Sabtu, 25 November 2017 | 06:59 WIB

  • News

  • Singkap Sejarah

Inilah Kesamaan dan Perbedaan antara Ali Sadikin dan Ahok dalam Memimpin Jakarta

Ali Sadikin dan Basuki Tjahaja Purnama
ijn
Ali Sadikin dan Basuki Tjahaja Purnama

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah tulisan di Netralnews ini, saya menyitir tentang kesamaan antara mantan gubernur Ali Sadikin yang lebih disapa dengan Bang Ali, dan Basuki Tjahaja Purnama yang lebih dikenal dengan panggilan Ahok

Kesamaan yang saya sitir dalam tulisan kali lalu, adalah tentang kegalakkan dan keberhasilan serta kecerdasan, yang kemudian mereka menjadi tokoh yang disayangi setelah itu. Bang Ali dan Ahok dalam kesamaan mereka disandingkan dengan Sutiyoso, yang dikemas dalam judul, Inilah 3 Gubernur Jakarta Paling Galak, Tetapi Paling Berhasil dan Disayangi.

Sejak dilantik jadi gubernur menggantikan Jokowi yang terpilih jadi Presiden RI pada pemilu 2014, Ahok, lngsung berujar, “Saya ingin dikenang seperti Ali Sadikin." Sebuah ungkapan yang memang langsung dieksplorasinya dalam tindakan memimpin Jakarta.

Niat yang tersembul di balik ungkapan itu  memang tidak terlalu bermasalah, mengingat karakter dasar yang dimiliki seorang Ahok, memang  secara umum ada kesamaan dirinya dengan Ali Sadikin; yaitu dalam hal sikap dan karakternya; seperti  ketegasan, keberanian, dan kecerdasan.

Menurut banyak kalangan, karakter yang dimiliki kedua tokoh ini, seperti tegas, berani dan cerdas, memang sangat cocok untuk memimpin Jakarta. Jakarta memang butuh pemimpin seperti itu.

Kepemimpinan dengan karakter seperti itu, memang sejak lama dilihat oleh Bung Karno ketika mengangkat Bang Ali untuk memimpin Jakarta

Itu bisa terlihat di balik alasan pengangkatan Bang Ali ketika itu, di mana saat Bung Karno mencari sosok yang kopech, berani, cerdas dank eras kepala untuk memimpin Jakarta, Waperda Leimena langsung menyebut Brigjen KKO Ali Sadikin.

Keberanian, kecerdasan dan ketegasan yang dimiliki Bang Ali dan dikehendaki Bung Karno, memang terlihat dari segala kebijakan Ali yang melabrak banyak rambu-rambu moral dan keinginan masyarakat saat  kepemimpinannya berjalan separti kebijakannya melegalkan judi dan prostitusi.

Hasil pajak dari bisnis haram yang dilegalkan itu benar-benar digunakan untuk membangun Jakarta yang dari kekumuhan menjadi bertaburan berbagai gedung yang megah dan memiliki makna historik. 

Keberanian, ketegasan dan kecerdasan itu memang dimiliki juga oleh Ahok yang terlihat dalam berbagai kebijakan, seperti  menentang arus membongkar dan menyulap Kalijodo dari arena prostitusi menjadi taman bermain yang indah dan berbagai kebijakan lainnya.

Perbedaan, terlihat dari rekam jejak sebelum menjadi gubernur DKI. Sebelum menjabat Menteri Maritim, ia adalah jenderal marinir yang disegani. Cerita keberaniannya memimpin pasukan dalam pertempuran menghadapi Permesta pada masa awal kemerdekaan diapresiasi banyak orang.

Tanpa bermaksud diskriminatif, harus diakui bahwa Ahok memiliki kelemahan, yang biasa disebut minoritas dalam tiga sisi: etnis, agama, dan asal daerah. Ahok memang pernah menjadi bupati satu tahun dari PIB sebelum mencalonkan jadi gubernur Babel. Ahok juga sebelum jadi gubernur, ia lebih dulu menjadi wakil gubernur.

Ia masuk DPR lewat Partai Golkar dan memenangi pemilukada DKI sebagai Wagub dari Gerindra. Ia keluar dari Gerindra dan diprediksi akan masuk ke PDIP—partai yang sangat mendukungnya dalam proses pelantikan menjadi gubernur. Inkonsistensinya dalam berpartai ini menuai kritik banyak kalangan.

Karena Ahok ingin meniru Ali Sadikin, di sini dikemukakan beberapa gebrakan pembangunan Ali Sadikin agar bisa dibandingkan dengan gebrakan Ahok, yang pernah dilansir oleh sejumlah media seperti Republika yang dielaborasi di bawah ini.

 Pertama, cara Ali Sadikin menyiasati sangat minimnya APBD DKI dengan tantangan pembangunan yang begitu banyak. Ia melihat judi merajalela dan dibekingi oknum jenderal. Ia pun melegalkan dan melokalisasi judi agar bisa diambil retribusinya.

