• News

  • Rukun Suku Nusantara

‘Perang‘ Setelah Perebutan Janda di Sumba Itu, Kini Telah Menjadi Tontonan

Tradisi Pasola di Sumba, Nusa Tenggara Timur
merahputih.com
Tradisi Pasola di Sumba, Nusa Tenggara Timur

KUPANG, NNC - Tradisi Perang yang satu ini memang tergolong unik. Walaupun dinamakan “perang” namun yang dimaksud bukanlah layaknya pertempuran beradu senapan, mortir, tank, mitraliyur, dan sebagainya. 

Tradisi ini telah menambah deretan panjang kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Tradisi ini sekaligus menjadi bukti  bahwa di Nusantara terdapat potensi wisata yang tiada duanya.

Tradisi perang yang dimaksud merupakan budaya yang dimiliki masyarakat suku Sumba di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Namanya adalah tradisi Perang Tarkam yang biasa disebut Pasola.

Berawal dari skandal cinta

Pasola adalah bagian dari rangkaian upacara tradisional dalam bentuk atraksi perang yang dilakukan oleh masyarakat penganut agama asli di Pulau Sumba, yaitu agama Marapu.

Istilah “Pasola” sendiri berasal dari kata “sola” atau “hola” yang berarti tombak atau lembing kayu. Setelah mendapat imbuhan “pa” menjadi “pasola” atau “pahola”.

Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti, sejak kapan Pasola mulai dimainkan oleh masyarakat Sumba.

Namun, dalam tradisi tutur di masyarakat Sumba, Pasola sesungguhnya berasal dari skandal cinta yang terjadi pada masa lampau, dimana ada seorang janda cantik bernama Rabu Kaba di Kampung Waiwuang, yang diperebutkan oleh pemuda di Tanah Sumba.  

Ingatan terhadap peristiwa itu kemudian dikemas menjadi kegiatan ritual dan dijadikan sebagai tradisi turun temurun. Di dalamnya, sarat dengan nilai-nilai spiritual untuk memuji dewa-dewi yang dipercaya bisa memberikan berkah kesejahteraan.

Bagi masyarakat Sumba yang menganut kepercayaan Marapu, tradisi Pasola adalah salah satu bentuk penghormatan kepada Sang Pemberi Kemakmuran bagi masyarakat Sumba.

Selain itu, Pasola juga dianggap sebagai bentuk ritual penghormatan terhadap para dewa-dewi karena masyarakat Sumba meyakini bahwa Pulau Sumba adalah tempat bersemayam para dewa-dewi.

Maka jangan heran apabila di setiap sudut kota dan kampung di Sumba, selalu  tersimpan persembahan dan pujian para abdi kepada Sang Dewa.

Gambaran perayaan Pasola

Pasola biasanya dirayakan setiap tahun pada bulan Februari atau Maret. Pada bulan-bulan itu, masyarakat Sumba mengadakan serangkaian upacara adat dalam rangka memohon restu para dewa agar panen tahun tersebut berhasil dengan baik.

Pasola selalu dilaksanakan di bentangan padang luas atau savana. Acara disaksikan oleh segenap warga Sumba. Biasanya juga disaksikan oleh para wisatawan dari luar Pulau Sumba. 

Para peserta permainan adalah pria pilihan yang siap tanding. Ada dua kelompok yang akan siap bertanding yaitu kelompok Kabisu dan kelompok Paraingu.

Setiap kelompok dalam atraksi perang terdiri lebih dari 100 pemuda bersenjatakan tombak yang dibuat dari kayu berdiameter kira-kira 1,5 cm yang ujungnya dibiarkan tumpul.

Kedua kelompok akan bersaing menunjukkan kebolehannya menguasai  dan memainkan keterampilan memacu kuda dan melempar lembing (hola). Pasola biasanya menjadi klimaks dari seluruh rangkaian kegiatan dalam rangka Pesta Nyale (nyali).

Meskipun tombak kayu tersebut tumpul, pasola kadang-kadang menimbulkan kecelakaan (tanpa sengaja) dan menyebabkan peserta terluka. Bahkan, bisa mengancam jiwanya jika tidak segera diberikan pertolongan.

Karena atraksi perang ini terkadang memakan korban, maka sering disebut juga sebagai “Tragedi Asmara di Padang Savana.” 

Disebut Tragedi Asmara, karena dalam sejarahnya, Pasola ini sebenarnya bermula dari kisah perebutan cinta terhadap seorang janda cantik di Sumba, seperti telah disinggung di atas.

Walaupun terkadang menimbulkan jatuh korban, tidak ada dendam di antara peserta ritual. Sebab, memang  tradisi tersebut bukanlah bertujuan untuk perang yang sesungguhnya.

Masyarakat akan mengambil hikmah bila sampai terjadi tragedi berdarah saat menjalani ritual Pasola.

Menurut kepercayaan masyarakat yang menganut kepercayaan Marapu, bila Pasola menyebabkan jatuh korban, itu menjadi pertanda semacam teguran dari para dewa karena ada anggota suku yang pernah melakukan suatu pelanggaran adat, atau pelanggaran norma lainnya.  

Dan di zaman sekarang, Pasola telah menjadi salah satu obyek totonan para wisatawan. Apalagi sekarang Pulau Sumba semakin ramai dikunjungi para wisatawan setelah dinobatkan sebagai salah satu pulau terindah di dunia.

Sehingga, upacara ritual Pasola pun semakin dikenal sebagai suguhan menarik bagi para wisatawan yang datang dari berbagai daerah, baik dari Indonesia maupun mancanegara.

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?