• News

  • Singkap Sejarah

Kiprah Pelajar Islam Indonesia (PII), dari Revolusi hingga Melawan PKI

Logo PII.
Istimewa
Logo PII.

JAKARTA, NNC - Sudah semestinya, setiap generasi muda Indonesia proaktif dalam memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara Indonesia. Sejalan dengan itulah, Pelajar Islam Indonesia (PII) selalu aktif dalam menanggapi panggilan zaman.

Cikal bakal PII sudah bersemi sejak awal kemerdekaan. Selanjutnya, berturut-turut tidak pernah berdiam diri menunggu uluran tangan generasi tua. Organisasi ini aktif berperan di zaman revolusi hingga masa-masa di mana Indonesia dikepung kekuatan kiri (komunis).

PII dan PII Wati berdiri
Pendirian PII digagas oleh aktivis Islam bernama Joesdi Ghazali. Gagasannya kemudian mendapat dukungan sejumlah tokoh Islam lainnya, seperti Anton Timur Djaelani, Amien Syahri, Ibrahim Zarkasji, Yahya Ubeid, Multazam, Shawabi, Dida Gursida, dan Supomo NA.

Pada 4 Mei 1947, dalam suatu pertemuan khusus yang bertempat di Kantor Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), Jalan Margomulyo 8, Yogyakarta, mereka sepakat mendirikan organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Kemudian tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Bangkit PII (Harba PII).

Selang 16 tahun kemudian, tepatnya 31 Juli 1963, dalam pertemuan Training Centre (TC) Keputerian PII se-Indonesia di Surabaya, Jawa Timur, dibentuk pula satu cabang organisasi baru, namanya Korps PII Wati.

Organisasi ini khusus ditujukan untuk mengangkat peran pelajar perempuan agar lebih dipandang. Seringkali, peran pelajar perempuan Islam seolah-olah hanya mengurusi konsumsi saja. Padahal, kontribusi mereka lebih dari itu. Peristiwa itu kemudian diperingati sebagai Hari PII Wati.

Kiprah di masa revolusi
Pada 1947, Belanda melancarkan Agresi Militer I. Beberapa kota dibombardir bom dan diserbu tentara Belanda. Untuk menghadapi aksi tersebut, PII membentuk Brigade PII (BPII) di Ponorogo, Jawa Timur, pada 6 November 1947, yang dipimpin oleh Abdul Fattah Permana.

BPII bersifat otonom dan bergerak di bidang paramiliter. BPII kemudian menjadi salah satu pasukan rakyat yang berjuang melawan Belanda. Pasukan ini berdiri sejajar dengan laskar rakyat lainnya seperti Hizbullah, BPRI, TRIP, Sabilillah, Tentara Pelajar IPPI, TPI, Corps Pelajar Solo, dan lain-lain.

Selama revolusi hingga Konverensi Meja Bundar (KMB), BPII aktif membantu logistik, medis, hingga bergerilya. Di daerah Magelang, Jawa Tengah, BPII sempat bergabung dengan pasukan Batalyon 17 di bawah pimpinan Chalil Badawi dan Ahmad Tirto Sudiro.

Melalui KMB, kedaulatan NKRI diakui dunia international. Baik PII maupun BPII kemudian mengalami masa silence. Namun, sepuluh tahun kemudian, saat situasi Indonesia memanas akibat pengaruh perang dingin yang melanda dunia, PII kembali bangun dari tidurnya. 

Kiprah di masa perang dingin
Pada 1960 hingga 1965, Indonesia bergejolak. Kekuatan kiri dengan bendera Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan berbagai aksi dengan menggerakkan petani, seniman, pelajar, dan lain-lain, untuk mewujudkan sistem sosial, ekonomi, dan politik berlandaskan komunisme.

Tahun 1948, PII sebenarnya pernah berhadapan dengan massa PKI pimpinan Muso, dalam Peristiwa Madiun. Kala itu, Komandan BPII Madiun, Surjo Sugito, yang masih duduk di sekolah menengah, gugur. Kini, PII harus berhadapan lagi dengan kaum kiri di bawah kepemimpinan DN Aidit. 

