• News

  • Rukun Suku Nusantara

Mengapa Orang Jawa Mudah Diterima di Daerah Perantauan?

Pakaian adat Suku Jawa
adatindonesia.com
Pakaian adat Suku Jawa

YOGYAKARTA, NNC - Dalam perjalanan sejarah di Nusantara, tercatat bahwa sejak zaman dahulu berbagai suku di Nusantara, gemar merantau. Sebut saja Suku Minangkabau, Suku Bugis, Suku Batak, Suku Jawa, Suku Banjar, dan Suku Madura.

Dan seiring kemajuan teknologi transportasi belakangan ini, dapat dikatakan bahwa hampir semua suku-suku di Nusantara bisa merantau ke daerah lain dengan beragam alasan dan tujuan.

Biasanya, faktor utama merantau adalah karena faktor ekonomi. Mereka ingin meningkatkan taraf kehidupan ekonominya di tempat-tempat baru.

Salah satu suku yang paling terkenal merantau dan sudah terbukti tersebar di Nusantara adalah Suku Jawa. Hampir di seluruh pelosok Nusantara, selalu ada orang Jawa. Bahkan, kini orang Jawa juga telah merambah ke banyak negara di dunia, karena alasan ingin memperoleh pendidikan maupun karena alasan lainnya.

Ada satu hal menarik dalam kebiasaan orang Jawa pada umumnya. Mereka rata-rata bisa diterima oleh semua masyarakat di mana ia berada. Orang Jawa cenderung mampu berbaur dengan beragam suku, di tempat di mana mereka merantau.

Mungkin banyak orang mengatakan, “Ah, itu hanya sekadar stereotip saja!” Boleh-boleh saja berpendapat seperti itu. Namun, walaupun hanya sekadar stereotip, orang Jawa yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara adalah bukti nyata bahwa stereotip itu bukanlah omong kosong.

Maka, dalam konteks ini, pertanyaan pentingnya adalah mengapa  orang Jawa cenderung bisa diterima di berbagai daerah di mana pun mereka tinggal?

Untuk menjawab pertanyaan itu, NNC berhasil menelusuri berbagai stereotip orang Jawa dari berbagai keterangan dan sumber yang bisa dipercaya. Berikut beberapa stereotip itu.

1.  Pandai bergaul dan berbaur

Banyak orang menilai dan mengatakan bahwa orang Jawa ahli dalam bergaul dan berbaur dengan beragam masyarakat. Mereka ahli dalam bersosialisasi dan pandai menempatkan diri.

Orang Jawa yang baru datang ke suatu daerah akan langsung bisa bergabung dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru itu.

Mereka memiliki sikap senang berkenalan dan selalu ingin dekat dengan sesama untuk menjalin hubungan kekerabatan atau silaturahmi.

Mayoritas orang Jawa sangat memahami peribahasa, “Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung”. Atau, “Masuk kandang ayam berkokok, masuk kandang kambing mengembik.”

Peribahasa itu mengajarkan agar setiap orang harus pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat di mana ia tinggal.

2.  Sopan dan santun

Orang Jawa memiliki adat tatakrama yang cukup ketat. Hal ini kemudian membentuk karakter dan menjadi perilaku yang dibawa ke manapun ia berada.

Sikap sopan dan santun terhadap setiap orang yang dijumpai tercermin dari bahasa komunikasi yang mereka gunakan. Biasanya orang Jawa akan bertutur kata dengan lambat, halus, dan hati-hati memilih kata, saat bercengkerama dengan lawan bicara.

Orang Jawa juga senantiasa mematuhi larangan yang dianut mayarakat di tempat mereka tinggal. Hal itu dilakukan juga sebagai salah satu bentuk kesopanan.

Orang Jawa harus menghormati penduduk di tempat mereka tinggal. Mereka selalu berusaha untuk tidak mengecewakan penduduk setempat sehingga akan berusaha selalu menunjukkan itikad yang baik.

3.  Tenang dan kalem

Orang Jawa terkenal sangat tenang dan kalem dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari. Sikap ini selalu mereka tunjukkan dalam menghadapi masalah dalam pergaulan dengan orang lain.

