• News

  • Rukun Suku Nusantara

Tenyata Pesona Manado Bukan Hanya Bibir, Bubur, dan Bunaken

Keindahan Kota Manado
genpi
Keindahan Kota Manado

MANADO, NNC - Banyak hal indah, menarik, dan penuh pesona jika mengerling ke ranah Manado dalam rumpun suku Minahasa di Sulawesi Utara. Banyak hal yang dapat dilukiskan tentang Manado. Bila ditulis, bisa berjilid-jilid buku.

Selanjutnya, apabila berbicara tentang Manado atau Minahasa dengan segala kekhasan, keindahan, dan eksotismenya, tentu selalu tidak terlepas dari 3B, yaitu Bunaken, bubur dan bibir.

Bunaken adalah simbol keindahan alam Manado yang eksotik. Bubur Manado adalah jenis kuliner dengan cita rasa khas Manado. Sedangkanm "bibir" Manado adalah pameo klasik untuk memuji kecantikan perempuan Manado.     

Untuk mengetahui lebih jelas tentang 3B, yaitu Bunaken, bubur dan bibir, dapat kita ikuti sajian NNC berikut ini.

Bunaken

Bunaken adalah pulau yang terletak di teluk Manado dan masih bagian dari Kota Manado. Keindahan dan pesona alam Manado dapat dipotret dari keindahan alam Bunaken.

Di sana ada Taman Laut Bunaken yang memiliki keragaman jenis ikan, terumbu karang, dan lain-lain, yang memiliki nuansa keindahan tertinggi di dunia. Banyak wisatawan berdatangan untuk menyelam dan menikmati keindahan bawah laut.

Bubur Manado

Bubur Manado merupakan makanan khas Manado yang terkenal lezat. Bubur Manado dibuat dari campuran berbagai macam sayuran ditambah dengan ubi, labu kuning, jagung, dan bahan unik lainnya.

Bahan khas itu antara lain ikan asin goreng dan dabu-dabu (sambal mentah pedas plus terasi dengan potongan bawang merah). Rasa pedas diperoleh dari depe rica sehingga bisa mengundang air mata jatuh meleleh.

Tidak hanya itu, dalam bubur Manado juga terdapat campuran ikan nike (ikan kecil goreng tepung). Perlu dicatat, ikan nike ini hanya ada di Danau Tondano.

Semua bahan berhasil membuat bubur Manadp terasa ma’yooss. Hanya membaca ceritanya saja, sudah membuat orang ngiler. Bagaimana kalau benar-benar menikmatinya?

Bibir Manado

Berbicara tentang “bibir”, harus diakui akan mengundang orang berkonotasi tentang organ tubuh. Pameo “bibir Manado” juga membuat konotasi tentang bibir perempuan Manado atau perempuan Minahasa yang pada umumnya berparas cantik. 

Ada pendapat bahwa pameo “bibir Manado” juga melahirkan stigma tidak baik yang melekat pada perempuan Manado. Pameo tersebut seolah menjadikan kaum perempuan karena menjadi objek eksploitasi kecantikan.

Padahal, pameo “bibir Manado” sebenarnya hanyalah kiasan yang menunjuk wilayah geografi Manado yang berada di bibir Samudera Pasifik.

Pesona lain yang sangat mulia

Selain Bunaken, bubur, dan bibir Manado, ada juga jargon lain yang terdapat dalam kehidupan masyarakat Manado. Masyarakat Manado memiliki slogan, “Kita semua bersaudara.”

Slogan ini dimaksudkan untuk menyatukan keberagaman di kawasan Manado. Kelompok minoritas bisa dengan aman menjalani kehidupan berdampingan karena kelompok mayoritas bersedia merengkuh dan mengayomi.

Suku Manado dalam rumpun Minahasa di Kota Manado merupakan penduduk paling dominan. Mereka mampu merangkul warga dari suku-suku lain yang tinggal di daerah itu.

Mereka umumnya menganut Agama Kristen Protestan. Namun, mereka juga mampu memberi kesejukan bagi penganut keyakinan lain untuk tetap tenang dalam melaksanakan peribadatannya.

Ada petuah bijak dari Dr Sam Ratulangi, pahlawan nasional dari Sulawesi Utara, yaitu Sitou timou tumou tou. Artinya, “Manusia hidup untuk menghidupkan manusia lainnya.”

Nasehat itu terus diabadikan dalam benak masyarakat Manado dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesadaran tentang semua bersaudara dan menghidupi orang lain itulah, yang mampu membentengi Sulawesi Utara hingga sekarang.

Contoh wujud dari falsafat tersebut dapat dilihat dalam setiap perayaan Natal. Seluruh umat Kristiani bisa dengan tenang beribadah karena gereja dijaga oleh pemuda non-Kristiani.

Demikian juga sebaliknya. Jika umat muslim merayakan Idul Fitri, para pemuda non-Muslim bertugas mengamankan. Begitu pula jika ada umat beragama lainnya merayakan hari raya keagamaannya.

Keberagaman yang terjaga dengan baik itu diabadikan dalam sebuah monumen besar atau tugu bernama Bukit Kasih, di Desa Kanonang, Kecamatan Kawangkoan, Minahasa Induk.

Lokasinya berjarak sekitar 50 kilometer dari Manado, tak jauh dari kawah belerang di kaki Gunung Soputan.

Di puncak tugu tergambar bola dunia serta burung merpati menggigit ranting zaitun.Gambar tersebut merupakan simbol  penghormatan terhadap kemanusiaan dan perdamaian.

Menurut cerita masyarakat setempat, di wilayah itu dipercaya sebagai tempat meninggalnya nenek moyang orang Minahasa, yakni Toar dan Lumimuut.

Gambaran wajah keduanya pun dipahat di tebing batu di salah satu lembah bukit. Wajah keduanya menghadap pada lima rumah ibadah.

Di Bukit Kasih inilah benih-benih kasih sayang sebagai manusia selalu ditanam dan ditebarkan.

Di tempat ini pula, para pemuka berbagai agama juga selalu mengadakan pertemuan untuk mencari solusi bersama jika di tengah msayarakat ditemukan benih-benih persoalan bernuansa suku atau agama.

Beruntunglah orang Manado mampu memadukan perbedaan sebagai kekuatan.

Beruntung pulalah bagi Anda yang bukan orang Manado tetapi berkesempatan untuk belajar dari masyarakat Manado dalam menjujung tinggi sikap toleransi dalam keanekaragaman.

“Semoga Anda yang bukan orang Manado yang mengunjungi Bukit Kasih bisa menularkan spirit kasih dan sayang agar negeri ini tetap memancarkan kerukuman dan kebersamaan dalam perbedaan.”

Itulah pesan yang selalu disampaikan oleh para pemandu wisata di Bukit Kasih, ketika melayani para pengunjung atau wisatawan dari luar Manado.

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?