• News

  • Singkap Sejarah

Budaya Peranakan Hanya Ada di Indonesia, Tak Ada di Tiongkok

Acara diskusi 'Sejarah dan Budaya Peranakan'.
NNC/Taat Ujianto
Acara diskusi 'Sejarah dan Budaya Peranakan'.

JAKARTA, NNC - Sentimen berbau SARA, khususnya seputar isu Tionghoa, masih saja menjadi isu laten yang berulangkali dipolitisir, sehingga menggoyang ke-Indonesia-an. Seolah bangsa ini belum selesai dan belum tuntas mengenali jatidirinya.

“Etnis Tionghoa, sepanjang era pemerintahan VOC hingga Hindia-Belanda sebenarnya sering disebut sebagai 'Cina'. Artinya sebenarnya sama saja, menunjuk pada kelompok, baik peranakan maupun totok,” tutur Diah Wara.

Mengacu kepada Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2014 tentang Pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/Pred.Kab/6/1967 tertanggal 28 Juni 1967, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menyatakan bahwa istilah yang hendaknya digunakan adalah “Tionghoa” dan bukan "Cina", "China", maupun "Chinese".

Diah Wara adalah seorang antropolog dan sekaligus peneliti sejarah tentang peranakan. Selama beberapa tahun terakhir, ia telah melakukan pendokumentasian tentang berbagai bangunan Tionghoa, baik yang termasuk cagar budaya maupun bukan. Bangunan itu tersebar di hampir semua kota di Indonesia.

Pada Sabtu (6/10/2018), ia menjadi salah satu narasumber acara diskusi “Sejarah dan Budaya Peranakan” di Museum Kebangkitan Nasional, Jalan Abdul Rachman Saleh Nomor 26, Jakarta Pusat. Acara itu diselenggarakan atas kerja sama Yayasan Nabil, Kecapi Batara, Dinas Pendidikan Kebudayaan, dan sejumlah lembaga lainnya.

Asal-usul kaum peranakan
Diah menegaskan bahwa sebelum era pemerintahan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan Hindia-Belanda atau sekitar abad ke-15 hingga 16, kaum peranakan sudah hidup berbaur dengan semua etnis lain di Nusantara. Oleh sebab itu, kaum peranakan sebenarnya tergolong sebagai pribumi.

Pembauran budaya dapat dilihat dari sejarah keberadaan batik, kebaya, seni tradisional, dan lain-lain. “Hanya saja, sejak pemerintahan VOC ada politik segregasi rasial dengan tujuan agar semua etnis tidak bersatu. Sejak itu, mulai muncul sentimen dan stigma negatif kepada etnis ini,” lanjutnya.

“Politik segregasi rasial bagi etnis Tionghoa memakan korban pertama kali pada tahun 1740 di mana 10.000 orang Tionghoa mati dibunuh. Dan sentimen rasial yang menyudutkan etnis ini juga kembali berulang, di antaranya tahun 1946 dan 1998,” kata Diah.

Masa Orde Baru, politik segregasi rasial semakin menguat hingga muncul kebijakan asimilasi dan kewajiban mengubah nama Tionghoa menjadi nama Indonesia. Di sisi lain, sebagian etnis Tionghoa ternyata juga terpecah. Ada anggapan, seolah-olah kaum peranakan bukan termasuk etnis Tionghoa.

“Oleh sebab itu, generasi muda harus mampu melacak asal-usul semua yang terkait dengan etnis Tionghoa. Semoga tak ada lagi anggapan bahwa kaum peranakan bukan Tionghoa,” ujar Diyah.

Kuliner Tionghoa di Nusantara tidak ada di Tiongkok
Diskusi menjadi semakin menarik ketika disambung oleh narasumber kedua, yaitu Aji Chen Bromokusumo, penulis buku “Peranan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara” (2016). Sebelum memaparkan mengenai budaya kuliner di Nusantara, ia sempat mempertegas mengenai makna peranakan.