Peristiwa “muka lawan muka” dengan massa pendukung PKI terjadi di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Peristiwa ini disebut sebagai Peristiwa Kanigoro.

Berdasarkan catatan Sari Emingahayu berjudul “Sisi Senyap Politik Bising” (2007), Kanigoro adalah salah satu basis PKI dengan organisasinya yang bernama Barisan Tani Indonesia (BTI). Mengapa? Sebab, di daerah ini banyak terdapat buruh perkebunan tebu untuk Pabrik Gula Ngadirejo.

Kala itu, di mana ada buruh dan petani, di situlah organisasi bentukan PKI berdiri. Para buruh maupun petani tergiur berafiliasi karena dalam ajaran komunisme, kaum tani dan buruh memiliki hari depan. Hari depan tersebut adalah impian menguasai alat produksi seperti pabrik, lahan, dan lain-lain.

Walaupun Kanigoro merupakan basis PKI, PII tetap berani unjuk gigi dengan mengadakan kegiatan pembinaan anggotanya dengan nama Mental Training (Mantra). Mengapa PII begitu berani?

Menurut Sari Emingahayu, kala itu terjadi konspirasi khusus antara elit-elit PII dan Jenderal AH Nasution. PII diminta mengintensifkan kegiatan-kegiatan semacam Mantra di daerah-daerah basis PKI, Kanigoro adalah salah satunya.

Kegiatan Mantra sudah mendapat izin bupati, camat, kapolsek, dan didukung tokoh Nahdlatul Ulama H Said. Acara dimulai 9 Januari 1965 dan berlangsung selama bulan puasa. Jumlah peserta sekitar 127 ditambah 36 orang panitia.

Penyebab konflik dengan massa PKI, diduga karena dipicu oleh adanya ceramah M Samelan, seorang mantan aktivis Masyumi. Sebenarnya, ia sudah dilarang Komandan Kodim Kediri, namun karena ulah seorang panita acara bernama Anis Abiyoso, M Samelan diizinkan mengisi ceramah.

Aktivis Masyumi itu dianggap sebagai lambang organisasi Masyumi yang sangat dimusuhi kaum kiri. Akibatnya, pada 13 Januari 1965, pukul 4.30 WIB, saat sebagian peserta sedang melaksanakan Salat Subuh, massa yang diduga dari pendudkung PKI menggeruduk tempat itu.

Dalam buku Pusjarah TNI berjudul “Pemberontakan G30S/PKI dan Penumpasannya” (2009), disebutkan bahwa massa diperkirakan mencapai 2.000 orang. Massa membawa senjata tajam, sambil berteriak-teriak, “Hidup PKI!” Kemudian mereka mengamuk, merusak apa yang ada.

Bahkan, konon ada yang merobek-robek dan menginjak-injak Alquran. Kabar perusakan Kitab Suci Alquran itu kemudian merebak dan menimbulkan amarah umat Islam di Jawa Timur.

Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU di Kediri, di bawah komando Gus Maksum, putra KH Jauhari, mengerahkan delapan truk massa. Mereka ganti menggeruduk anggota BTI di Kanigoro. Mereka berusaha menangkap anggota BTI yang telah membubarkan acara Mantra.

Polisi bertindak cepat untuk meredam situasi. Sejumlah anggota BTI, di antaranya Suryadi dan Harmono, ditangkap dan diamanankan dari amukan Banser NU. Anis Abiyoso selaku panitia Mantra juga menjadi buronan. Ia kemudian menyerahkan diri pada 12 Februari 1965 di Malang, Jawa Timur.

Kasus Kanigoro kemudian reda. Namun, sebenarnya belum selesai. Beberapa bulan berikutnya, kedua kekuatan kembali bebenturan saat terjadi peristiwa Gerakan 30 September.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?