• News

  • Singkap Sejarah

Falsafah ‘Wutah Getih‘ Mengiringi Sumpah Pemuda

Para peserta Kongres Pemuda II 1928 berfoto bersama.
Dok Arsip RI
Para peserta Kongres Pemuda II 1928 berfoto bersama.

JAKARTA, NNC - Akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 adalah masa-masa yang menentukan proses terbentuknya Indonesia. Nasionalisme tumbuh setelah sekian lama dicengkeram praktik pengisapan. Feodalisme mengalami kebangkrutan dan tak mampu melawan sistem pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda.

Dalam situasi tersebut, kaum terpelajar berhasil merintis model perjuangan dengan menumbuhkan kesadaran baru yang berupa imaginasi meraih hari esok yang lebih baik secara bersama-sama atau bersatu. Dan, kendaraan yang mereka gunakan untuk meraih hari esok bernama “Indonesia”.

Salah satu tonggak penting dalam proses menjadi “Indonesia” adalah Kongres Pemuda II atau biasa dikenal dengan peristiwa Sumpah Pemuda. Kongres itu berlangsung pada 27-28 Oktober 1928 di Gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Nomor 106, Weltevreden (sekarang Jakarta Pusat).

Kongres Pemuda II berhasil merumuskan tekad kawula muda untuk berbahasa, bertanah air, dan berbangsa yang satu (Sumpah Pemuda). Ketiga janji tersebut menjadi simbol zaman baru untuk meruntuhkan tembok atau sekat pimordial dan feodalisme berlebihan yang sebelumnya justru dimanfaatkan pihak kolonial melalui strategi devide et impera (adu domba).

Dalam peristiwa bersejarah tersebut, ada satu falsafah Jawa yang ikut mewarnai konsep nasionalisme Indonesia yang ingin dibangun. Falsafah tersebut bernama “wutah getih”.

Makna falsafah “wutah getih”
Dalam pergaulan remaja, ada mitologi klasik bila dua orang pemuda dan pemudi berjanji, keduanya akan menggoreskan jari kelingking sehingga keluar darah. Mereka kemudian mempertemukan jari mereka yang luka dan sedikit berdarah sambil mengucapkan janjinya.

Namun, dalam Kongres Pemuda II bukan dilakukan dengan cara seperti itu. Sumpah Pemuda ternyata dilandasi oleh filosofi Jawa yang mengandung arti lebih dalam. Falsafah “wutah getih” mengandung pesan yang bisa menjadi salah satu fondasi semangat nasionalisme.

Falsafah “wutah getih” mengilhami frasa “tanah airku, tanah tumpah darahku” yang digunakan dalam berbagai semboyan perjuangan, terutama dalam syair lagu kebangsaan “Indonesia Raya” gubahan WR Soepratman. Dapat dipastikan, WR Soepratman memilih frasa “tanah airku, tanah tumpah darahku” karena falsafah tersebut.

Jadi apa arti falsafah “wutah getih”? Dalam kajian Dirdho Adithyo dan I Gusti Agung Anom Astika yang berjudul “Bunyi Merdeka, Sejarah Sosial dan Tinjauan Musikologi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya” (2017: 91), disebutkan bahwa kata “wutah getih” sebenarnya berasal dari tembang mocopat dari Jawa.

Bunyi tembang mocopat tersebut, “Lamun sira dumadi prajurit, nganggo we-waton. Kang sepisan, labuh negarane. Kaping pindho sira kudu eling. Duk nalika lahir. Wutah getihipun.” (Jika engkau menjadi prajurit, pakailah dasar-dasar etikanya. Yang pertama, membela negaramu. Yang kedua, engkau harus ingat. Ketika engkau lahir, darahnya tumpah).

Tembang mocopat tersebut berisi suatu pesan mendalam yang ditujukan kepada semua orang, khususnya generasi muda, agar selalu ingat kepada ibu yang telah menumpahkan darahnya bagi kelahiran anak-anak Indonesia. Darah itu tumpah di bumi, tempat dimana anak dilahirkan.

Bumi sebagai ruang dan tempat hidup itu bernama Indonesia. Di sana terdapat deretan gunung, lautan, lembah, sungai, dengan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya. Seluruhnya kemudian dilambangkan dengan istilah ”tanah air”.

Dalam perjalanannya, falsafah “wutah getih” diadopsi dan disederhanakan dalam Bahasa Indonesia menjadi frase “tanah air, tanah tumpah darah”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kemudian diubah lagi menjadi “tanah tempat kelahiran” atau “kampung halaman”.

