• News

  • Singkap Sejarah

Sarekat Islam Meminta Romo Van Lith Duduk di Volksraad, Kok Bisa?

Van Lith SJ
Majalah Hidup
Van Lith SJ

JAKARTA, NNC - Pada 1918 Romo Van Lith diusulkan oleh Sarekat Islam (SI) Cabang Serang agar berkenan mewakili SI menjadi anggota Volksraad (semacam Dewan Perwakilan Rakyat bagi Hindia Belanda).

Van Lith merupakan seorang pastor (imam Katolik) yang dikenal sebagai misionaris atau penyebar agama Katolik di Jawa. Namun, ia diminta mewakili organisasi Islam. Permintaan tersebut salah satunya didukung oleh tokoh Haji Agus Salim. Bagaimana "kerja sama" ini bisa terjadi?

Mengenal Sosok Van Lith
Van Lith lahir di Kota Oirschot, Belanda, pada 17 Mei 1863. Setelah menamatkan sekolah teologi di kota kelahirannya, ia mendaftarkan diri ke Gereja Katolik Belanda untuk menjadi sukarelawan bagi karya pendidikan di Hindia Belanda.

Pada 1896, Van Lith tiba di Semarang, Jawa Tengah. Ia segera mempelajari budaya Jawa, baik kesenian, bahasa, tradisi, tata nilai, maupun struktur sosialnya. Menurut catatan JB Soedarmanta dalam bukunya “Pater Beek, SJ, Larut tetapi Tidak Hanyut” (2008: 36), Van Lith menyebut orang Jawa sebagai vershoppeling, artinya terhina di negerinya.

Kemudian pada 1897, ia mulai mendirikan lembaga pendidikan bagi anak bumi putera di Muntilan, Jawa Tengah. Ia juga salah satu perintis seminari yang kemudian melahirkan tokoh Katolik awal seperti IJ Kasimo dan Mgr Soegijapranata. Pendidikan baginya adalah salah satu jalan agar orang Jawa mampu bangkit memperjuangkan haknya.

Sistem pendidikan yang dijalankan Van Lith bersendikan pada pembiasaan hidup disiplin. Kedisiplinan adalah cara membangun watak, yaitu kejelasan dalam bersikap dan keteguhan untuk mencapai tujuan. "Disiplin adalah pintu segala bentuk keberhasilan seseorang dalam memperoleh sesuatu."

Pada salah satu tulisannya, ia menyatakan, “Tujuan kami adalah meningkatkan perkembangan (ontwilkkeling) anak-anak Jawa agar tangguh. Dan sesudah mereka tersebar di Jawa, kita akan lihat pertumbuhan benih-benih pertama itu.”

Kurikulum sekolah yang diterapkan Van Lith, di kemudian hari, ternyata menjadi inspirasi bagi organisasi lain. Bahkan ia kemudian diangkat sebagai anggota Dewan Pendidikan (Onderwijsraad) oleh Pemerinah Kolonial Belanda pada 1918.

Dunia Pendidikan Tak Mungkin Menghindari Politik
Pada November 1918, Gubernur Jenderal Graaf Van Limburg Stirum sempat memberikan semacam signal janji 'kemerdekaan' bagi bangsa Indonesia. Pernyataan tersebut dikenal sebagai 'November Belofte' atau 'November Veerklaring'. Janji ini mendapat respon beragam dari tokoh pergerakan.

Kebijakan tersebut disusul dengan pembentukan Komisi Peninjauan Kenegaraan Hindia Belanda (Commissie tot Herziening van de Grondslagen der Staatsinrichting van Nederlandsch-Indië). Komisi ini mengundang Van Lith untuk dimintai gagasannya tentang tata negara Hindia Belanda.

Dalam komisi ini, Van Lith adalah salah satu tokoh yang menyampaikan tuntutan agar Pemerintah Kolonial memberikan kursi Parlemen (Volksraad) bagi kaum pribumi, agar kaum pribumi dapat bersuara. Tuntutan ini kemudian dikabulkan.

Pada 1922, ia pernah menulis brosur berjudul "De Politiek van Nederland ten Opzichte van Nederlandsch Indie". Dalam brosur tersebut disebutkan bahwa Gereja Katolik mendukung perjuangan orang pribumi mencapai pemerintahan sendiri.

“Suku-suku bangsa Hindia Belanda berhak berusaha ke arah penataan negara sendiri sebagai sarana guna menyelenggarakan kesejahteraan rakyat sesuai dengan kepentingan nasional,” demikian salah satu kutipan dalam brosur tersebut.

Kerja Sama dengan Tokoh Pergerakan
Tuntutan dan pernyataan Van Lith dalam memperjuangkan hak politik bagi bumi putera akhirnya dikenal kalangan aktivis pergerakan. Ia didatangi banyak tokoh seperti Soekarno, Ahmad Dahlan, dan Agus Salim.

Akibat kedekatannya dengan tokoh pergerakan, Van Lith terdaftar sebagai orang yang selalu diawasi gerak-geriknya oleh intelijen Hindia Belanda. Konon, ia dicurigai termasuk dalam kelompok yang dianggap mempengaruhi orang pribumi untuk merdeka.

Karena latar belakang itulah, Agus Salim yang kala itu ikut memimpin Sarekat Islam mengusulkan agar Van Lith berkenan mewakili SI untuk duduk dalam Volksraad. Namun, Van Lith menolak. Ia menghormati aturan gereja yang melarang seorang pastor menduduki jabatan politik maupun pemerintahan (berpolitik praktis).

Sarekat Islam akhirnya mengirim HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis sebagai anggota Volksraad. Kedua orang tersebut akhirnya duduk dalam Volksraad. Namun pada 1921, mereka mengundurkan diri karena ingin konsentrasi memimpin SI.

Setelah itu, Agus Salim menggantikan HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis selama empat tahun (1921-1924) di Volksraad. Namun, di tahun kelima ia juga memutuskan keluar, karena selama di Volksraad, ia merasa tidak bisa berbuat banyak dalam upaya mengubah keadaan.

Sementara itu, pada 1920, Van Lith kembali ke Belanda untuk berobat. Saat akan kembali lagi ke Jawa, ia sempat dihalangi pemerintah Kolonial. Beberapa tahun setelah sampai di Jawa, tepatnya pada Januari 1926, Van Lith wafat dan dimakamkan di Muntilan.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?