• News

  • Rukun Suku Nusantara

Ini Filosofi Jawa di Balik Kisah Calon Mertua Menikahi Calon Menantu

Ilustrasi Resi Wisrawa.
Aksara
Ilustrasi Resi Wisrawa.

JAKARTA, NNC - Bila benar terjadi, tragedi itu tentu sangat tragis, masyarakat pasti akan heboh. Bagaimana tidak? Seorang calon mertua yang seharusnya memprioritaskan anaknya agar menikah dengan calon menantu, malah ia yang menikahi perempuan calon menantunya itu.

Namun, kisah itu bukanlah kejadian nyata. Kisah mengenai calon mertua menikahi calon menantu bersumber dari salah satu sastra kuno, yaitu Kakawin Arjunawijaya karya Mpu Tantular. Di dalam kisah itu, ternyata terdapat ajaran luhur yang diwariskan turun-temurun kepada setiap generasi suku Jawa.

Kesenian Wayang Kulit adalah salah satu media yang biasanya dipakai untuk menyampaikan pesan di balik kisah tersebut. Kisah perbuatan calon mertua yang nembuat kita mengelus dada itu, biasanya dimainkan Sang Dalang melalui lakon seputar "Babad Ngalengka".

Rahasia ajaran Sastra Jendra
Alkisah, ada seorang raja di negeri Lokapala bernama Resi Wisrawa dengan gelar Prabu Danaraja atau Prabu Wisawarna. Ia kemudian mewariskan tahta kerajaan kepada putranya yang bernama Prabu Danapati. Setelah itu, Resi Wisrawa meninggalkan keraton dan memutuskan hidup menjadi brahmana di pertapaan Girijembatan.

Suatu ketika, ia ingin mencarikan seorang putri untuk permaisuri putranya. Kebetulan, ia diundang mengikuti sayembara memperebutkan puteri dari Prabu Sumali, raja di negeri Ngalengka, yang bernama Dewi Sukesi. Prabu Sumali sendiri merupakan salah satu adik seperguruan dari Resi Wisrawa. Oleh karena itu, Resi Wisrawa yakin akan memenangkan sayembara tersebut.

Ternyata benar, dalam sayembara itu Resi Wisrawa berhasil mengalahkan saingan terberatnya, yaitu Ditya Jambumangli. Ia pun berharap bisa segera memboyong Dewi Sukesi untuk dijodohkan dengan putranya. Namun, ternyata masih ada satu syarat lagi yang harus diselesaikan oleh Resi Wisrawa.

Dewi Sukesi bersedia menikah apabila sudah mengetahui tantang hakikat atau isi dari ilmu yang bernama “Sastra Harjendra Hayuningrat” atau Sastra Jendra. Resi Wisrawa sadar bahwa ilmu tersebut sangat berat untuk dijalani.

Namun karena hasrat Dewi Sukesi begitu besar dan direstui juga oleh Prabu Sumali, Resi Wisrawa kemudian berusaha memenuhi permintaan tersebut. Resi Wisrawa kemudian mengajak Dewi Sukesi ke suatu tempat sepi yang tepat untuk mengajarkan ilmu tersebut.

Sastra Jendra adalah ajaran rahasia alam semesta yang tidak boleh diketahui manusia secara sembarangan. Mengetahui bahwa Resi Wisrawa akan mengungkap ajaran itu, Batara Guru, Sang Pemimpin dewa-dewi di Kahyangan marah. Ia mengutus Batari Durga untuk menggagalkannya.

Batari Durga ditugaskan menyusup dalam tubuh Dewi Sukesi untuk mengganggu dan menggoda konsentrasi Resi Wisrawa. Akhirnya, ilmu kebatinan Resi Wisrawa tak mampu membendung godaan Dewi Durga dalam rupa kemolekan tubuh Dewi Sukesi. Maka terjadilah perbuatan berupa hubungan intim laksana suami-istri.

Ilmu Sastra Jendra yang suci dan sakti gagal dijabarkan Resi Wisrawa, karena ia terbuai dan kalah oleh hasrat nafsu duniawi. Akibat dari perbuatannya, ia harus menikahi Dewi Sukesi, calon menantu yang seharusnya akan dijodohkan dengan putranya sendiri.

Hasil dari hubungan badan, Dewi Sukesi mengandung dan melahirkan empat anak yang terdiri dari tiga raksasa bernama Rahwana, Kumbakarna, Sarpakanaka, dan satu lelaki yang bertubuh menawan yaitu Gunawan Wibisana. Dampak dari perbuatanya tidak hanya sampai di situ.

