• News

  • Singkap Sejarah

‘Martin Behrman Affair‘, Belanda Mempermalukan Dirinya Sendiri

Kapal Martin Behrman saat menjalani bongkar muatan di Pelabuhan Tanjung Priok 1947
Cas Oorthuys/Nederlands Fotomuseum
Kapal Martin Behrman saat menjalani bongkar muatan di Pelabuhan Tanjung Priok 1947

JAKARTA, NNC - Berita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI), 17 Agustus 1945, ditanggapi dengan sinis oleh bangsa Belanda. Mana mungkin mereka ikhlas melepas negeri jajahannya yang selama ratusan tahun telah memberikan kemakmuran? Segala upaya merebut kembali Hindia Belanda harus dilakukan.

Ratu Wilhelmina menghendaki agar Indonesia menjadi bagian dari negara persemakmuran, baik menggunakan cara paksa (pendekatan militer) maupun secara halus (diplomasi), RI harus bisa ditundukkan. Mandat tersebut harus dilaksanakan Gubernur Jenderal di Hindia Belanda.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda setelah kekalahan Jepang, secara de facto dipegang oleh Dr HJ van Mook. Berdasar impian Sang Ratu, ia segera menyusun berbagai strategi agar pemerintahan RI tidak berumur panjang. Salah satunya adalah dengan melakukan blokade atau mengurung perekonomian RI.

Blokade ekonomi adalah strategi yang dianggap jitu untuk membuat perekonomian RI bangkrut. Bila pemerintahan yang baru lahir itu tak mampu memperoleh pemasukan, pasti akan segera ambruk.

Namun, alih-alih agar pemerintahan RI tak berdaya sehingga mau kembali dalam rangkulan Ratu Belanda, ternyata blokade tersebut justru membuat pemerintah Belanda kehilangan simpati dunia. Blokade yang menuai pil pahit tersebut bernama Insiden Martin Behrman atau Martin Behrman Affair.  

Upaya RI keluar dari kebangkrutan
Pascaproklamasi, Pemerintah RI nyaris belum bisa mengatur roda keuangan dan perekonomian, kas negara kosong. Mata uang yang beredar di masyarakat ada tiga, yaitu Gulden, Oeang Republik Indonesia (ORI), dan uang Jepang. Kondisi itu tentu saja berdampak pada ketidakmenentuan.

Untuk mendapatkan kas negara, Pemerintah RI harus segera merintis perdagangan dengan negara lain. Usaha paling awal dirintis oleh Banking and Trading Corporation (BTC). Lembaga ini didirikan oleh Sumitro Djojohadikusumo dan Ong Eng Die.

Semua perusahaan asing yang ingin melakukan transaksi perdagangan dengan perusahaan di wilayah RI harus memiliki lisensi ekspor-impor yang dikeluarkan BTC. Upaya BTC, akhirnya berhasil menciptakan transaksi perdagangan dengan perusahaan swasta di Amerika yang bernama Isbransten Inc.

Transaksi perdagangan pertama tersebut dilakukan langsung tanpa perantara pihak ketiga. Isbrantsen Inc dan BTC menandatangani kesepakatan pembelian gula, karet, teh, kinine, dan lain-lain. Barang-barang tersebut akan diangkut menggunakan Kapal Liberty Amerika, SS Martin Behrman.

Insiden Kapal Martin Behrman
Sejak Angkatan Laut Belanda tiba di Indonesia, mereka terus-menerus melakukan operasi pengamanan laut untuk menghalangi semua aktivitas Pemerintah RI melalui jalur laut. Sebelum Agresi Militer I pada 21 Juli 1947, pelabuhan di Cirebon belum dikuasai oleh pasukan Belanda. 

Dalam berita Antara yang dikutip Pramoedya Ananta Toer, dan kawan-kawan berjudul “Kronik Revolusi Indonesia Jilid III” (2001), dinyatakan bahwa pada Februari 1947, kapal Amerika, Martin Behrman, telah tiba di Pelabuhan Cirebon (kini masuk wilayah Provinsi Jawa Barat) di bawah pimpinan Kapten Rudy Gray.

