• News

  • Rukun Suku Nusantara

Gadis atau Janda, Perawan atau Bukan, Bisa Diketahui dari Ini

Budaya Rimpu di Bima
saliha
Budaya Rimpu di Bima

BIMA, NNC - Budaya suku-suku di Nusantara memiliki pesona dan keistimewaannya masing-masing. Keistimewaan itulah yang membuat suku yang satu berbeda dengan suku lain.

Perbedaan tersebut disebabkan oleh proses sejarah terbentuknya budaya, adat istiadat, dan norma-norma dalam kehidupan masing-masing suku. 

Dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, jumlah suku-suku di Nusantara mencapai sekitar 1.128 suku bangsa yang tersebar di 34 Provinsi, dari Sabang sampai Merauke. Ini menandakan ada begitu banyak keragaman budaya suku-suku di Indonesia.

Salah satu budaya yang berlaku dalam setiap suku adalah budaya yang mengatur tentang kehidupan kaum perempuan. Kehidupan perempuan Jawa pasti berbeda dengan budaya perempuan Sunda, Minang, Bali, Dayak, dan seterusnya.

Dalam ulasan budaya suku Nusantara kali ini, NNC akan menyoroti budaya kaum perempuan di Bima, Nusa Tenggara Barat. Mereka memiliki budaya unik yang disebut budaya Rimpu.

Budaya Rimpu adalah budaya khas di Bima dan tidak akan ditemukan di daerah lain. Budaya Rimpu merupakan sebuah kearifan lokal yang tetap terpelihara hingga hari ini.

Rimpu itu sendiri adalah sejenis sarung tenunan Bima yang dikenal dengan nama Tembe Nggoli. Kain biasanya dikenakan dengan dililitkan di bagian kepala hingga membentuk bundaran yang rapi sehingga hanya bagian mata atau wajah yang terlihat.

Dalam penggunaanya, Rimpu ini dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Rimpu Colo dan Rimpu Mpida.

Rimpu Mpida digunakan oleh para gadis yang cara pemakaiannya adalah dengan melilitkan Tembe Nggoli di kepala dengan hanya menampakan bagian mata saja.

Sedangkan Rimpu Colo digunakan oleh kalangan ibu-ibu atau para janda dengan lilitan yang menyisakan bagian wajah saja yang terbuka.

Selain itu, budaya Rimpu biasanya dirangkaikan juga dengan rangkaian Tembe Nggoli lain yang dililitkan di bagian pinggang (dalam bahasa Bima dikenal dengan nama “Sanggentu”) yang terurai sampai ke bagian tumit sebagai pengganti rok.

Budaya Rimpu dan Tembe Nggoli ini boleh dibilang seperti halnya “Romeo dan Juliet”. Keduanya tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Rimpu adalah Tembe Nggoli dan begitu sebaliknya.

Berdasar budaya Rimpu, masyarakat Dompu dan Bima asli,  akan sangat mudah membedakan antara perempuan yang masih perawan (gadis) dengan perempuan  yang sudah menikah atau janda.

Perempuan yang mengenakan Rimpu Colo (Busana masyarakat Bima yang menggunakan dua lembar sarung khas Bima yang dipakai di bagian bawah dan bagian atas) dipakai sampai mulut (hanya mata yang terlihat), itu pertanda bahwa wanita itu masih perawan.

Tetapi kalau sudah dibuka (mulut sudah terlihat), itu pertanda perempuan yang sudah menikah atau mempunya suami, atau bisa juga seorang janda.

Dalam perspektif syariat Islam, dalam berpakaian, kaum perempuan tidak boleh memperlihatkan bagian tertentu dari tubuh. Syariat Islam inilah yang menjadi dasar penerapan Rimpu oleh para leluhur di Bima.

Awalnya, hadir sebagai identitas keagamamaan namun lama-kelamaan menjadi bagian dari budaya Bima.

Memang, dalam masyarakat Bima, ada keterkaitan erat antara budaya dan agama. Budaya Rimpu tersebut berbanding lurus dengan ajaran agama Islam yang berkembang di daerah Bima.

Rimpu tersebut hampir mirip dengan busana cadar yang biasa dikenakan kaum perempuan di Arab. Hanya saja, bahan yang digunakan adalah sarung yang dililitkan menyerupai busana ninja.

Karena budaya ini tidak terdapat di daerah lain, maka dapat disimpulkan bahwa budaya Rimpu merupakan budaya asli masyarakat Bima dan dihasilkan dari kreatifitas murni masyarakat setempat.

Artinya, budaya Rimpu adalah budaya yang tidak terkontaminasi oleh pengaruh budaya daerah lain. Sehingga dapat dikatakan, budaya Rimpu untuk orang Bima, sama halnya dengan masyarakat Jawa dengan budaya blangkonnya.

Seiring kemajuan tenun, Rimpu tidak hanya menggunakan Tembe Nggoli. Kini tersedia juga beragam songket dengan berbagai motif yang indah.

Namun, motif yang banyak digunakan adalah motif dari filosofi Nggusu Waru seperti bunga bersudut delapan, weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkeh), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai).

Budaya Rimpu mulai dikenal sejak agama Islam berkembang di Bima Dompu, yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama Islam dari tanah Gowa Makassar pada abad ke-13. Sementara di masyarakat di Gowa, tidak mengenal budaya Rimpu.

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?