• News

  • Rukun Suku Nusantara

Makhluk Halus yang Menampakkan Diri ke Suku Rejang Bernama Sebei

Ketuk Diwo, kebudayaan masyarakat Rejang Lebong, Bengkulu
potretbengkulu.com
Ketuk Diwo, kebudayaan masyarakat Rejang Lebong, Bengkulu

BENGKULU, NETRALNEWS - Anda sudah mengenal suku Rejang? Suku ini biasa disebut juga Rejang Lebong, Tun Jang, Jang Bele Tebo, atau Rejang Empat Petulai.  Sementara mereka menamai dirinya sendiri keme tun jang.

Istilah keme tun jang berasal dari nama seorang biksu yang dipercaya menjadi cikal bakal mereka. Bila diterjemahkan, nama itu berarti “kami orang Jang”.  

Mayoritas suku Rejang mendiami daerah perbukitan Bukit Barisan, tepatnya di daerah Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu dan sebagian lainnya tinggal di Kabupaten Lahat, perbatasan antara Sumatera Selatan dan Bengkulu.

Menurut kajian kajian Dr Zulyani Hidayah dalam Ensiklopedi Suku Bangsa Indonesia (2015: 321-323), pada 1981 jumlah anggota suku Rejang mencapai sekitar 300.000 jiwa. Kini, diperkirakan sudah mencapai dua kali lipat.

Dilihat dari struktur bahasanya, suku Rejang termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia, Melayu-Polinesia, masih satu keluarga dengan bahasa Pasemah. Sehari-hari, suku Rejang menamakan bahasa mereka dengan istilah baso jang.

Selain bahasa, mereka juga dikenal memiliki empat petulai (kelompok) besar yaitu (Jang) Lebong, (Jang) Musai, (Jang) Lai, (Jang) Bekulai.

Suku Rejang meyakini bahwa nenek moyang mereka berasal dai Jawa, di bawah empat orang pangeran. Keempat pangeran itulah yang kemudian menurunken empat petulai atau empat klan patrilineal utama suku Rejang.

Bila ditelusuri dari tambo (sejarah lisan), nenek moyang mereka sebelumnya pernah tinggal di daerah yang dinamakan Bandar Cina. Daerah itu diduga merupakan istilah untuk menunjuk kota Palembang.

Dari Palembang kemudian menyebar ke daerah Pagaruyung dan menjadi orang Minangkabau. Sementara lainnya menyebar ke lembah Ranah Sikelawi dan menjadi suku Rejang.

Hingga kini, suku Rejang masih mempertahankan cara hidup mereka yang asli yaitu bercocok tanam padi, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Lahan tempat mereka tinggal terkenal subur dan memang cocok untuk pertanian.

Mengenai pola kekerabatan ada yang unik. Walaupun keturunannya bersifat patrilineal, namun mereka memiliki kekerabatan bilateral.

Kekerabatan bilateral dapat dilihat dari adat yang mereka gunakan. Bila seseorang sudah menikah atau kawin, maka penentuan tempat tinggal keluarga baru ini atau duduk letok ditentukan berdasarkan asen (mufakat) oleh kedua belah pihak.

Mengenai ikatan keluarga besar, mereka juga menggunakan sistem marga atau mego. Kesatuan sosial yang menjadi cikal bakal ada empat yaitu Tubai, Bermani, Jekalang, dan Selupuak.

Di masa feodal masih mendominasi sistem kehidupan masyarakat Nusantara, suku Rejang juga pernah memiliki sistem pelapisan sosial. Golongan bangsawan berarti kelompok raja dan keluarga kepala marga (ajai).

Kelompok kedua adalah kepala dusun atau potai. Dan ketiga adalah golongan tun dawyo atau orang biasa. Dan masih ada satu kelompok yang dihormati yaitu pedito  (pemimpin agama) dan labgea (dukun).

Suku Rejang bukanlah suku terasing. Mereka mampu hidup menyesuaikan tantangan dan perkembangan zaman. Sehingga kini, mayoritas mereka telah menganut agama Islam.

Namun, banyak adat dan tradisi asli mereka yang masih dipertahankan dan dikenang sebagai budaya khas mereka. Salah satu budaya masa lalu mereka adalah mengenai sistem kepercayaan terhadap roh yang menghuni alam semesta (animisme).

Makhluk yang menghuni dunia bukan hanya manusia, tumbuhan, dan binatang yang dapat dilihat secara kasat mata. Mereka percaya ada makhluk halus yang bermasyarakat mirip seperti manusia tetapi tidak tampak dan disebut sebagai semat.

Sedangkan makhluk halus yang sering menampakkan diri dan mengganggu manusia dinamakan sebei atau sebekew. Dan ada satu lagi, yaitu makhluk halus yang sering turun ke bumi melalui guniak (bianglala) yang dinamakan diwa.

Suku Rejang meyakini bahwa manusia dengan makhluk halus dapat melakukan komunikasi melalui perantara, yaitu orang yang menguasai ilmu spiritual dan biasa dipanggil sebagai pedito atau semacam dukun.

Melalui kedurai, semacam kenduri atau ritual khusus lengkap dengan berbagai sesaji, pedito mampu mengarahkan mahkluk halus sesuai apa yang diinginkan masyarakat Rejang, misalnya untuk menolak bala atau agar mereka tidak mengganggu manusia.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?