• News

  • Rukun Suku Nusantara

Orang Sunda Pra-Islam Ingin Masuk Surga, Begini Caranya

Kebudayaan Masyarakat Sunda
travelink-indonesia
Kebudayaan Masyarakat Sunda

BANDUNG, NNC - Anda yang ingin mengenal secara lebih mendalam tentang budaya suku Sunda, wajib membaca Kitab Sanghyang Siksakanda ng Karesian. 

Peninggalan kepustakaan Sunda Kuno tersebut layak disebut sebagai ensiklopedi kehidupan orang Sunda pra-Islam pada abad ke-16.

Dibandingkan dengan naskah-naskah Sunda kuno lainnya, seperti  Amanat Prabuguru Darmasiksa, Carita ParahiyanganJatiniskalaBujangga Manik, dan Sewaka Darma, naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian jauh lebih komplit.

Di dalamnya mengatur mulai dari spiritualitas hingga tata cara hidup sehari-hari.

Naskah itu memuat gambaran terperinci tentang kondisi sosial, ekonomi, sistem politik, dan budaya masyarakat sebelum ajaran Islam dikenal.

Budaya yang dimaksud, menyangkut sistem kepercayaan, sastra, seni lukis, seni ukir, hingga seni gamelan. Bahkan, dimuat pula ajaran tentang bagaimana agar seseorang hidup sempurna sehingga bisa masuk surga.

Spiritual Siwaisme dan Budhaisme

Dalam kajian Yusandi yang berjudul “Sanghyang Siksakanda ng Karesian: Ensiklopedi Sunda”  disebutkan bahwa kitab Sanghyang Siksakanda ng Karesian, besar kemungkinan, ditulis oleh seorang rohaniwan terkenal pada masa itu.

Mungkin salah seorang brahmana atau resi. Sayangnya, para sejarawan belum mampu mengungkap siapa nama sosok tersebut.

Naskah bertitimangsa nora catur sagara wulan (0-4-4-1). Artinya menunjuk pada tahun 1440 Saka atau 1518 Masehi.

Naskah terdiri dari 30 lembar daun nipah yang ditulis dengan menggunakan pisau pangot. Bahasa dan aksara yang digunakan adalah Sunda kuno. 

Kitab Sanghyang Siksakanda ng Karesian bukan hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu. Kitab dibuat untuk semua orang, khususnya rakyat jelata atau rakyat kebanyakan yang hidup di Tatar Sunda.

Mereka diarahkan “harus begini dan harus begitu” agar menjadi pribadi sempurna.

Pada bagian awal yang disebut dengan nama Dasakreta, dijelaskanlah mengenai lima kahyangan, tempat para dewa bertahta.

Pertama, adalah “Purwa” yaitu Timur, berwarna putih, tempat Hyang Isora bertahta. Selanjutnya, “Daksina” yaitu Selatan, berwarna merah, tempat Hyang Brahma bertahta.

Ketiga, “Pasima” yaitu Barat, berwarna kuning, tempat Hyang Mahadewa bertahta. Keempat, “Utara”, berwarna hitam, tempat Hyang Wisnu bertahta.

Dan terakhir, “Madya” yaitu tengah, beraneka macam warna, tempat Hyang Siwa bertahta.

Jelas bahwa pada abad ke-16, orang Sunda memegang sistem kepercayaan sinkretisme dari Siwaisme dan Buddhaisme.

Hal ini dipertegas juga pada bagian akhir darmapitutur yang bila diterjemahkan berbunyi, “Sembahlah Siwa! Sembahlah Buddha! Sembahlah Jiwa Maha Sempurna dengan sepenuhnya!”

Patut diperhatikan, walaupun ada banyak dewa dalam spiritual Sunda Kuno, semua dewa tetap harus berbakti kepada kekuatan tertinggi yang disebut “Batara Seda Niskala”.

Kekuatan ini bisa disebut juga sebagai “Hyang Maha Gaib” atau bisa diibaratkan sebagai “Tuhan Yang Maha Kuasa”.

Kesempurnaan hidup

Pada bagian yang bernama Darmapitutur, dijelaskan arti kalanggengan atau keabadian.

Ya ta sinagguh janma rahaseya ngaranna. Lamun pati ma, eta atmana manggihkon sorga rahayu.(Jika meninggal, sukmanya akan menemukan kemuliaan dan kebahagiaan)

Manggih rahina tanpa balik peteng, suka tanpa balik duka, sorga tanpa balik papa, enak tanpa balik lara, hayu tampa balik hala, nohan tanpa balik wogan, mokta tanpa balik byakta, nis tanpa balik hana, hyang tanpa balik dewa.

