• News

  • Singkap Sejarah

Ternyata Soekarno Pernah Menangis Karena Ingin Main Petasan

Presiden pertama Soekarno
Istimewa
Presiden pertama Soekarno

JAKARTA, NNC - Merayakan Lebaran atau Idul Fitri, bagi anak-anak rasanya tidak seru jika tanpa menyalakan kembang api atau petasan. Semua anak di kampung dan di kota,  menunggu saat-saat menyenangkan tersebut.
 
Tradisi menyalakan petasan sudah ada sejak zaman baheula. Kenangan menyalakan kembang api atau petasan pasti dimiliki oleh hampir semua orang Indonesia. Tak peduli ia bangsawan, rakyat jelata, pejabat atau bukan, pasti mempunyai kenangan tersebut.
 
Termasuk Soekarno, Presiden pertama Indonesia. Ia juga pernah merasakan masa-masa menjadi anak kecil yang suka menyalakan petasan. Namun ternyata, di balik ketenaran Presiden pertama kita tersebut, ternyata menyimpan kisah sedih yang terjadi saat Lebaran.
 
Seperti dikisahkan Cindy Adam dalam bukunya “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” (1984: 31-33), di hari kemenangan yang seharusnya bergembira, kala itu Soekarno kecil justru dilanda sedu-sedan. Saking sedihnya, ia bahkan sempat berkata, “Mau mati aku rasanya.”
 
Coba tebak apa penyebabnya? Pernah merasakan masa-masa menjadi anak-anak? Bagaimana jika hal yang paling menyenangkan dan dirindukan tidak terpenuhi? Rasanya seperti menjadi anak yang paling malang sedunia, bukan?
 
Soekarno dilahirkan bersamaan mentari terbit di ufuk Timur di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901. Karena itulah, ia sering disebut sebagai Putera Sang Fajar.
 
Ibunya seorang keturunan bangsawan Bali bernama Idayu, dan ayahnya keturunan bangsawan Kediri bernama Raden Sukemi Sosrodihardjo.
 
Namun, status sosial sebagai keturunan bangsawan ternyata tidak menjamin status ekonomi orang tuanya. Kedua orang tuanya hidup dalam keterbatasan. Soekarno sendiri menyebutnya, “Aku dilahirkan di tengah-tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam kemiskinian.”
 
Saat ia berusia enam tahun, keluarganya pindah ke Kota Mojokerto, Jawa Timur. Di kota ini, ia habiskan masa kecilnya seperti rakyat jelata pada umumnya. Ia tak pernah mempunyai sepatu. Ia tak pernah mandi dengan air dari kran (ledeng). Ia makan dengan tangan, tanpa sendok dan garpu.
 
Keluarganya hidup dari mengandalkan gaji bapaknya sebagai seorang guru, yaitu sebesar 25 gulden sebulan. Gaji tersebut digunakan untuk membiayai sewa rumah 15 gulden.
 
Selebihnya untuk biaya makan dan kebutuhan sehari-hari bapaknya, ibunya, Soekarno, dan Sukarmini yang merupakan kakak perempuan Soekarno. Semua serba mepet.
 
Untuk mengurangi biaya hidup keluarganya, ibunya selalu mengatur, baik porsi maupun berapa kali harus makan. Soekarno kecil dibiasakan makan sekali sehari. Yang lebih sering dikonsumsi adalah ubi kayu, jagung tumbuk, dan kadang nasi.
 
Bila ingin makan nasi, ibunya membeli padi yang masih berkulit, lalu menumbuknnya hingga menjadi beras yang bisa dimasak. “Dengan melakukan ini, aku menghemat uang satu sen,” kata ibunya suatu ketika.
 
Soekarno kecil menjadi paham mengapa ibunya mau bersusah payah dan membiarkan tangannya menjadi merah dan kadang melepuh. Ia menjadi tahu pula bahwa uang satu sen yang disisihkan itu, kemudian digunakan untuk membeli sayuran. Makan bersama, sesekali menjadi lebih enak.
 
Maka, Soekarno kecil lama-kelamaan menjadi paham siapa dirinya dan keluarganya. Ia menjadi terbiasa dengan masa kecil yang tanpa barang mainan atau makanan berlimpah. Namun, bukan berarti tidak pernah marah dengan nasib yang ia alami. Namanya anak, tetaplah anak.
 
Saat yang paling menyedihkan bagi Soekarno kecil adalah Lebaran. Masa di mana umat Islam merayakan hari kemenangan setelah berpuasa sebulan lamanya, ternyata menjadi hari yang pilu baginya.
 
Lebaran selalu identik dengan berpesta dan berfitrah (bermaaf-maafan). Puncak perayaan sebenarnya terjadi di malam lebaran, yaitu malam takbiran. Di saat itulah, semua anak laki-laki mengikuti takbiran sambil menyalakan petasan.
 
Namun, keluarganya tidak mempunyai uang. Soekarno kecil tidak bisa membeli petasan. Ia protes situasi tersebut dengan menangis tersedu di dalam kamarnya.
 
Di kamarnya yang sempit dan berdinding bilik bambu, hatinya gundah dan merasa menjadi anak yang sangat malang. Sambil mengintip dari lubang-lubang bilik kamar, ia melihat dengan hati iri terhadap sekelilingnya. Terdengar suara petasan dan soarak-sorai
anak-anak dalam kegembiraan.
 
Soekarno kecil tak kuasa. Ia memprotes atas nasibnya. Mengapa semua anak laki-laki di luar sana bisa membeli petasan seharga satu sen, sementara ia tidak bisa? Alangkah dahsyatnya kekecewaan hatinya sehingga ia sampai berkata, “Mau mati aku rasanya.”
 
Tak puas dengan tersedu-sedu di kamar tidur, ia pun keluar kamar. Sambil menangis dan mengumpat, ia berkata pada ibunya, “Dari tahun ke tahun, aku selalu berharap-harap, tapi tak sekalipun aku bisa melepaskan mercon (petasan).”
 
Namun, setelah menyampaikan kekecewaannya pada ibunya, sesuatu terjadi. Ia sangat menyesalkan mengapa bisa menangis dan mengumpat seperti itu kepada ibunya yang sangat ia cintai.
 
Malam Lebaran berikutnya, datanglah seorang tamu yang mencari bapaknya. Tamu itu membawa bingkisan yang kemudian diberikan bapaknya kepada Soekarno kecil. Ia gemetar menerima hadiah itu. Apa isinya? Sesuai harapannya, petasan.
 
Betapa terharunya hati Soekarno kecil, “Tak ada harta, lukisan, ataupun istana di dunia ini yang dapat memberikan kegembiraan kepadaku seperti pemberian itu.” Kejadian itu tak pernah bisa dilupakan hingga Soekarno menjadi orang nomer satu di Indonesia.  
Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?