Uang retribusi dari judi Hwa-Hwe yang ia pungut memang bisa menyangga pembangunan DKI, tapi mendapatkan reaksi keras masyarakat. Untuk para jenderal, ia berteriak, "Di Jakarta memang banyak jenderal, tapi jenderal yang gubernur hanya saya!"

Sementara, untuk kalangan agama, ia berkata, "Itu tokoh Islam M Natsir kalau keluar rumah naik helikopter saja agar tidak menginjak jalan yang dibangun dari dana judi!"

Untuk memperlebar jalan, dia memotong bangunan yang dimulai dari almamaternya, Markas Besar Angkatan Laut, di Jalan Gunung Sahari. Sedangkan, ketika Pasar Senen hangus dibakar massa pada Peristiwa Malari 1974, Ali Sadikin menggaet Bank Dunia untuk membangunnya kembali. Bahkan juga berlanjut pada Proyek Husni Thamrin untuk membangun perkampungan kumuh di Jakarta.

Ketika akan memperluas pusat-pusat aktivitas ekonomi di kawasan Tanah Abang, Ali Sadikin terbentur pada kompleks permakaman Arab yang sulit direlokasi. Maka dia berteriak dari Balai Kota, "Alangkah sulitnya kita membangun di Jakarta ini. Kita kesulitan untuk orang hidup, bagaimana kalau orang mati itu dikubur saja secara berdiri supaya efisien?"

Ia juga mewasiatkan agar setelah wafat, jenazahnya dikubur satu liang dengan istrinya. Sebagai bentuk protes atas pidato keras ini, beberapa orang mondar-mandir mengusung keranda di depan Balai Kota dan depan kediamannya di Jalan Borobudur.

Untunglah Buya HAMKA berhasil meredakan suasana dengan mengatakan bahwa gebrakan Ali Sadikin tidak sepenuhnya salah. Beliau merujuk pada kompleks pekuburan di Makkah dan Madinah yang sudah lama, dibuka kembali untuk ditimbun jenazah baru.

Akhirnya, kompleks permakaman Tanah Abang bisa direkolasi ke pinggiran kota dan lahannya bisa dibangun berbagai fasilitas umum, termasuk gedung pendidikan Said Naum.

Dalam bidang kebudayaan, tonggak prasasti peninggalan Ali Sadikin ialah kompleks Taman Ismail Marzuki. Kemudian juga pelembagaan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) yang tujuan utamanya agar kegiatan MTQ ditangani panitia yang tetap, bukan "panitia borongan" saat event itu dilaksanakan.

Saat berkesempatan menunaikan ibadah haji pada 1974, Ali Sadikin tidak hanya fokus pada ritual ibadah semata. Ia juga berkeliling meninjau pemondokan jamaah haji Indonesia yang tersebar di rumah-rumah syeikh, yang dianggapnya tidak manusiawi.

Atas dasar itulah, sepulangnya dari Tanah Suci, ia menggandeng Dirjen Bimas Islam untuk menyelenggarakan seminar nasional yang salah satu hasilnya merekomendasikan pengorganisasian jamaah haji dalam kelompok-kelompok yang teratur, mirip pengorganisasian pengiriman pasukan militer ke suatu wilayah yang disusun dari regu, peleton, kompi, batalion, dan resimen.

Rekomendasi ini langsung ia praktikkan pada musim haji berikutnya dengan membentuk kafilah haji DKI yang juga disubsidi khusus dari APBD.

Suatu peristiwa penting lain yang patut dicatat dalam perjalanan haji Ali Sadikin ialah pertemuan silaturahim dengan M Natsir guna mencairkan ketegangan antara Ali Sadikin dan tokoh Islam di Tanah Air karena banyak ditindaklanjuti dengan pertemuan masyarakat agama di Jakarta.

Ahok sering mucul di pemberitaan utama karena sering menunjukkan aksi galaknya secara terang-terangan. Ahok tidak segan-segan memarahi oknum yang lalai menjalankan tugasnya, aksinya dalam memarahi orang tersebut bisa dilihat dari berbagai video yang diupload ke YouTube.

Perseteruan Ahok dan Haji Lulung mengenai suatu anggaran pun pernah menjadi populer, kedua saling beradu mulut di depan televisi.

Namun di balik sifat pemarahnya tersebut ia sangat disegani oleh lawan politiknya, tidak hanya itu beberapa program yang disusun oleh Ahok bisa disebut berhasil, walau pun belum semua rencananya berhasil, namun ia membawa warna tersendiri untuk mengubah wajah Batavia ke arah lebih baik.

Sejumlah prestasi Ahok yang layak dikenang sebagai wujud dari sikap tegas dan berani Ahok adalah berhasil membebaskan tempat prostitusi yang paling fenomenal di Jakarta yakni kawasan Kalijodo, dengan mengubah wajahnya menjadi taman kota yang indah.

Juga pembangunan Simpang Susun Semanggi, yang dikenal dengan sebutan SSS, yang memang sangat indah dan fenomenal, dan dana yang tersisa masih sekitar 200 juta lebih. Sesuatu yang sangat jarang terjadi.

 

Editor : Thomas Koten
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?