• News

  • Singkap Sejarah

Kampung Ini Khusus untuk Umat Islam

Gapura di Kampung Kauman.
Ulinulin
Gapura di Kampung Kauman.

YOGYAKARTA, NNC - Menelusuri sejarah kesultanan di Tanah Jawa, ada kemiripan antara yang satu dengan yang lainnya. Corak kotaraja ditandai dengan keberadaan alun-alun, pasar, perumahan pejabat keraton, dan masjid. Sekitar masjid, biasanya menjadi wilayah khusus bagi umat Islam dan disebut Kampung Kauman.

Kampung Kauman selalu bertalian erat dengan penyebaran Islam di suatu daerah. Untuk tingkat desa, biasanya ditandai dengan adanya langgar. Untuk tingkat kota, biasanya ditandai dengan masjid agung.

Di sekitar langgar atau masjid, selalu terdapat kaum santri. Dalam tradisi santri selalu ditandai hubungan antara guru dan murid. Saat mereka beranak-pinak, budaya santri bisasanya tetap dipertahankan.

Untuk mengetahui asal-usul Kauman, kita bisa menyusuri catatan sejarah tentang Kampung Kauman di Yogyakarta, yang berada di sekitar Masjid Agung Gedhe Kauman. Daerah ini adalah peninggalan zaman Kesultanan Yogyakarta.

Dibangun seiring berdirinya Keraton Yogyakarta
Sekitar sebulan setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti, tepatnya Kamis, 13 Maret 1755, Sri Sultan Hamengku Buwana I meresmikan berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Selanjutnya, Sri Sultan memerintahkan pengikutnya untuk membangun keraton yang baru.

Pada 9 Oktober di tahun yang sama, pembangunan Keraton Kesultanan Yogyakarta dimulai. Lokasi yang dipilih Sri Sultan Hamengku Buwana I adalah di daerah yang bernama Garjitawati, Desa Pacethokan. Lokasi itu sebenarnya masih berupa hutan yang biasa disebut Hutan Beringan. 

Pembangunan keraton memakan waktu sekitar satu tahun. Sri Sultan meresmikan keraton tersebut pada Kamis, 7 Oktober 1756. Pada hari itu juga, Sri Sultan Hamengku Buwana I beserta keluarganya pindah atau boyongan menuju keraton yang baru.

Proses boyongan tersebut diberi tanda berupa Candra Sengkala Memet Dwi Naga Rasa Tunggal yaitu berwujud dua ekor naga dengan ekor saling melilit yang diukirkan di atas banon pada Regol Kemagangan dan Regol Gadhung Mlathi (nama bagian bangunan keraton).

Di kemudian hari (Perda Kota Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2004), momentum perpindahan tersebut dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Yogyakarta. Mengapa? Sebab, sejak perpindahan Sri Sultan, secara bertahap didirikan pula berbagai bangunan seperti masjid, perumahan pejabat keraton, dan pasar.

Dengan berdirinya Keraton Yogyakarta, terbentuk pula Kota Yogyakarta dengan wilayah meliputi semua daerah di sekitar keraton. Seperti disinggung di awal, ciri tata ruang kota yaitu alun-alun di sebelah Utara Keraton dan Masjid Agung di sebelah Barat alun-alun. 

Harus dijaga kesakralannya
Masjid Agung di Kota Yogyakarta diberi nama Masjid Gedhe Kauman atau Masjid Raya Kesultanan. Masjid ini selesai dibangun sekitar tujuh tahun setelah berdirinya keraton, tepatnya pada 29 Mei 1773.

Pembangunan masjid diprakarsai langsung oleh Sri Sultan bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat, penghulu keraton yang pertama. Sedangkan arsiteknya adalah Kyai Wiryokusumo.

Orang-orang yang tinggal di sekitar masjid diwajibkan menegakkan ajaran Islam atau disebut juga sebagai kaum santri dengan julukan Qaaimuddin. Karena orang sulit menyebutkan kata itu, lahirlah kata pakauman, yang selanjutnya lebih terkenal dengan nama Kauman.

Sri Sultan juga menunjuk sejumlah abdi dalem untuk menjadi pamethakan, khatib, muadzin, imam, dan ahli agama lainnya, untuk mengurusi bidang keagamaan. Pada mulanya ada sembilan khatib yang membawahi bidang-bidang tertentu.

Bentuk kompleks Kauman Yogyakarta hingga kini masih dipertahankan, yaitu dikelilingi dinding tembok yang tinggi. Pintu utama komplek terdapat di sebelah Timur. Daerah ini, kini menjadi wilayah Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurut catatan Abdurrachman Surjomihardjo dalam bukunya “Sejarah Perkembangan Sosial Kota Yogyakarta” (2000), wilayah Kauman di Yogyakarta baru menarik perhatian Pemerintah Hindia Belanda pada 1920. Mengapa? Di tempat itu, telah lahir organisasi pergerakan bernama Muhammadiyah.

Selain itu, daerah ini juga menjadi perhatian Pemerintah Kolonial karena terkenal dengan produksi batik. Dalam catatan P De Kat Angelino tahun 1927, tercatat 26 perusahaan berdiri di wilayah Kauman.

Sementara dalam catatan CF Pijper berjudul “Fragmenta Islamica: Studien over het Islamisme in Nederlandsch-Indie” (1934) seperti dikutip Abdurrachman, tergambar bagaimana kondisi Kauman selama abad ke-20. Jalanan di komplek Kauman cukup sempit dan diapit tembok bercat putih.

Suasananya tenang dan sepi, karena pengguna jalan memang wajib menjaga ketenangan. Suasana nyaman harus terwujud demi kelancaran proses belajar mengajar para santri di pesantren Kauman.

Masih pada sumber yang sama, disebutkan pula bahwa yang boleh tinggal di Kauman hanyalah orang muslim. Orang Kristen dan Tionghoa dilarang tinggal di tempat ini. Larangan juga ditujukan untuk segala kegiatan seni keduniawian, seperti tarian teledek atau tayub.

Suasana Kauman harus dijaga kesakralannya. Suasana itu memang benar-benar terwujud. Apalagi bila melewati daerah itu pada malam hari. Di setiap rumah akan terdengar orang membaca ayat-ayat suci Alquran.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?