• News

  • Singkap Sejarah

Sejak Kapan Tradisi Mudik Dimulai? Ini Sejarahnya

Ilustrasi kepadatan saat mudik Lebaran.
Breaking News
Ilustrasi kepadatan saat mudik Lebaran.

JAKARTA, NNC - Setiap tahun Kementerian Perhubungan, melalui dinas terkait, dan instansi lainnya yang berwenang melayani, selalu disibukkan dengan tradisi para warga yang pulang ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri

Namun, instansi-instansi tersebut selalu berusaha memberikan layanan dan fasilitas yang terbaik untuk warga yang ingin berlebaran di kampung halaman atau dikenal dengan istilah mudik.

Sebenarnya, mudik secara kolosal itu sendiri sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, sehingga fenomena ini sudah membudaya di kalangan masyarakat.

Tradisi mudik tidak hanya terjadi saat menjelang Idul Fitri, menjelang Natal atau Tahun Baru pun juga terjadi arus mudik. Hanya saja, secara kuantitas lebih banyak terjadi saat menjelang Idul Fitri. Hal ini tentu saja karena mayoritas warga Indonesia, terutama di Jawa adalah kaum muslim.

Ternyata, tradisi mudik Lebaran ini bukan sekadar pulang kampung biasa, melainkan memiliki nilai spiritual, yakni untuk berkumpul bersama keluarga, bersilaturahmi, dan saling mengucapkan Selamat Idul Fitri setelah sebulan penuh melakukan pendadaran puasa.

Dengan tujuan suci itulah orang-orang rela antre, berdesak-desakan, serta terjebak kemacetan panjang demi bisa melaksanakan tradisi dan berkumpul bersama keluarga di hari yang fitri.

Fenomena mudik lebaran di Indonesia memang unik dan jarang ditemukan di negara lain. Sehingga, orang dari negara lain terkadang hanya geleng-geleng kepala melihat fenomena mudik yang sangat berbeda di negaranya.

Bagaimana tidak geleng-geleng kepala jika melihat jutaan orang berbondong-bondong dengan kadar kemacetan yang sangat parah di jalan, sekaligus bisa memakan korban lalu lintas yang tidak sedikit? Lantas, bagaimana awal mula tradisi mudik lebaran di Indonesia, yang dari tahun ke tahun semakin heboh itu?

Awal Mula Tradisi Mudik
Dahulu antara mudik dan Lebaran tidak memiliki kaitan satu sama lain. Dalam Bahasa Jawa ngoko, mudik berarti ‘mulih dilik’ yang berarti 'pulang sebentar saja'. Namun kini, pengertian mudik dikaitkan dengan kata ‘udik’ yang artinya kampung, desa, atau lokasi yang menunjukan antonim dari kota. Lantas pengertian ini ditambah menjadi ‘mulih udik’ yang artinya kembali ke kampung atau desa saat Lebaran.

Jika ditanya, sejak kapan tradisi mudik ini dimulai, tidak ada jawaban yang akurat. Tidak ada catatan yang bisa memastikan kapan mudik Lebaran pertama kali dilakukan.

Sebenarnya tradisi mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang sudah berjalan sejak sebelum zaman Kerajaan Majapahit. 

Pada zaman Majapahit, para perantau pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam para leluhurnya. Tradisi tersebut semakin menjadi fenomena yang kian bertambah terjadi di zaman kolonial, sekitar tahun 1920-an, yang dilakukan oleh orang-orang semenjak Batavia menjadi kota paling besar di zaman kolonial dan kini telah berubah menjadi Jakarta dan tetap menjadi kota terbesar di Indonesia.

Pada zaman kolonial, orang-orang sudah melakukan urbanisasi ke kota dan Batavia adalah salah satu tujuan utamanya. Di kota ini, sebagai kota yang mulai tumbuh, membutuhkan banyak pekerja, baik untuk sektor formal maupun informal. Kebutuhan akan pekerja ini menarik banyak orang dari daerah sekitarnya.

Dari situ mudik lalu diartikan sebagai aktivitas orang-orang yang tinggal di Batavia untuk pulang ke kampung halaman mereka masing-masing. Mudik ini menjadi petunjuk jelas bahwa Batavia adalah pusat, sementara yang daerah lainnya yang disebut udik itu adalah pinggiran.

Namun istilah 'mudik Lebaran' baru berkembang sekitar tahun 1970-an. Saat itu Jakarta sebagai ibukota Indonesia tampil menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mengalami perkembangan pesat.

Saat itu sistem pemerintahan Indonesia tersentral di sana dan ibukota negara melesat dengan berbagai kemajuannya, dibandingkan kota-kota lain di Tanah Air. Bagi penduduk lain yang berdomisili di desa, Jakarta menjadi salah satu kota tujuan impian untuk mereka mengubah nasib.

Lebih dari 80 persen para urbanis datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Mereka yang sudah mendapatkan pekerjaan, biasanya hanya mendapatkan libur panjang pada saat Lebaran saja. Momentum inilah yang dimanfaatkan untuk kembali ke kampung halaman.

Hal ini terus berlanjut dan semakin berakar ketika banyak urbanis yang mencoba peruntungannya di kota. Tidak hanya di Jakarta, tradisi perpindahan penduduk dari desa ke kota juga terjadi di ibukota provinsi lainnya di Indonesia. Terlebih dengan diterapkan otonomi daerah pada tahun 2000, maka orang semakin banyak mencari peruntungan di kota.

Sama seperti halnya di Jakarta, mereka yang bekerja di kota hanya bisa pulang ke kampung halaman pada saat liburan panjang, yakni saat libur Lebaran. Sehingga momentum ini meluas dan terlihat begitu berkembang menjadi sebuah fenomena yang semakin menjadi tradisi.

Tujuan Lain dari Mudik
Media juga memiliki andil besar dalam mem-branding kegiatan pulang kampung ini menjadi sebuah tradisi wajib saat Lebaran. Dengan adanya program perusahaan dan pemerintah yang memudahkan kegiatan pulang kampung, tradisi ini pun semakin berakar.

Namun ada hal-hal yang membuat perantau wajib melaksanakan pulang kampung. Pertama, mudik menjadi jalan untuk mencari berkah, karena bisa bersilaturahmi dengan keluarga, kerabat dan tetangga. Kegiatan ini juga menjadi pengingat asal usul daerah bagi mereka yang merantau.

Kedua, tradisi mudik juga untuk menunjukkan eksistensi keberhasilannya bertahan hidup di kota. Selain itu, ketiga, juga ajang berbagi kepada sanak saudara yang telah lama ditinggal untuk ikut merasakan keberhasilannya dalam merantau.

Mudik juga menjadi terapi psikologis memanfaatkan libur Lebaran untuk berwisata setelah setahun sibuk dalam rutinitas pekerjaan, sehingga saat masuk kerja kembali memiliki semangat atau spirit baru.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?