• News

  • Singkap Sejarah

Dituduh Penyihir, Antonie Dijadikan Makanan Buaya oleh Sultan Agung

Ilustrasi penyerangan pasukan Sultan Agung ke Batavia
istimewa
Ilustrasi penyerangan pasukan Sultan Agung ke Batavia

JAKARTA, NNC - Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap salah satu Pahlawan Nasional, namun bisa dikatakan bahwa Sultan Agung, Raja Mataram (1613-1645), sebenarnya adalah seorang penguasa yang kejam.

Ia memang pernah berjasa dalam upaya mengusir bangsa kolonial di tanah Jawa, tetapi banyak keputusannya sangat bengis.

Baik saat penaklukan-penaklukan pertama di daerah Jawa Timur (Wirasaba, Lasem, Pasuruan, Pajang, Tuban) pada 1613-1619, maupun penaklukan Surabaya dan Madura pada 1620-1625, tak segan Sultan Agung memerintahkan untuk memusnahkan penduduk, merampas perempuan, anak-anak, merampok, dan membakar rumah penduduk.

Sikap tegas mendekati kejam, juga dicatat MC Ricklefs dalam buku “Sejarah Indonesia Modern 1200-2008” (2008).

Disebutkan, “VOC menemukan 744 mayat prajurit Jawa yang tidak dikuburkan, beberapa di antaranya tanpa kepala.” Prajurit itu bukan mati dibunuh oleh kompeni tetapi mati karena dihukum Sultan Agung.

Pada 1628, pasukan yang dikerahkan Sultan Agung untuk menduduki Batavia dan menaklukkan VOC mengalami kekalahan atau kegagalan.

Kekalahan itu tidak bisa diterima sehingga raja Mataram  itu mengutus algojonya untuk menghukum dengan memenggal kepala pemimpin pasukan yaitu Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja beserta prajuritnya.

Itu hanyalah sebagian kecil dari kisah tentang bagaimana Sultan Agung menciptakan rasa takut, rasa hormat, dan agar kesaktiannya diakui (baca: teror), baik bagi pihak lawan maupun bagi rakyatnya sendiri.

Dan dari sekian banyak keputusan kejam lainnya, ada juga kisah bagaimana ia mencincang seorang bernama Antonie Paulo karena dituduh sebagai tukang sihir.

Masygul karena hasrat tak kesampaian

Sebelum bermahkota raja bernama Raden Mas Rangsang. Naik tahta pada 1613 dengan gelar Panembahan Hanyakrakusumo. Pada 1624, gelar berubah menjadi Susuhunan Agung Hanyakrakusuma atau Sunan Agung Hanyakrakusuma.

Pada 1640, gelar yang lebih sering digunakan Sultan Agung Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman.

Berdasar catatan kunjungan De Haen ke Keraton Karta (Keraton Mataram, kini masuk Dusun Plered, Bantul, Yogyakarta) pada 1624, Sultan Agung digambarkan sebagai pribadi yang mempunyai sifat ingin tahu yang tinggi.

Ia selalu bertanya mengenai segala hal ikhwal terkait negeri Belanda. Ia juga berambisi membangun imperium dan menguasai seluruh tanah Jawa.

Untuk itu, setelah menaklukkan Jawa Timur, Sultan Agung bergerak ke Barat untuk menaklukkan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Batavia. Namun, penyerangan selama dua kali pada 1628 dan 1629 berakhir dengan kegagalan.

Pascakegagalan tersebut, Mataram sempat dilanda kekacauan.

Daripada dihukum pancung seperti Tumenggung Bahureksa karena tidak berhasil menaklukkan VOC, Dipati Ukur di Sunda (kini Jawa Barat) memilih membelot dan memberontak. Namun, pemberontakannya sia-sia.

Sultan Agung mengirim 40.000 prajurit menggempur Priangan dan Sumedang. Banjir darah kembali terjadi.

Dalam penaklukan sesama pribumi ini, pasukan Sultan Agung “mengusir penduduk, sedangkan orang kaya terkemuka semuanya dibunuh,” tulis Daghregister, 19 Juli 1632.

Belum puas menghancurkan pemberontak di Tatar Sunda, sebanyak 1.260 lelaki tawanan dibawa ke Mataram.

Setibanya, “semua laki-laki tersebut dideretkan dan kepala mereka dipenggal,” tulis Jonge seperti dikutip HJ De Graaf dalam buku “Puncak Kekuasaan Mataram” (2002: 236).

Tetap berkokok hingga masa tuanya

Kegagalan menaklukkan VOC tidak berarti mengakhiri kekuasaan. Laksana ayam jantan, di masa tuannya, Sultan Agung terbukti masih mampu berkokok dengan lantang.

Meski dengan tebusan mahal, ia tetap berhasil mempertahankan wilayah jajahan yang meliputi sebagian besar pulau Jawa. Siapapun yang berani menentang dan membelot akan digebuk.

Sultan Agung sempat mencoba bersekutu dengan Portugis dan Inggris untuk diajak bekerjasama melawan VOC. Namun, usaha itu tidak membuahkan hasil.

Dan tampaknya, sampai akhir hayatnya Sultan Agung harus menelan pil pahit. Impiannya membentur karang.

