

Namun, leluhur orang Jawa telah membuktikan keampuhan daun kelor melalui pengalaman (bukti empiris). Tanaman itu berkhasiat untuk menangkal mara bahaya. Pengertian “mara bahaya” di zaman Jawa Kuno sangat berbeda dengan zaman sekarang. Dahulu, semua jenis penyakit tergolong sebagai mara bahaya dan dianggap sebagai “roh gaib yang jahat.”

Dianggap roh gaib yang bergentayangan karena ketika penyakit itu bisa menyebabkan kematian massal (wabah). Wabah penyakit tersebut tidak mampu ditangkap oleh indera manusia pada umumnya.

Wabah itu laksana “hantu” tak terlihat dan bergentayangan mencari mangsa. Dari pengalaman leluhur orang Jawa membuktikan bahwa penangkal dari roh gaib atau penyakit itu adalah daun kelor.

Makna di balik tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun itu akhirnya tersingkap. Beberapa waktu lalu, daun kelor atau daun Marangghi (Madura), Moltong (Flores), Kelo (Gorontalo); Keloro (Bugis), Kawano (Sumba), Ongge (Bima); dan Hau fo (Timor), diakui secara international sebagai tanaman ajaib (miracle tree) yang sangat berguna.     

Dalam catatan The Gurdian pada Minggu (7/1/2018), dilaporkan bahwa selain disebut sebagai “miracle tree” tanaman ini juga dinyatakan sebagai ”hasil panen bulan ini.” Artinya, pohon kelor terbukti memiliki banyak sekali manfaat bagi umat manusia. 

Tanaman yang konon berasal dari kawasan Barat pegunungan Himalaya dan India ini, kini telah tersebar hingga Afrika dan Asia. Pohon kelor mampu tumbuh di berbagai medan karena memiliki sifat tidak rakus terhadap unsur hara (pupuk). Bahkan di tanah berbatu pun bisa tumbuh subur.

Cara menanam pohon kelor sangat mudah, yaitu dengan stek atau dengan menyemaikan biji dari buah kelor tua yang sudah kering. Selanjutnya, pohon kelor akan tumbuh dengan sendirinya. Bila dibiarkan, ketinggiannya bisa mencapai 8-12 meter.

Manfaat pohon kelor sangat beragam. Bagian akar hingga daun semuanya memiliki manfaat. Pohon bisa digunakan sebagai bahan kertas, biji dapat diolah sebagai bahan kosmetik, minyak pelumas, daunnya bisa menjadi obat, bahkan bisa menjadi sumber pangan yang sangat baik.

Khasiat daun kelor bagi pertumbuhan bayi dan balita juga diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Organisasi ini malah menganjurkan agar bayi dan balita di seluruh dunia mengonsumsinya. Tanaman ini terbukti menjadi solusi paling murah untuk menjawab kebutuhan pangan bagi anak-anak di negara-negara berkembang. 

Daun kelor sangat baik bagi bayi dan balita karena mengandung kadar kalsium (Ca) dan zat besi (Fe) yang tinggi. Selain itu memiliki kandungan fosfor, vitamin C, dan vitamin A. Buah mudanya juga memiliki kadar protein yang tinggi. Daun kelor juga sangat baik dikonsumsi bagi ibu yang sedang menyusui.

Untuk mengonsumsi daun kelor, cara mengolahnya sangatlah mudah. Daun yang relatif masih muda dipetik, dicuci bersih, dan langsung bisa diolah menjadi sayur bening atau sup. Ada juga yang mengolahnya dengan cara ditumis dengan  bumbu seperti sayuran pada umumnya.

Sementara pada 21 Maret 2008, National Institute of Health (NIH)  menyatakan bahwa pohon kelor telah menjadi tanaman obat bagi berbagai kelompok etnis di India. Dalam tradisi pengobatan kuno di India, daun kelor diyakini telah berhasil menyembuhkan ratusan jenis penyakit.

Daun kelor dapat membantu mempercepat penyembuhan luka, menurunkan panas akibat demam, mengobati beri-beri, reumatik, menyehatkan mata, mencegah kanker, menurunkan tekanan darah tinggi, kencing manis, menurunkan kadar kolesterol, mencegah penyakit jantung, dan lain-lain.

Kembali kepada persoalan awal. Dengan tersingkapnya makna dari tradisi lisan tentang daun kelor yang memiliki kekuatan gaib (penolak bala) secara ilmiah. Maka, seharusnya bangsa Indonesia segera sadar, ada banyak tanaman lain yang perlu disingkap.

Alangkah baiknya bila dilakukan kajian konprehensif untuk mengungkap mitos dan keunikan jenis tanaman lain seperti bambu kuning, sawo kecik, bunga wijaya kusuma, bunga kamboja, dan lain-lain.

Jangan-jangan, rebung (tunas muda) dari jenis bambu kuning, secara kimiawi memiliki khasiat yang belum diketahui bersama. Dengan demikian tidak hanya dianggap sebagai tanaman penolak roh jahat.

Para mahasiswa dan peneliti dari lintas jurusan mulai dari biologi, ahli gizi, kedokteran, apoteker, dan lain-lain, ditantang untuk menjawabnya.

Selamat Hari Pohon!

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?