• News

  • Rukun Suku Nusantara

Inilah 6 Pantangan yang Tidak Boleh Dilanggar dalam Pernikahan Adat Jawa

Pernikahan adat Jawa
kamerabudaya
Pernikahan adat Jawa

JAKARTA, NNC - Terdapat banyak aturan dan rambu-rambu hidup baik tertulis maupun tidak tertulis. Salah satu bentuk aturan yang tidak tertulis adalah mitos.

Jika ingin tidak menimbulkan masalah dalam hidup, Anda harus tertib menaati aturan atau  rambu-rambu tersebut.

Yang paling ditakuti adalah aturan yang menyangkut tata cara dan peristiwa yang sangat penting dalam hidup, misalnya menyangkut pernikahan.

Pada umumnya, orang akan sepakat bahwa menikah itu harus didasari suka sama suka. Namun, apakah itu cukup?

Tenyata tidak. Meskipun Anda dan pasangan Anda mengaku memiliki rasa cinta dari lubuk hati terdalam hingga ke ubun-ubun, namun itu belumlah cukup.

Dalam adat pernikahan orang Jawa, setiap pasangan harus memperhatikan beberapa mitos  yang tidak boleh dilanggar. Apa saja larangan itu?

1.      Mitos pernikahan jilu (siji karo telu)

Pantangan menikah adat Jawa yang pertama adalah pernikahan jilu atau  juga disebut pernikahan siji karo telu (satu dan tiga).  Pernikahan jilu adalah pernikahan antara anak pertama dengan anak ketiga, baik bagi pihak wanita maupun pria.

Menurut kepercayaan orang Jawa, jika pernikahan seperti ini tetap dilangsungkan maka akan mendatangkan sial bagi rumah tangganya kelak di kemudian hari. Entah mitos ini benar atau tidak, yang pasti kepercayaan ini sangat melekat dalam masyarakat Jawa.

2.      Pernikahan siji jejer telu (satu berjajar tiga)

Berbeda dengan jilu. Maksud dari siji jejer telu adalah jika pasangan yang akan menikah sama-sama anak pertama serta salah satu orang tua pasangan juga merupakan anak pertama. Sehingga, rumusan jika disusun dalam angka menjadi 111 ( satu berjajar tiga).

Sebagian orang Jawa masih mempercayai jika hal ini dilanggar, maka rumah tangga pasangan tidak akan sejahtera. Entah benar atau tidak, yang pasti salah satu pantangan menikah adat Jawa ini sangat diyakini masyarakat.

3.      Mitos menikah di Bulan Suro

Bulan Suro dalam penanggalan Jawa dianggap sebagai masa pantang untukmengadakan acara pernikahan. Bulan ini dianggap sebagai bulan keramat yang bila dilanggar bisa mendatangkan malapetaka dan kesialan bagi pasangan yang menikah. 

Entah dari mana mitos ini bermula dan hingga kini belum ada penjelasannya. Namun, ada juga sebagian orang Jawa yang mengaitkannya dengan mitos Ratu Pantai Selatan atau yang lebih dikenal dengan nama Nyi Roro Kidul. Konon, pada Bulan Suro, Sang Ratu tengah melangsungkan hajatan.

Karena itu, apabila orang Jawa melangsungkan pernikahan di bulan itu, dikhawatirkan rumah tangga pasangan yang menikah akan mendapat gangguan dari Nyi Roro Kidul.

4.      Rumah berhadapan dilarang menikah

Pantangan menikah adat Jawa berikutnya adalah pernikahan yang rumah calaon mempelai saling berhadapan. Para orangtua, khususnya di Jawa banyak yang masih percaya pada mitos larangan pernikahan ini.

Entah apa yang mendasari mitos ini, namun sampai sekarang banyak orang Jawa yang percaya bahwa pernikahan dengan pasangan yang rumahnya berhadapan akan berantakan.  

5.      Posisi rumah ngalor ngulon dilarang menikah

Ada mitos lain yang hingga kini tumbuh dalam masyarakat Jawa, yakni apabila rumah calon mempelai mengarah ke barat laut atau ngalor ngulon maka sebaiknya dibatalkan. Kenapa?  Tidak tahu alasannya, namun yang pasti mitos ini masih terus dipercaya hingga kini.

Mitos ini juga tercantum dalam primbon Jawa yang menjadi pedoman hidup sehari-hari orang Jawa. Orang Jawa sangat percaya dengan tradisi primbon sehingga sulit bagi mereka untuk melepaskan diri dari kungkungan rambu-rambu ini.

6.      Larangan menikah bagi pasangan Jawa-Sunda

Pantangan menikah antara mempelai dari Jawa dan Sunda sudah terkenal sejak dahulu. Sebagian masyarakat Jawa masih mempercayai mitos tersebut sehingga sejak jauh-jauh hari, orangtua suku Jawa selalu mewanti-wanti agar anaknya tidak menikah orang Sunda.

Mitos ini muncul akibat dari peristiwa Perang Bubat atau perang antara pasukan Kerajaan Majapahit dengan pasukan Kerajaan Pajajaran. Perang itu membuat orang Jawa dan orang Sunda tidak pernah bisa akur bahkan meski dengan cara pernikahan sekalipun.

Konon, jika hal ini dilanggar maka hidup kedua mempelai akan sengsara. Apakah itu benar atau tidak, belum ada jawaban pasti dan dapat dipertanggungjawabkan.

Namun kembali lagi, bahwa pantangan menikah adat Jawa seperti terpaparkan di atas, sudah begitu melekat dalam masyarakat Jawa sehingga sulit untuk ditinggalkan.

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?