• News

  • Singkap Sejarah

Kisah Perih Marie, Gundik di Tangsi Purworejo

Marie, wanita keturunan serdadu Afrika.
Collectie Prentenkabinet Universiteit Leiden
Marie, wanita keturunan serdadu Afrika.

JAKARTA, NNC - Tahun 1870, banyak pemuda Eropa berdatangan ke Hindia Belanda (baren). Di awal kedatangan mereka, para baren belum mampu mempunyai banyak babu, jongos, dan pelayan lain.

Sebelum menjadi kaya dan bisa memperistri orang Eropa, mereka memilih mencari babu yang bisa sekaligus menjadi teman tidur, alias gundik atau nyai. Pilihan ini adalah pilihan paling efisien sampai menuju karier yang lebih gemilang.

Salah satu kota tempat perekrutan pemuda Eropa untuk tenaga serdadu di Hindia Belanda, adalah di Hardewijk, Belanda. Mereka yang direkrut tidak hanya dari Belanda, tapi juga dari Jerman, Swis, Prancis, Austria, dan Polandia.

Namun, kebanyakan yang mendaftar di Hardewijk, ternyata adalah kumpulan petualang, orang miskin, asosial, dan kriminal. Maka, tempat itu kemudian mendapat julukan “lubang got” Eropa.

Walau berasal dari kaum buangan di Eropa, setibanya di Hindia Belanda, mereka berubah menjadi kaum elite. Anugerah sekonyong-konyong jatuh dari langit. Mereka naik ke papan atas, karena berkulit putih. Semua inlander akan menyembah dan patuh kepada mereka. Para baren ini sangat menikmatinya.

Pada tahun 1898, tentara kolonial berjumlah 42.000 orang, sebanyak 18.000 di diantaranya adalah serdadu Eropa. Selebihnya dari pribumi dan dari Afrika yang direkrut di Elmina, Ghana. Total jumlah serdadu Kolonial Belanda hingga tahun 1909 adalah 177.000 orang. Mereka tersebar di setiap kota strategis yang telah dikuasai Pemerintah Kolonial Belanda.

Salah satu kota tempat serdadu Afrika adalah di Kota Purworejo, Jawa Tengah (Reggie Bay, 2002: 250-251). Di dalam tangsi, mereka hidup bersama gundik. Salah satu gundik itu bernama Nikem. Anak hasil pergundikan Nikem adalah Marie atau Olus (nama Afrika).

Ayah Marie merupakan anggota tentara KNIL asal Afrika. Di suatu hari, tanpa suatu sebab, ayahnya meninggal mendadak, tepat saat ia menggendong Marie yang masih balita. Nikem datang dan melihat Marie menangis dalam pelukan ayahnya yang telah tiada.

Nikem menjadi terganggu kejiwaannya (orang menyebutnya gila) karena sedih yang mendalam. Ia sering memanjat pohon asam. Warga sampai kesulitan membujuknya agar turun dari pohon. Agar sembuh dari dukanya, ia pun diberikan obat agar terhindar dari gangguan jiwa. Ia harus berendam air seni para lelaki Afrika yang telah ditampung dalam tong. Nikem pun sembuh.

Saat Marie dewasa, ia lari meninggalkan Purworejo karena merasa terancam hidupnya oleh kakak iparnya. Ia berjalan menyusuri rel kereta api. Selanjutnya lama tidak diketahui rimbanya. Namun, tiba-tiba ia ditemukan sudah menjadi gundik tentara, di lain kota di Jawa Tengah.

Ia terus berpindah-pindah mengikuti sang majikan di setiap pemindahan tugasnya, termasuk sampai ke Aceh. Saat di Aceh, tuannya kembali ke Eropa. Ia kemudian diambil-alih oleh rekannya, serdadu Belanda yang bernama Hendrik.

Hendrik lahir di Rotterdam, Belanda, 1883, dan menjadi tentara Hindia Belanda pada tahun 1903. Dari hasil pergundikannya dengan Marie, lahir putra pertama mereka tahun 1908. Tahun 1911, Hendrik sempat pindah tugas ke Pulau Seram.

Selama bertahun-tahun Marie menemani Hendrik berpindah-pindah tugas. Seorang pendeta menganggap hubungan mereka sebagai aib. Atas desakan pendeta itu, mereka pun memutuskan menikah resmi pada 21 Maret 1914, setelah mempunyai tiga anak.

Marie termasuk gundik yang beruntung. Hendrik mempertahankan keberadaannya dan mengakui anak-anaknya. Hendrik dan Marie sempat kembali ke Purworejo dan mengelola kantin di barak-barak militer di kota itu.

Tatkala perang meletus, mereka berhasil menyelamatkan diri. Pengakuan kedaulatan Republik Indonesia di tahun 1950 pasca-Konferensi Meja Bundar, memaksa mereka hengkang dari Jawa. Hendrik memutuskan kembali ke Rotterdam, Belanda.

Hendrik meninggal tahun 1956. Marie masih sempat hidup bertahun-tahun bersama anak perempuannya di Zeeland. Selama hidup di negeri yang baru tersebut, tak pernah terdengar keluhan dari mulutnya. Ia sudah terbiasa dan berdamai dengan nasibnya. Marie meninggal pada 6 Januari 1974 di usia 87 tahun di Goes, Zeeland.

 

(Bersambung)

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?