• News

  • Rukun Suku Nusantara

Kenangan Terindah Timor Leste Bersama Indonesia (Bagian 3)

Ilustrasi: Hubungan romantis Indonesia dan Timor Leste (Istimewa)
Ilustrasi: Hubungan romantis Indonesia dan Timor Leste (Istimewa)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Timor Timur atau Timor Leste merupakan propinsi Indonesia yang paling unik. Karena, propinsi lain di Indonesia merupakan bekas jajahan Belanda, namun Timor Leste, propinsi yang ke-27 di zaman kekuasaan Soeharto itu, merupakan satu-satunya propinsi Indonesia bekas jajahan Portugis atau Portugal. 

Tetapi, karena memiliki sejarah leluhur yang sama dengan Timor Barat, yaitu para perantau atau pendatang dari Vietnam, Tiongkok, Sri Lanka, dan lain-lain maka ketika masuk menjadi bagian dari Indonesia, kata Presiden Soeharto ketika itu, bahwa bersatunya Timor Timur sebagai “kembalinya anak yang hilang”.

Ingat bahwa Timor Leste dalam penjajahan Portugal, hidup atau berkubang dalam kemiskinan dan kemelaratan serta kebodohan. Pembangunan ekonomi tidak terlihat di sana. Jadi, pada awal ketika masuk menjadi bagian dari NKRI, Timor Leste merupakan propinsi paling miskin dan paling terkebelakang. 

Dengan realitas dan kesadaran untuk itu, maka Indonesia langsung mengadakan penggebrakan dalam bentuk pembangunan ekonomi. Infrastruktur mulai dibangun di propinsi termuda ketika itu, mulai dari jalan beraspal, hingga bandara Bangunan sekolah mulai dari tingkat SD hingga Universitas dibangun di Timor Leste. Bandara Komoro (sekarang Bandara Nicolau Labota) dibangun di Dili, sehingga berbagai pesawat aneka macam jenis dapat mendarat dan terbang ke dan dari Timor Leste.

Oleh karena pembangunan di propinsi paling bontot ketika itu, maka muncul semacam sikap “iri” dari saudara-saudara sekandungnya di Timor Barat, NTT yang sebelumnya dilabeli sebagai propinsi terkebelakang. 

Bagaimana tidak iri atau cemburu kalau segala macam subsidi dari dana APBN dicurahkan ke Timor Leste untuk membangun dan memajukan propinsi termuda itu. BNP perkapita Timor Leste ketika itu melecit sebesar $1500 semasa integrasi. 

[Baca juga: Kisah Timor Leste dengan “Saudara Kandungnya” Indonesia (Bagian 1]

Presiden Soeharto sangat memberi perhatian yang istimewa terhadap Timor Leste. Salah satu contohnya adalah dengan membangun patung Kristus Raja yang menjadi ikon pariwisata Timor Leste dan simbol toleransi terhadap umat Katolik. 

Patung tersebut menjadi patung Yesus Kristus terbesar kedua di dunia setelah di Rio de Janeiro. Adalah suatu hal yang unik jika salah satu Negara mayoritas muslim terbesar di dunia memiliki patung Yesus Kristus terbesar kedua di dunia. 

Juga Soeharto memerintahkan pendirian Monumen Integrasi berbentuk liurai dengan borgol yang terputus di kedua tangan untuk memeringati perjuangan heroik rakyat Timor Leste dari penjajahan Portugis hingga bersatu dengan Indonesia.

Para guru, dokter, pengusaha sekaligus investasi didatangkan ke Timor Leste untuk memajukan pembangunan ekonomi dan pendidikan di daerah ini. Penggunaan bahasa Portugis dihapuskan dan diganti dengan bahasa Indonesia. Ini sebagai cara terbaik bahwa Timor Leste sekarang adalah Timor Lestenya orang Indonesia, bukan Timor Lestenya orang Portugis. 

[Baca Juga: Kenangan Terindah Bersama Indonesia,Perihnya Penjajahan Portugis (Bagian 2]

Mengenai penggunaan bahasa Indonesia ini tidak susah, karena orang-orang Timor Leste sudah banyak yang sehari-harinya menggunakan bahasa Indonesia. Ini baik karena orang-orang Timor Leste selama ini sudah hidup berdampingan dengan saudara-saudaranya di Timor Barat, Nusa Tenggara Timur, juga karena para toko APODETI yang dulu mempromosikan bahasa Indonesia kepada masyarakat Timor Leste. 

