• News

  • Sains

Kini, Kaum Bumi Datar Klaim Bentuk Bumi Seperti Donat

Ilustrasi bumi berbentuk donat atau torus.
Daily Stormer
Ilustrasi bumi berbentuk donat atau torus.

JAKARTA, NNC - Anggota Masyarakat Bumi Datar, Varaug, telah menunjukkan kemungkinan planet ini benar-benar seperti donat. Varaug mengaku bertanya-tanya bagaimana teori seperti teori Bumi Datar terbentuk.

Ia sampai pada kesimpulan bahwa seseorang pasti sudah memikirkan ide aslinya dan kemudian diikuti oleh serangkaian panjang orang yang menunjukkan kekurangan dan kemudian menyesuaikan kembali teori (atau memikirkan ide-ide baru) untuk mengatasi kekurangan dalam teori.

"Mereka menyatakan teori mereka, dan kemudian mengundang sesama anggota untuk menyampaikan argumen. Saya memiliki teori bahwa Bumi sebenarnya berbentuk seperti torus (bentuk donat). Namun, cahaya melengkung jadi kami tidak bisa memberi tahu," kata Varaug, dilansir dari laman Unilad, Jumat (9/11/2018).

Pertanyaan pertama adalah bagaimana kita bisa tahu apakah cahayanya melengkung?. Varaug menyatakan, merujuk Flat Earth Societybahwa gelombang radio direfleksikan oleh atmosfer, sehingga tidak perlu menyiapkan beberapa menara untuk mentransmisikan gelombang radio dalam jarak yang sangat jauh.

Demikian pula, gelombang cahaya tercermin dengan cara yang sama. Jadi, ketika melihat ke seberang, cahayanya berkurang saat ia bergerak, dan pada saat ia mencapai atmosfer, ia cukup berkurang untuk direfleksikan.

Cahaya kemudian akan mengenai sudut atmosfer yang lain dan seterusnya dan seterusnya, melengkung setiap waktu.

Ketika ditanya bagaimana ada malam dan siang, Varaug mengumpamakan untuk meletakkan sebuah obor horizontal di atas meja dan menyalakannya. Lantas, letakkan donat di sisi obor dengan lubang donat tegak lurus dengan obor. Sisi yang diterangi obor ialah siang hari.

"Lebih dari 24 jam, donat melakukan satu revolusi lengkap. Ketika donat berputar setengah jalan (Matahari mengelilingi Bumi) berarti ia telah mengalami perputaran 12 jam," kata Varaug.
   

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P

Apa Reaksi Anda?