Dalam kajian HJ De Graaf, hingga tahun 1640, sebenarnya raja Mataram belum menggunakan gelar Sultan. Tidak diketahui secara pasti bagaimana gelar itu diperoleh. Namun konon, ia berhasil pergi ke Mekkah dengan memanfaatkan kapal Inggris.

Dari catatan Dagregister 1 Juli 1641, disebutkan bahwa raja Mataram telah bergelar “Sultan Mataram”, kemudian biasa ditulis “Sultan Agung”. Gelar itu menunjukkan bahwa ia adalah raja yang taat terhadap agama Islam.

Hal itu diperkuat juga dengan kisah tentang kesaktiannya yang bisa mengikuti sembahyang Salat Jumat di Mekkah, setiap minggu.

Untuk melegitimasi gelar barunya, pada 1642, Sultan Agung mengirim ulama Arab bersama 18 orang Jawa terkemuka untuk pergi ziarah ke Mekkah dengan kapal Reformation milik orang Inggris yang bernama Ralph Cartwright.

Namun malang, pada 11 Juli 1642, saat melintas sebelah Barat Pulau Onrust, kapal itu dicegat dan diserang meriam dari kapal-kapal VOC.

Satu orang Inggris tewas dan 15 orang Jawa utusan Sultan mengamuk dan akhirnya dibunuh. Kejadian itu diprotes keras oleh pihak Inggris di Banten, namun tidak merubah apapun.

Sementara bagi Sultan Agung, kejadian itu menimbulkan amarah. Selain misi ke Mekkah gagal, ia juga merasa dipermalukan.

Korban pelampiasan dendam

Surat VOC tertanggal 12 Juli 1642 yang berisi pemberitahuan tentang pencegatan kapal Reformation diterima Sultan Agung beberapa hari kemudian.

Dalam surat itu, pihak VOC menyatakan akan membebaskan Kiai Haji (utusan Mataram untuk ziarah ke Mekkah) dengan syarat agar Sultan Agung membebaskan orang Belanda yang ditahan di Mataram.

Reaksi Sultan Agung terhadap surat itu sangat dingin. Baginya, tindakan keras harus diambil untuk mengembalikan reputasinya sekaligus untuk membalas dendamnya terhadap VOC yang kian membuncah.

Ia melampiaskan amarahnya kepada orang Belanda yang terdekat, yaitu para tawanan.

Sultan memerintahkan seluruh tawanan Belanda yang tidak disunat dan tidak menikah secara Islam dihukum berat dengan cara dipasung. Hukuman dipertontonkan ke khalayak banyak di alun-alun.

Salah satu tawanan terpenting adalah Antonie Paulo. Ia adalah bekas wakil kepala perdagangan Belanda di bawah pimpinan Cornelis van Maseyck.

Pada 1632, Maseyck menjalankan misi VOC untuk memperbaiki hubungan dengan Mataram, setelah dua kali penyerangan Mataram yang gagal.

Perundingan itu berjalan buntu. Bahkan Antonie Paulo beserta 23 orang Belanda lainnya disergap dan ditahan menjadi tawanan di Keraton Mataram. Dan kepada orang inilah, Sultan Agung melampiaskan dendam kesumatnya.

Sebelum dihukum, Antonie diadili dengan tuduhan telah melakukan praktik sihir dengan mengirimkan surat rahasia melalui udara sehingga rencana mengirim utusan ke Mekkah diketahui VOC.

Ia juga dituduh telah menyihir Sultan Agung (orang Jawa menyebutnya santet) sehingga sempat jatuh sakit.

Disebutkan pula bahwa dalam penggalian di rumah tahanan, ditemukan tulang-tulang, rambut, dan kertas berhuruf Belanda. Semua barang mempunyai kekuatan gaib.

Bisa jadi, Sultan Agung ingin menyamakan temuan itu dengan ilmu santet seperti mitos dalam masyarakat Jawa. Oleh karena itu, Antonie Paulo harus dihukum mati dengan cara dilemparkan ke kolam agar dimangsa buaya.

Pada 15 September 1642, eksekusi hukuman dilakukan.

Dalam catatan Van Goens seperti dikutip De Graaf , hukuman itu berlangsung sangat lama. Sebabnya, saat tubuh Antonie dilempar ke kolam, binatang buas itu ternyata tidak mau memangsanya.

Sultan Agung kemudian memerintahkan agar tubuh Antonie dicincang menjadi enam bagian. Tubuh yang telah dipotong itu dilemparkan kembali ke dalam kolam buaya. Namun, sekali lagi, binatang mengerikan itu tidak mau memakannya.

Akhirrnya, Sultan Agung kemudian berkesimpulan, “dengan ini Paulo dinyatakan tidak bersalah,” dan ia memerintahkan untuk menguburkannya. Potongan tubuh itu kemudian dimasukkan ke dalam peti dan dikuburkan.

Kisah hukuman terhadap Antonie Paulo menjadi catatan terakhir yang mengisahkan kekejaman Sultan Agung.

Seperti dicatat De Graaf, sekitar pertengahan Februari 1646, Sultan Agung wafat dan dimakamkan di makam para raja Mataram, yaitu di makam Imogiri.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?