Sifat kalem dan sopan membuat banyak orang bisa luluh hatinya bila menghadapi masalah dengan orang Jawa.

Sikap kalem itu disempurnakan oleh sikap lainnya, yakni sikap suka mengalah. Siapa yang tidak luluh hatinya jika menghadapi orang yang sopan, kalem, dan suka mengalah?

Contohnya,  saat ada masalah, orang Jawa cenderung berkata dan bersikap, “Sudah, sudah, daripada menambah masalah, lebih baik ngalah saja,” Nah, seperti itulah kira-kira sikap yang dibangun dalam diri orang Jawa.

4.  Tidak suka konflik

Sikap suka mengalah yang didasari dengan sifat sopan dan santun, menunjukkan bahwa orang Jawa adalah cenderung menjauhi perselisihan. Orang Jawa tidak suka berkelahi atau berkonflik dengan siapapun.

Oleh sebab itu, tingkat konflik antara orang Jawa dengan suku lain di Nusantara, bisa dikatakan relatif kecil jumlahnya.

Memang pernah ada konflik, misalnya di Aceh saat marak terjadi aksi-aksi militer yang dilakukan simpatisan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) beberapa waktu silam.

Kala itu, ada aksi pengusiran orang Jawa dari daerah Aceh. Namun, selain itu, bisa dikatakan sangat jarang terjadi.  Sebab, pada hakikatnya, orang Jawa memang tidak suka konflik. Mereka sangat sadar bahwa mereka datang ke daerah orang lain bukan untuk mencari musuh.

5.  Suka menolong

Orang Jawa cenderung suka menolong karena memiliki falsafah gotong royong yang dipegang erat. Dan memang, falsafah itu sebenarnya merupakan ciri masyarakat Nusantara pada umumnya.

Bagi orang Jawa, sikap menolong benar-benar ditunjukkan secara tulus dalam membantu orang yang susah. Tanpa meminta pun, orang Jawa biasanya akan menawarkan bantuan terlebih dahulu.

Itulah salah satu sikap istimewa dari orang Jawa. Dan tentu saja, perilaku seperti itu sangat disukai oleh orang-orang dari suku apa pun di Nusantara.

6.  Suka menyapa

Orang Jawa juga terkenal suka menyapa terlebih dahulu. Mereka akan menyapa siapa pun yang mereka jumpai dengan ramah, sopan, dan santun yang tulus.

Orang Jawa tak segan untuk mengajak orang yang di sapa untuk masuk ke rumahnya dan mengobrol dengan ditemani segelas kopi atau sajian dari yang sederhana seperti makanan kecil, gorengan, sampai hidangan berat (makan).

7.  Pemalu dan sungkan

Penilaian bahwa orang Jawa itu pemalu dan sungkan adalah stereotp yang cukup terkenal. Apa yang ada di dalam pikiran belum tentu sama dengan apa yang diucapkannya. Sikap ini dianggap banyak orang sebagai ciri khas orang Jawa di mana pun mereka berada.

Dalam hal ini, sikap pemalu juga menyebabkan bahwa tidak semua orang Jawa pandai berbaur. Karena pemalu, ada juga orang Jawa yang menjadi malu-malu saat berbaur. Tapi, jika ia sudah akrab, maka ia tidak akan malu-malu lagi bergaul, tanpa melupakan tradisi kesopanan.

8.  Ketampanan dan kecantikan khas Jawa

Ketampanan dan kecantikan orang Jawa sangat khas. Kekhasan itu terbentuk karena ciri fisik, warna kulit, bentuk wajah, hidung, rambut, yang khas dimiliki suku Jawa.

Dengan bentuk fisik lahiriah seperti itu dan dipadu dengan sifat dan perilaku sopan, santun, tidak suka konflik, suka menolong, dan lain-lain, maka menambah unsur unik dalam sosok laki-laki dan perempuan Suku Jawa.

Hal itu menyebabkan ketampanan dan kecantikan orang Jawa ikut menjadi unik.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?