• News

  • Singkap Sejarah

Mengapa Lelaki Tionghoa Tempo Dulu Berselera Menikahi Gadis Bali?

Gadis Bali tempo dulu
tropenmuseum
Gadis Bali tempo dulu

JAKARTA, NNC - Orang Tionghoa tidak mau menikah dengan selain orang Tionghoa adalah mitos yang tidak benar.  Dalam perjalanan sejarah Nusantara, terbukti bahwa asimilasi antara Tionghoa dan pribumi bukanlah omong kosong. Perkawinan campuran itu justru melahirkan generasi dan budaya khas Nusantara.

Pertanyaannya, kapan ada model perkawinan seperti itu? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Mengapa kemudian seolah tidak diketahui, dilupakan, dan tidak disadari di masa-masa selanjutnya? 

Almarhum Ong Hok Ham, sejarawan terkemuka Indonesia, pernah menjawabnya dalam “Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa” (2005: 1-14). Menurut Ong, di Nusantara pernah terjadi relasi harmonis tanpa praduga dan tanpa prasangka berbau sentimen rasial antara Tionghoa dan pribumi.

Pernikahan campuran antara orang Tionghoa dan pribumi sudah ada sejak dulu kala dan terus berlangsung hingga abad ke-19. Situasi baru berubah ketika bangsa Belanda datang dan benar-benar mencengkeram Nusantara. 

Sebelum abad ke-19, golongan elite atau para bangsawan penguasa Nusantara didominasi orang pribumi atau bumiputra. Orang Tionghoa berdatangan dengan beragam profesi ke Nusantara dan meleburkan diri dengan pribumi (asimilasi).

Orang Tionghoa sengaja melebur dengan kaum elite pribumi karena untuk memperkuat status mereka sebagai bangsa pendatang. Interaksi seperti ini terjadi secara masif di Batavia maupun kota-kota besar lainnya. Keturunan dari pernikahan ini kemudian disebut sebagai Tionghoa Peranakan.

Memasuki tahun 1800 dan seterusnya, situasi berubah. Wilayah Nusantara tidak lagi dikuasai kaum pribumi, tetapi jatuh dalam genggaman orang Belanda. Kolonial Belanda melakukan politik memisahkan golongan-golongan berdasarkan etnis (segregasi rasial).

Sebenarnya, orang Tionghoa pernah mencoba meleburkan diri dengan orang-orang Belanda, sama seperti mereka melebur dengan pribumi Nusantara. Namun, orang Belanda tidak mau mengakui pernikahan resmi dengan orang Tionghoa. Kalaupun ada, itu hanyalah praktik pergundikan.

Akibatnya, orang Tionghoa kemudian tergeser dan terpisah di antara pribumi dan orang Belanda. Keberadaan mereka sering dimanfaatkan Kolonial sebagai perantara dagang dan statusnya seolah lebih tinggi dari bumiputra. Karena kalah jumlah, orang Tionghoa akhirnya menjadi minoritas.

Selain itu, sejak abad ke-19 mulai berdatangan perempuan totok dari Belanda dan Tiongkok. Lelaki Belanda menikah resmi dengan perempuan Belanda dan meninggalkan para nyai atau gundik.

Lelaki Tionghoa juga menikah dengan perempuan Tionghoa totok. Sejak itu, tidak pernah lagi muncul pernikahan orang Tionghoa dengan pribumi.

Bukti asimilasi di Batavia

Di Batavia, sebelum abad ke-19, lelaki Tionghoa menikah dengan gadis setempat adalah hal biasa. Hal itu terjadi karena di Batavia belum ada gadis murni Tionghoa (totok). Para lelaki pendatang dari Tiongkok ini juga tak segan untuk menjadi muslim.

Di Batavia, pernah ada suatu masa di mana banyak sekali orang Tionghoa beragama Islam. Lebih-lebih sesudah terjadi peristiwa yang disebut oleh pemerintah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sebagai pemberontakan orang Tionghoa, yaitu pada 1740. Sebanyak 10.000 orang Tionghoa dibantai tentara Kompeni.

Sejak peristiwa berdarah tersebut, orang-orang Tionghoa tidak lagi dianggap sebagai “anak emas“ VOC. Orang-orang Tionghoa yang selamat dari pembantaian sangat menyadari bahwa mereka harus survive menghadapi kerasnya hidup di tanah perantauan. Pilihan logis adalah berbaur secara total dengan pribumi setempat.

Akibat dari pembauran, jumlah keturunan Tionghoa di Batavia semakin banyak. Bila tidak dikendalikan, pasti akan membahayakan VOC. Oleh karena itu, pemerintah VOC membentuk sistem kontrol dengan membentuk kelompok-kelompok di bawah seorang Kapitein Tionghoa muslim.