Katanya, “Bila semua manusia di bumi ditelusuri, sebenarnya tidak ada satu pun yang 100 persen merupakan etnik tertentu. Semua adalah hasil dari campuran. Jadi, tidak ada yang namanya asli etnis ini atau etnis itu.”

Menelusuri asal-usul etnis tertentu tidak bisa hanya berdasarkan ciri-ciri fisik saja. “Sekarang sudah bisa melakukan kajian dengan melakukan penelusuran DNA. Bila semua orang Indonesia diperiksa, dipastikan akan ditemukan adanya unsur Mongol. Yang membedakan hanyalah banyak atau sedikit”, tutur Aji.

Pernyataan Aji menandakan bahwa semua orang di Nusantara mempunyai ikatan darah. Ikatan itu semakin diperkuat lagi dengan budaya Tionghoa yang bersifat unik, mengandung unsur Belanda atau Eropa, dan unsur Nusantara.

“Dalam budaya kuliner Tionghoa di Indonesia, percampuran unsur Belanda, Tiongkok, dan Nusantara telah menghasil budaya campuran yang khas yang tidak akan ditemukan di Tiongkok,” ujar Aji. Bagaimana itu bisa terjadi?

Imigran dari Tiongkok ke Nusantara datang secara bergelombang dan tersebar di seluruh Nusantara. Selama merantau, mereka selalu terkenang dan merindukan makanan model asli yang dulu mereka makan di Tiongkok. “Saat di Nusantara, ia mencoba membuat tiruannya,” kata Aji.

Lanjutnya, “Tiruan yang mereka buat selalu disesuaikan dengan bahan dan kondisi yang ada di Nusantara. Maka, lahirlah model makanan seperti bakmie, bihun, bakso, bakpia, kwetiauw, fuyunghai. Padahal mie berasal dari dialek Hokkian. Namun di Nusantara, berubah menjadi model Nusantara yang berbeda dengan model Tiongkok.”

Ada seorang peserta diskusi yang menanggapi pernyataan Aji. Peserta tersebut mengungkapan jenis kuliner di Palembang, yaitu pempek. Berdasar tradisi lisan, pempek awalnya diciptakan oleh seorang Tionghoa tua di Palembang.

Orang tua itu berusaha memanfaatkan ikan yang melimpah di sungai lalu diolah menjadi makanan dan dijual keliling. Saat berjualan, si penjual biasa dipanggil, “Pek-pek-pek.” Lama-lama menjadi pempek.

Contoh jenis kuliner lain adalah kecap manis. “Yang namanya kecap manis itu asli Indonesia. Memang, fermentasi kedelai sudah ditemukan lebih dulu di Tiongkok. Namun, di sana, semuanya rasanya asin. Hanya di Indonesia saja yang rasanya manis,” tutur Aji.

Ada juga peserta yang menanyakan sumber-sumber sejarah yang digunakan oleh Aji dalam menelusuri asal-usul budaya kuliner Tionghoa di Indonesia. “Penelusuran asal-usul kuliner Tionghoa Indonesia tak akan ditemukan jika tanpa menggunakan pendekatan linguistik,” jawab Aji.

Catatan sejarah tentang asal-usul kuliner Tionghoa sangatlah terbatas. Kalaupun ada, banyak berupa tradisi lisan. Namun, bila menggunakan analisa linguistik, dari mana istilah makanan itu berasal, maka akan ditemukan padanannya. Mana yang menggunakan bahasa di Tiongkok dan mana yang khas Indonesia, dapat ditelusuri.

“Misalnya kwetiauw. Kata kwetiauw identik dengan kata 'guotiau' dari bahasa Hokkian. Namun, saat di Indonesia berubah menjadi kwetiauw karena bahannya terbuat dari beras,” kata Aji.

Kisah mengenai bakmi, Pempek Palembang, kecap, dan lain-lain, memperlihatkan bahwa melalui penelusuran budaya kuliner Tionghoa di Indonesia, hubungan identitas etnis Tionghoa dan ke-Indonesia-an menjadi lebih terang. Etnis Tionghoa, khususnya peranakan adalah bangsa Tionghoa-pribumi dan sekaligus Indonesia.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?