Jadi, di balik “wutah getih” ternyata kita semua diajak untuk memuliakan sosok ibu yang lahir dan darahnya tertumpah. Maka tepat pula apabila tanah air juga disebut sebagai ibu pertiwi.

Bila ditelaah lebih jauh, istilah ibu pertiwi, ibu yang darahnya tertumpah, tanah air, ternyata juga ada hubungannya dengan unsur ajaran Hindu, yaitu simbol lingga dan yoni. Simbol tersebut selalu berhubungan dengan mitologi memuliakan dewi kesuburan (Dewi Sri) sebagai sosok ibu pertiwi yang memberikan sumber penghidupan.

“Wutah getih” juga memuliakan perempuan
Seperti digambarkan Dirdho Adithyo dan I Gusti Agung Anom Astika pada saat Kongres Pemuda memasuki hari kedua, suasana berubah menjadi tegang. Masing-masing peserta tampak tertegun dalam pikirannya masing-masing.

“Bahkan tidak sedikit dari mereka yang biasanya bercengkerama, pagi itu diam dan membisu. Semua sedang memikirkan masa depan bangsa Indonesia,” demikian bunyi kutipan dalam buku tersebut.

Bisa jadi, peserta berdebar-debar dengan hasil yang akan dirumuskan kongres. Sementara di sisi lain, ada kekawatiran dan pesimisme, mengingat sehari sebelum kongres digelar, Patih atau Residen Batavia saat itu, GJ ter Poorten Batavia melarang penggunaan istilah “kemerdekaan”.

Memang, kata itu kemudian tidak muncul dalam rumusan Sumpah Pemuda. Namun, kata itu ternyata keluar dalam bentuk lain. Kata itu berhasil diubah dalam alunan musik berjudul “Indonesia Raya” yang dimainkan WR Soepratman dengan alat musik biola.

Sekitar pukul 23.00, sebelum kongres ditutup, gesekan biola yang dimainkan WR Soepratman membuat seluruh peserta kongres terdiam. Semua tenggelam dalam perasaan kolektif yang sudah selama ini dipendam sejak dari nenek moyang mereka. Itulah kali pertama “Indonesia Raya” diperdengarkan di khalayak umum. 

Walau tidak terucap, di dalam sanubari setiap peserta kongres mendaraskan seruan “Indonesia, tanah airku, tanah tumpah darahku, Indonesia, merdeka, merdeka...“ Walau lagu “Indonesia Raya” tiga stanza tidak dinyanyikan dengan kata-kata, namun syairnya menggema di hati para pemuda dan pemudi yang hadir di tempat itu. 

Darah yang tertumpah oleh ibu telah melahirkan anak bernama nasionalisme Indonesia yang siap membakar semangat juang menuju kemerdekaan. Oleh sebab itulah, Sumpah Pemuda menjadi sangat penting untuk direnungkan bersama.

Perlu diperhatikan juga, walaupun peristiwa bersejarah tersebut disebut sebagai Kongres Pemuda atau Sumpah Pemuda dan tidak menyebut “pemudi”, namun bukan berarti meniadakan citra kaum perempuan. Sosok ibu sebagai kaum perempuan melalui falsafah “wutah getih” sebenarnya mempunyai arti yang sangat mendalam.

Selain itu, dalam tiga butir hasil kongres atau isi Sumpah Pemuda juga disebutkan “Kami putera dan puteri Indonesia...” bukan hanya disebutkan “putera” saja. Hanya saja, di era itu masih belum banyak kaum perempuan yang ikut aktif dalam dunia politik.

Dari total peserta yang mencapai sekitar 750 orang, jumlah peserta dari kaum perempuan memang sedikit sekali. Namun paling tidak, jumlahnya tak kurang dari 10 tokoh penting, antara lain Nona Poernomowulan, Siti Sundari, Emma Poeradiredja, Suwarni Pringgodigdo, Johanna Masdani Tumbuan, Dien Pantouw, dan Nona Tumbel.

Merekalah sosok-sosok yang mewakili ibu atau kaum perempuan lainnya. Mereka menjadi sosok peletak kebangkitan kaum perempuan di masa selanjutnya. Sekitar dua bulan setelah Kongres Pemuda II, tepatnya 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, diselenggarakan Kongres Perempuan Pertama.

Dalam kongres perempuan itu, ada sekitar 1.000 perempuan hadir dalam pembukaan kongres. Mereka mengawali perjuangan menegakkan hak-hak mereka yang sebelumnya terkekang melalui sistem perkawinan, poligami, dan pendidikan. Hingga kini, perjuangan kaum perempuan menuntut hak-haknya belum berakhir.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?