Menurut keterangan kapten kapal, pada waktu itu, pelabuhan di Cirebon dikenal sebagai pelabuhan yang bisa melayani proses pengisian muatan kapal dengan sangat cepat. Walaupun peralatan masih sederhana, namun hanya dalam 20 hari, Kapal Martin Behrman sudah terisi 6.000 ton barang pesanan.

Sayangnya, kapal itu tidak bisa segera kembali ke Amerika. “Pemerintah Hindia Belanda” mencekal karena dianggap melalui perairan mereka tanpa izin. Kapal Martin Behrman harus menuju ke Tanjung Priok untuk diperiksa. Kapal tersebut juga diancam, bila tidak bersedia akan ditindak dengan kekerasan.

Pada 28 Februari 1945, Kapten Gray menyatakan pembangkangnnya. Sesuai instruksi dari New York, kapal harus segera berlayar kembali menuju Colombo, Suez, kemudian menuju Amerika. Selain itu, sebenarnya ia sudah diperingatkan agar tidak melewati pelabuhan yang dikuasai Belanda.

Keputusan Kapten Gray didukung para awak kapal yang kemudian melakukan aksi mogok dengan duduk (sit down strike) sebagai wujud simpati kepada pimpinan mereka. Kapten Gray juga memilih mematikan Kapal Martin Behrman. Bila memang dipaksa harus ke Tanjung Priok, dipersilakan menggeretnya.

Pemerintah Kolonial Belanda kemudian mengirimkan kapal perusak Kortenaer. Sekitar 30 marinir Belanda menduduki Kapal Martin Behrman. Ketegangan meningkat, namun Kapten Gray tak mampu menghalangi ketika Kapal Martin Behrman dibawa ke Tanjung Priok dan seluruh muatannya disita.

Reaksi Pemerintah RI dan dunia international
Saat insiden Kapal Martin Behrman berlangsung, Dr Sumitro juga mendatangi Pelabuhan Cirebon. Ia tak bisa berbuat banyak. Menurutnya, transaksi perdagangan sudah sesuai kesepakatan. Barang yang sudah dimuat di kapal sudah dibayar. Kewajiban Pemerintah RI tidak termasuk dalam proses pengangkutan.

Sementara itu, dalam Sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 14 Agustus 1947 di Lake Success, New York, Amerika Serikat, Duta Besar Keliling RI, Sutan Sjahrir, berhasil membuka mata dunia terkait insiden tersebut.

Pidato Sutan Sjahrir bertujuan untuk menggalang simpati dan pengakuan dunia terhadap kemerdekaan RI. Ia memaparkan sejarah perjuangan rakyat Indonesia selama penjajahan pascakemerdekaan. Dalam kesempatan tersebut, ia menyentil Kerajaan Belanda secara telak melalui insiden Martin Behrman.

Penggalan pidatonya menyatakan, ”Kapal dagang Amerika, The Martin Behrman, berlayar menuju pelabuhan Indonesia, Cirebon, dengan persetujuan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat di Washington. Kapal juga telah memperoleh izin dari Komisioner Dagang Belanda di Washington untuk memuat barang di Cirebon. Meskipun telah ada kesepakatan tersebut, Pemerintah Kolonial Belanda tetap menyita kargo dari Martin Behrman setelah selesai memuat barang di Cirebon.”

Insiden Martin Behrman juga diberitakan berbagai media international dengan nada yang sama, yaitu memojokkan Pemerintah Kolonial Belanda. Beberapa surat kabar tersebut antara lain The Argus, Melbourne, Australia, dan Townsville Daily Bulletin.

Aksi sewenang-wenang Pemerintah Kolonial Belanda di bawah pimpinan Dr HJ van Mook akhirnya mempermalukan Kerajaan Belanda di Eropa. Simpati dunia terhadap perjuangan RI justru semakin besar. Blokade perekonomian yang dilakukan Kolonial Belanda terbukti gagal.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?