(Mengalami siang tanpa malam, suka tanpa duka, kemuliaan tanpa kenistaan, senang tanpa derita, indah tanpa keburukan, kepastian tanpa kebetulan, gaib tanpa nyata, hilang tanpa wujud, menjadi hyang tanpa kembali menjadi dewa).

Ya ta sinangguh parama lenep ngaranna. (Itulah kesadaran utama namanya).

Seseorang yang hidupnya baik, dan jiwanya berhasil masuk ke kahyangan atau kahiyangan (tempat hyang) disebut moksa atau luput. 

Namun, moksa berbeda dengan surga atau sorga.  Jika orang bisa masuk ke surga disebut munggah dan tinggal di tempat para dewa.  

Setiap orang selalu mendambakan yun suda, yun suka, tun munggah, dan yun luput. Keinginan yun suda adalah keinginan sempurna, tidak mengalami sakit.

Keinginan yun suka adalah ingin kaya dan tak mau kehilangan harta. Keinginan yun luput yaitu keinginan mencapai moksa. Dan terakhir, Keinginan yun munggah adalah ingin masuk surga..

Agar seluruh keinginan bisa tercapai, ada sepuluh kreta atau jalan yang harus ditempuh. 

Kreta yang dimaksud meliputi semua indra yang ada dalam diri manusia. Selama hidup, seluruh indera harus dikendalikan agar berfungsi secara benar.

Pendengaran atau ceuli, penglihatan atau mata, perabaan atau kulit, pengecap atau letah, penciuman atau irung, pengucapan (bibir) atau sungut, berjalan (kaki) atau suku, pembuangan kotoran (dubur) atau payu, alat kelamin pria dan wanita atau baga purusa.

Fungsi semua organ tersebut tidak boleh disalahgunakan.

Diatur pula tentang bakti yang berfungsi untuk mengatur tata kemasyarakatan.

Jumlahnya ada sepuluh dan disebut dasa prebakti, antara lain: anak harus berbakti ke ayah; istri harus berbakti ke suami; hamba harus berbakti ke majikan; murid harus berbakti ke guru; petani harus berbakti ke wado (prajurit yang pertanian).

Selanjutnya, wado harus berbakti ke mantri; mantri harus berbakti ke nu nangganan (pemimpin barisan di bawah mangkubumi); nu nanggaan harus berbakti ke mangkubumi.

Mangkubumi harus berbakti ke raja; raja harus berbakti ke dewata; dan dewata harus berbakti ke Sang Hyang.

Diatur juga bagaimana seorang hamba atau hulun negara. Hamba tidak boleh menjadi siwok cante, simur cante, simar cante, dan darma cante

Siwok cante artinya “dilarang tergoda makan-minum berlebihan”; simur cante artinya “dilarang mencuri”; simar cante artinya “dilarang mengambil dagangan tanpa izin”; dan darma cante yang artinya “dilarang membantu pihak yang dibenci oleh raja.”

Larangan juga ditujukan bagi kaum lelaki agar “Jangan berjalan mengiringi rara hulanjar (janda tak beranak), memegang tangannya, duduk bersama di balai berdua saja.”

Larangan itu dimaksudkan agar si lelaki tidak tergoda melakukan perbuatan-perbuatan terlarang.

Kaum wanita dan laki-laki juga dilarang mandi di tempat yang sama. Tempat mandi kaum lelaki dan perempuan harus terpisah.

Dalam naskah kuno Sanghyang Siksakanda ng Karesian juga disebutkan tiga tipe manusia atau janma (pada Sunda modern ditulis jalma).

Pertama adalah Janma wong yaitu tipe orang yang rupa dan bentuknya saja yang sama seperti manusia, namun buruk tabiatnya.

Yang kedua adalah Janma siwong yaitu orang yang hanya baik tabiat dan turunannya, tetapi belum mengetahui hakikat Sang Hyang Darma.

Tipe ketiga adalah wastu siwong yaitu orang yang teguh pada pengetahuannya serta mengetahui hakikat Sang Hyang Darma.

Itulah beberapa bagian tentang ajaran yang mengatur cara hidup bagi orang Sunda kuno agar mampu menjadi pribadi yang sempurna.

Pada bagian lain juga mengatur bagaimana melakukan ritual pemujaan, sesaji, dan tata cara pejabat mengatur pemerintahan.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?