Kapitein Tionghoa muslim terakhir adalah  Kapitein Muhammad Japar yang meninggal pada 1827 (De Haan, Oud Batavia, hlm 511).

Selain menganut agama Islam, cara orang Tionghoa melebur dengan pribumi adalah dengan mengganti namanya menjadi seperti orang bumiputra.

Pendapat Ong juga diperkuat oleh Lance Castles dalam buku “Profil Etnik Jakarta” (2007: 17). “Orang-orang Tionghoa peranakan lebih banyak memiliki kemiripan dengan penduduk asli Indonesia daripada orang Tionghoa pendatang,” demikian tulis Lance Castles menanggapi tentang orang Tionghoa yang berbaur dengan penduduk asli di Batavia.

Menurut Castles, karena mereka menjadi muslim, orang Tionghoa itu dibebaskan dari pajak kepala.

“Mereka dibebaskan dari pajak kepala yang biasa dikenakan terhadap orang Tionghoa,” tulis Castles.

Bahkan, sejak tahun 1766 kelompok ini memiliki pemimpin dan biasa dipanggil sebagai “Kapitein Tionghoa yang menggunakan nama-nama Islam”.

Mereka tinggal berpencar dan berbaur di kampung-kampung. Selain karena pengaruh Spanyol, Arab, Banda, atau Bali, orang Tionghoa yang berbaur di Batavia juga ikut mempengaruhi lahirnya etnis baru di Batavia, baik secara biologis maupun secara budaya (pakaian, tarian, musik).

Di kemudian hari, etnis campuran ini dinamakan sebagai orang Betawi. Jadi, etnis Betawi sebenarnya merupakan bukti nyata dari hasil asimilasi pribumi dengan pendatang, khususnya Tionghoa. Mitos bahwa orang Tionghoa tidak bisa berasimilasi di Nusantara telah dipatahkan oleh sejarah Jakarta.

Berselera dengan gadis Bali

Seperti disinggung di awal, sebelum abad ke-19, lelaki Tionghoa biasa menikah dengan pribumi di Batavia karena belum banyak gadis Tionghoa totok. Bahkan, pada mulanya gadis totok yang datang ke Nusantara, malah dianggap sebagai manusia aneh atau makhluk asing.

Dalam "Kroniek Batavia" seperti dikutip Ong Hok Ham (halaman 3), pada abad ke-17, wanita totok yang datang justru menjadi tontonan penduduk Batavia karena sebelumnya belum pernah ada wanita Tionghoa totok datang ke Batavia. Saking gemparnya, mungkin sama jika saat ini ada orang Mars datang ke bumi.

Kejadian serupa juga terjadi di Semarang. Dalam kenangan Liem Thian Joe berjudul “Riwayat Semarang”, dikisahkan bahwa pada 1815, perempuan totok dari Tiongkok menjadi tontonan para Tionghoa peranakan. Mereka mengamati dengan seksama pakaian yang dikenakan dan kakinya yang diikat kecil.

Semua mata menatap dengan aneh, karena hal itu sangat asing bagi mereka. Bahkan, nyonya-nyonya peranakan kemudian memberikan uang persen kepada perempuan itu. Mungkin mereka menyangka perempuan itu sengaja datang untuk menjadi tontonan dan mencari uang.

Selanjutnya, Ong juga menyebutkan bahwa ketika di Batavia belum banyak gadis Tionghoa totok, para lelaki Tionghoa paling suka atau paling berselera menikahi gadis Bali. Mengapa demikian? Alasannya sederhana. Orang Bali memiliki kesamaan kuliner, yaitu sama-sama memperbolehkan makan daging babi.

Mengenai kebiasaan lelaki Tionghoa menikah dengan perempuan Bali, pernah terjadi peristiwa unik di Batavia. Ada seorang Kapitein Tionghoa bernama Gan Djie Khoa atau Siqua yang menikah dengan wanita Bali. Pada 1666, Kapitein itu meninggal dunia tanpa meninggalkan anak.

Wanita Bali yang telah menjadi janda itu kemudian diangkat menjadi Kapitein Tionghoa, melanjutkan suaminya. Jabatan itu terus berlangsung selama 12 tahun dan baru berakhir saat perempuan itu meninggal.

Dalam Kroniek tentang Batavia yang dikutip  oleh Ong disebutkan, “Kapitein wanita itu sebagai seorang laki-laki dalam segala tindakannya dan memerintah secara keras. Walaupun ia termasuk golongan lemah, ia selalu hadir dalam sidang untuk membicarakan kepentingan umum.”

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?