• News

  • Singkap Sejarah

Ketika ‘Tutur Tinular’ Berkumandang, Radio Dikerubungi Massa

Ilustrasi orang mendengarkan sandiwara radio.
Wordpress
Ilustrasi orang mendengarkan sandiwara radio.

JAKARTA, NNC - Kenangan indah, romantis, dan unik segera muncul di benak penulis ketika mengingat serial sandiwara radio berjudul "Tutur Tinular". Walaupun hanya suara yang terdengar di telinga, ternyata mampu menyihir dan membawa pendengarnya mengarungi samudera imajinasi tanpa batas.

Penulis mengira, demam sandiwara radio “Tutur Tinular” hanya terjadi di desa dan pelosok kampung. Namun, suatu ketika pada 1989, ada keluarga dari Jakarta datang berkunjung ke desa. Ternyata, mereka juga mencari radio karena tidak mau ketinggalan episode.

Jadi, dapat dipastikan ada jutaan rakyat Indonesia pernah mengalami hal serupa. Tak hanya kalangan tua. Kala itu, anak-anak dan pemuda menggandrungi sandiwara radio tersebut.

Setiap keluarga mengitari radio, sebagian sambil mengerjakan sesuatu, dan ada pula pemuda-pemudi yang asyik mendengarkan sambil berpacaran. Kenangan romantis.

Radio dalam arus zaman
Program siaran radio sendiri, pertama kali dikenal masyarakat Indonesia berlangsung pada masa Hindia Belanda. Radio pertama itu bernama Bataviase Radio Vereniging (BRV) yang didirikan di Batavia (kini Jakarta) pada 16 Juni 1925.

Lahirnya BRV disusul siaran radio lainnya, seperti Nederlandsch Indische Radio Omroep Masstchapyj (NIROM), Solossche Radio Vereniging (SRV), Mataramse Verniging Voor Radio Omroep (MAVRO), Verniging Oosterse Radio Luisteraars (VORL), dan lain-lain.

Selain media cetak, pada saat itu radio menjadi media massa kaum elite, karena hanya orang berpunya yang bisa membeli radio. Radio digemari karena berita bisa beredar secara lebih cepat. Selain itu, radio berhasil memanjakan pendengar.

Tidak seperti media cetak yang harus memelototi tulisan, sambil tiduran dan memejamkan mata pun para pendengar radio mendapat suguhan berita dan hiburan, seperti musik, lawak, atau sandiwara radio. Situasi ini terus berlangsung hingga era kemerdekaan.

Pada masa pendudukan Jepang, radio digunakan sebagai alat propaganda yang sejalan dengan tujuan "Perang Asia Timur Raya" atau mereka sebut dengan Dai Toa Senso.  Pemerintah Jepang membentuk sebuah jawatan radio bernama Hoso Kanri Kyoku dengan setiap cabang dinamakan Hoso Kyoku.

Kemudian pada masa revolusi kemerdekaan, peran radio juga begitu besar. Di awal proklamasi kemerdekaan, radio menjadi alat paling ampuh menyebarluaskan gaung proklamasi, baik ke seluruh pelosok Indonesia maupun mancanegara.

Tentu kita semua juga tak akan lupa tentang pidato heroik dan bersejarah yang digelorakan Sutomo atau biasa disebut Bung Tomo tatkala meletus pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Melalui radio, Bung Tomo membakar semangat para pejuang melawan Sekutu.

Namun, sudah hukumnya bahwa teknologi akan selalu mengalami pembaruan. Teknologi selalu berubah seiring arus zaman. Radio sebagai anak kandung teknologi tak luput dari hukum tersebut.

Alat komunikasi ini pernah menjadi media paling ampuh dan digemari. Namun, kini harus mengikhlaskan sebagian peminatnya beralih ke media lain. Televisi, telepon genggam, telepon pintar (smartphone) menyodorkan sajian yang lebih memanjakan para pengguna.

Ketika “Tutur Tinular” berkumandang di radio
Kiranya bukan melebih-lebihkan bila menyebutkan bahwa siaran “Tutur Tinular” merupakan masa kejayaan radio terakhir kalinya. Kala itu, radio sangat digemari dan mampu bersaing melawan tayangan televisi yang hanya baru ada satu stasiun, yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Setelah bermunculan stasiun televisi swasta yang menyuguhkan beragam hiburan, radio mulai ditinggalkan. Bahkan, penggemar TVRI pun banyak sekali yang hengkang dan lebih memilih tayangan stasiun swasta seperti RCTI dan SCTV.

Menengok sandiwara radio “Tutur Tinular”, ada beberapa hal yang pantas dikenang. Sandiwara ini merupakan hasil karya S Tidjab dan berjaya menyusul sandiwara pendahulunya yang berjudul “Saur Sepuh” karya Niki Kosasih.

Sandiwara radio “Saur Sepuh” berjaya selama tahun 1980-an. Sementara, “Tutur Tinular” mulai disiarkan pertama kali pada 1 Januari 1989. Tak kurang dari 512 pemancar stasiun radio yang tergabung dalam Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) menyiarkannya ke seluruh Indonesia. 

Sementara itu, judul “Tutur Tinular” diambil dari bahasa Jawa yang berarti "nasihat atau petuah yang disebarluaskan". Hal itu mMemang tercermin dalam dalam sandiwara itu.

Sandiwara mengisahkan tentang perjalanan hidup dan pencarian jati diri seorang pendekar yang berjiwa ksatria bernama Arya Kamandanu. Latar belakang cerita mengambil masa akhir Kerajaan Sighasari dan mulai berdirinya Kerajaan Majapahit. Penggalan kisahnya sebagai berikut.

Arya Kamandanu berasal dari Desa Kurawan, putra seorang pembuat senjata kepercayaan Prabu Kertanegara yang bernama Mpu Hanggareksa. Di awal cerita, Arya Kamandanu sempat berpacaran dengan gadis Desa Manguntur, yaitu Nari Ratih.

Namun kemudian munculah Arya Dwipangga, kakak kandung Arya Kamandanu yang licik dan berhasil merayu serta menodai Nari Ratih. Arya Kamandanu dengan berat hati menyerahkan kekasihnya kepada kakaknya. Ia selanjutnya menghanyutkan diri menekuni ilmu beladiri untuk mengubur rasa sakit dalam hatinya.

Sampai suatu ketika, ia bertemu dengan sepasang suami-istri pelarian dari Tiongkok yang terdampar di Pulau Jawa bernama Lo Shi Shan dan Mei Shin. Sepasang suami-istri tersebut berusaha menyelamatkan pedang sakti Naga Puspa, karya Mpu Ranubhaya, agar tidak jatuh ke tangan orang jahat.

Namun, dalam suatu pertempuran melawan tokoh jahat bernama Mpu Tong Bajil, Lo Shi Shan terluka. Arya Kamandanu tidak berhasil menyelamatkannya. Sebelum meninggal, Lo Shi Shan berpesan agar Arya Kamandanu berkenan menjaga Pedang Naga Puspa dan istrinya, Mei Shin.

Seluruh kisah sandiwara radio “Tutur Tinular” terbagi dalam 24 episode. Setiap episode terdiri dari 30 seri dengan durasi kurang lebih 30 menit. Jadi, total keseluruhannya ada 720 seri dan diputar setiap hari di sejumlah stasiun pemancar radio, mulai 1 Januari 1989 hingga seri terakhir.

Selamat Hari Radio Nasional.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?