Perkembangan dunia pendidikan di zaman integrasi dengan Indonesia memang maju sangat pesat.  Karena, di propinsi ke-27 di zaman Orde Baru itu  dunia pendidikan sangat diperhatikan. Anak-anak Timor Leste banyak yang mendapat beasiswa dan disekolahkan di Pulau Jawa dan di pulau-pulau lain di Indonesia. Berbeda dengan di zaman penjajahan Portugis yang dunia pendidikan tidak mendapat perhatian apa-apa. Sehingga masyarakat Timor Leste seperti dibiarkan dalam kebodohan dan kemiskinan. 

Sangat disayangkan bahwa usaha pemerintah Indonesia yang begitu maksimal dalam memajukan Timor Leste,  dan memberikan perhatian penuh kepada anak kandung Timor Barat ini, tidak disambut positif oleh seluruh warga Timor Leste, terutama para elit Timor Leste sendiri yang memiliki banyak kepentingan pribadi di sana. 

Presiden RI Joko Widodo menerima Bintang Kehormatan dari Timor Leste (Antaranews)

Rasa senangnya warga Timor Leste karena bisa berintegrasi dengan Indonesia,  tidak didengar atau pura-pura tidak didengar oleh segelintir elite di Timor Leste. Para elite yang tidak suka dengan integrasi karena memiliki banyak kepentingan itu, selalu berusaha dengan segala macam cara untuk menjatuhkan citra Indonesia di mata dunia internasional dalam kaitan dengan kekuasaannya di Timor Leste. 

Salah satu citra negatif yang digembar-gemborkan ke dunia internasional adalah soal citra TNI. TNI selalu diberitakan negatif, seperti melakukan pembantaian terhadap masyarakat Timor Timur. Padahal, pada masa integrasi itu, banyak putra-putri Timor Leste yang mengabdi menjadi prajurit TNI, dan mereka sangat bangga dengan itu.

Mereka terus melobi-lobi dunia internasional, terutama Australia untuk mengusir Indonesia dari Timor Leste. Australia pasti tergiur dengan lobi-lobi yang dilakukan oleh segelintir elite Timor Leste. Kanapa? Itu tentu karena ada ladang minyak di Celah Timor Leste yang menjadi incarannya. Mustahil, kalau Australia tidak memiliki kepentingan ekonomi di sana. Mustahil kalau tidak ada kompensasinya. Tidak ada pengorbanan yang gratis bukan?

Karena kepentingan akan ladang minyak itulah Australia yang dulu mendukung integrasi Timor Leste, mulai berubah haluan. Mereka mulai menuduh Indonesia telah melakukan pelanggaran HAM berat di Timor Timur. 

Momentum dari Referendum

Tiba-tiba momentum untuk menyingkirkan Indonesia dari Timor Leste benar-benar tiba, yakni setelah jatuhnya rezim Orde Baru dan dimulai dengan orde reformasi. Rasa segan dan takut seperti yang terjadi di era pemerintahan Soeharto tidak ada lagi, karena mereka tahu kalau Indonesia sedang memasuki masa transisi. Apalagi, orang kuat seperti Soeharto jatuh kekuasaannya. 

Dan momentum paling emas itu pun tiba ketika Presiden BJ Habibie memutuskan untuk digelarnya Referendum. Referendum yang berada di bawah tanggung jawab UNAMET (United Nations Mission in East Timor) itu, oleh banyak kalangan di Timor Leste penuh dengan kecurangan yang tidak ada duanya. 

Bagaimana tidak curang kalau local staff hanya diambil dari orang-orang yang pro kemerdekaan alias lepas dari Indonesia? Sebagian besar lokasi TPS juga disengaja supaya lebih dekat dengan kantong-kantong pemukiman yang pro kemerdekaan. Para orangtua dan saudara yang memiliki anak atau saudara anggota milisi pro integrasi dilarang memilih. Bagi yang tidak pro kemerdekaan, diancam dengan keras. 

Hasil dari referendum itu adalah 79 % memilih merdeka, dan hanya 21 % memilih tetap bersatu dengan Indonesia.  Maka, apa yang terjadi, pertikaian pun kembali pecah, karena amukan masa dari yang pro integrasi yang merasa dicurangi. Ratap tangis kekecewaan pun terdengar dalam bisu, karena situsai langsung berubah, karena kepentingan asing benar-benar sudah mulai menguasai Timor Leste. (Bersambung…)

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Thomas Koten
Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?