Putra Resi Wisrawa, Prabu Danapati, yang juga menginginkan Dewi Sukesi, kemudian mendengar bahwa pujaan hatinya malah dinikahi oleh ayahandanya. Ia marah dan menyerbu negeri Ngalengka. Kisah menjadi semakin tragis, seorang anak memerangi ayahnya. Akibat pertempuran itu, Resi Wisrawa kemudian tewas akibat kelelahan dan kehabisan nafas.

Pesan di balik Kisah Sastra Jendra
Ilmu Sastra Jendra adalah falsafah tentang hakikat hubungan seks yang bersifat sakral. Hubungan itu hanyalah sah dan boleh dilakukan oleh suami-istri yang telah melangsungkan ikrar janji sehidup semati di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dengan demikian, seks pada hakikatnya bersifat sakral sebagai ritual menghormati rahmat yang berupa wewenang menjalani proses penciptaan atau tugas suci yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Tugas suci itu sekaligus sebagai cara untuk melanjutkan keturunan umat manusia.

Tugas suci yang menjadi suatu bentuk ritual, disertai juga dengan unsur kenikmatan secara lahiriah. Tetapi, di balik kenikmatan itu, terdapat unsur bersifar “menjebak” dan bisa disalahgunakan atau sekadar nafsu birahi.

Seks sebagai ritual suci dan milik suami-istri sering bergeser menjadi ritual yang hanya untuk mencari kenikmatan duniawi saja. Dalam konteks inilah, falsafah Sastra Jendra gagal diterjemahkan oleh Resi Wisrawa. Ia, yang merupakan calon mertua, justru melanggar hakikat ritual seks yang suci dan sakral.

Ia kalah oleh hasrat duniawi atau nafsu birahi. Akibatnya, lahir empat anak yang menjadi simbol dari sifat-sifat hawa nafsu manusia. Masing-masing anak mewakili unsur-unsur tersebut.

Dalam falsafah Jawa, ada empat unsur penting dalam kehidupan yang biasa disebut “sedulur papat lima pancer” (empat saudara dan kelima adalah pusat). Di sisi lain, falsafah Jawa juga mengajarkan bahwa hawa nafsu juga memiliki empat unsur.

Falsafah “sedulur papat” ada hubungannya dengan kepercayaan tentang empat unsur pembentuk jasad manusia, yaitu api, tanah, angin, dan air. Sedangkan unsur kelima adalah sosok manusia yang telah lahir ke dunia dan menjadi pusat atau penentu arah hidup yang bersangkutan.

Sementara, unsur hawa nafsu terdiri dari amarah (dilambangkan oleh api), aluamah (dilambangkan oleh tanah), supiyah (dilambangkan oleh angin), dan mutmainah (dilambangkan oleh air). Masing-masing unsur memiliki ciri yang sebenarnya bersifat negatif dan positif.

Unsur amarah disimbolkan dalam diri Rahwana, anak pertama Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi, yang dikenal sebagai raksasa bermuka sepuluh. Raksasa dalam pewayangan selalu bersifat tidak baik. Rahwana terkenal sebagai sosok yang tidak mampu mengendalikan emosinya, laksana api yang membakar apa saja.

Unsur aluamah disimbolkan dalam diri Kumbakarna, anak kedua Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi, yang dikenal sebagai raksasa sebesar anak gunung dan tak pernah kenyang. Ia terkenal rakus dan hanya mementingkan perutnya belaka. Ini melambangkan sifat keserakahan umat manusia.

Unsur supiyah, disimbolkan dalam diri Sarpakanaka, puteri ketiga Rewi Wisrawa dan Dewi Sukesi, yang dikenal sebagai raksesi atau raksasa perempuan yang terkenal tidak mampu menahan gejolak perasaan, sehingga mengalahkan nalar dan pikiran. Akal budi manusia sering dikalahkan oleh perasaan iri, dengki, balas dendam, tidak mudah memaafkan, dan lain-lain.

Terakhir, unsur keempat adalah mutmainah. Unsur ini disimbolkan dalam diri Gunawan Wibisana, anak keempat Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi, yang relatif tampan dan selalu berusaha mengendalikan nafsu-nafsu saudara-saudarinya atau ketiga kakaknya.

Gunawan Wibisana melambangkan kecenderungan perasaan yang berusaha mengendalikan hawa nafsu dengan pertimbangan baik atau buruk. Akibatnya, bisa menimbulkan perang batin.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?