• News

  • Singkap Sejarah

Bandit Revolusi, Memalsu dan Menimbun Rupiah di Surakarta

Uang rupiah tempo dulu
youtube
Uang rupiah tempo dulu

SURAKARTA, NNC - Hingga tri wulan kedua tahun 2018, Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Kota Solo atau Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, telah membukukan sebanyak 1.104 uang palsu telah beredar di masyarakat.

Dan parahnya, banyak orang tidak menyadari ketika uang yang dipegang adalah uang palsu.

Jenis uang palsu yang paling banyak beredar adalah uang pecahan Rp 100 ribu. Jumlahnya mencapai 56 persen dari total seluruh uang palsu yang ditemukan. Urutan kedua adalah pecahan uang palsu Rp 20 ribu. Dan sisanya adalah pecahan Rp 10 ribu dan Rp 5 ribu. 

Rupanya, slogan yang digambar-gemborkan Bank Indonesia, yaitu 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang) belum menjadi pedoman dan kebiasaan sehari-hari.

Pihak yang sangat diuntungkan dalam situasi seperti ini adalah oknum tak bertanggung-jawab atau bandit-bandit yang sengaja memalsu dan mengedarkannya.

Menelusuri sejarah mengenai peredaran uang di Solo dan sekitarnya, ternyata cukup mencengangkan. Sejak Indonesia baru lahir, kota ini sudah terkenal sebagai surganya para pemalsu dan penimbun uang rupiah. 

Di tengah perang revolusi kemerdekan sedang berkecamuk, mereka justru berselancar mengeruk keuntungan dengan cara culas. Dan jika dilihat modusnya, praktik haram itu sudah sangat canggih. Bagaimana itu bisa terjadi?

Kekacauan peredaran mata uang

Pada masa revolusi kemerdekaan, ada tiga jenis Oeang Republik Indonesia (ORI) yang resmi beredar di masyarakat.

Ketiganya adalah uang rupiah yang dikeluarkan kementerian keuangan, uang rupiah buatan Jepang, dan uang rupiah buatan Netherlands-Indies Civil Administration (NICA). 

Beragam jenis mata uang yang beredar bisa dimaklumi mengingat situasi Indonesia baru lahir. Pemerintah sedang fokus menghadapi rongrongan tentara Belanda yang berusaha kembali menguasai Indonesia.

Namun karena ketiga mata uang beredar tanpa kontrol dan pengawasan yang baik, timbulah kekacauan.

Kekacauan diperparah juga dengan munculnya dua jenis permasalahan yaitu banyaknya uang palsu yang beredar di masyarakat dan penimbunan uang recehan yang menyebabkan kelangkaan uang kecil.

Akibatnya, nilai mata uang rupiah yang dikeluarkan Kementerian Keuangan merosot ke titik terendah.

Dalam Arsip Reksa Pustaka No S875, “Pengoemoeman Tentang Perbandingan Oeang RI di Soerakarta tahoen 1949,” disebutkan bahwa merosotnya nilai uang rupiah dibanding uang yang dikeluarkan NICA dan Jepang adalah 10 berbanding 1. Hal ini sangat merugikan sebagian orang.  

Ciri uang asli dan palsu 

Kepolisian di Surakarta sebenarnya sudah mampu medeteksi dan mengidentifikasi peredaran uang palsu tersebut. Kementerian Keuangan Republik Indonesia juga turun langsung ke Surakarta untuk mensosialisasilkan agar masyarakat mengetahui ciri-ciri uang palsu.

Pada 10 Mei 1948, Kementerian Keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa uang rupiah yang resmi dikeluarkan adalah pecahan seratus rupiah berwarna biru dan merah.

Untuk yang berwarna biru ada tiga jenis, yaitu yang ditandatangani Mr AA Maramis tanggal 15 Oktober 1945, ditandatangani Menkeu Safrudin Prawiranegara tanggal 1 Januari 1947, dan uang baru yang ditandatangani Safrudin Prawiranegara yang beredar pada Maret 1948.

Warna uang lama yang ditandatangani Safrudin Prawiranegara lebih pucat dan seri letter “b” lebih kurus. Untuk uang yang ditandatangani Mr AA Maramis seri nomornya hanya lima angka sementara lainnya adalah enam angka.

Sedangkan uang seratus rupiah berwarna merah memiliki ciri angka 100 dicetak dengan warna dasar merah muda dan di atasnya berwarna coklat.

Walaupun sudah ada pengumuman tentang ciri-ciri uang asli, namun tidak banyak membantu masyarakat untuk bisa membedakannya. Buktinya, empat jenis uang palsu tetap bisa beredar dan masyarakat menggunakan uang palsu tersebut tanpa sadar.

Ciri uang palsu seratus rupiah yang berwarna merah itu antara lain angka 100 terlihat kasar, tidak berwarna coklat tetapi ungu, di bawah tulisan “Jogja” hanya ada tiga lingkaran padahal seharusnya empat, cetakannya lebih kotor, dan warna dasar potret presiden terlalu terang.        

Dicetak di Hongkong

Berdasarkan penyelidikan kepolisan, terungkap bahwa uang palsu yang beredar di Surakarta ternyata berasal dari percetakan di Hongkong.

Oknum-oknum yang terlibat adalah orang-orang Tionghoa yang berusaha memancing di air keruh alias mengeruk keuntungan di tengah kekacauan.

Dalam berita harian Buruh 15 Djuli 1948 seperti dikutip Julianto Ibrahim dalam buku “Bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan” (2004: 131-135), beberapa orang pemalsu uang yang berhasil ditangkap ternyata dipimpin oleh seorang wanita Tionghoa.

Polisi juga menyita klise pencetak uang dan uang rupiah palsu senilai 1,5 juta.

Jaringan mereka cukup rapi dari Hongkong hingga ke Surakarta. Mereka memanfaatkan para pedagang antar pulau.

Dan korbannya, mayoritas adalah para pedagang Tionghoa. Ketika sadar, mereka kemudian melaporkannya kepada polisi sehingga jaringan pelaku bisa dibongkar.

Penimbunan uang recehan

Penyebab kekacauan transaksi dengan menggunakan uang rupiah di Surakarta berikutnya adalah karena adanya praktik penimbunan uang kecil atau uang recehan yang dilakukan segelintir orang.

Persoalan ini jauh lebih besar dampaknya bagi kalangan masyarakat bawah.

Uang palsu yang tidak dipedulikan dan tetap digunakan sebagai alat transaksi, tidak akan berdampak pada orang kecil. Namun, akibat ketiadaan uang kecil langsung memukul sendi-sendi ekonomi di lapisan masyarakat bawah.

Harian Buruh 30 Djuli 1948 melaporkan akibat kelangkaan uang receh, sebagian besar kereta api di Surakarta tidak beroperasi. Mengapa? Penumpang tidak memiliki alat bayar.

Apalagi pada masa itu sedang berlangsung Hari Raya Idul Fitri di mana masyarakat membutuhkan uang receh untuk transaksi ekonomi.

Situasi kekacauan ini digambarkan dengan berita bahwa para pegawai dan buruh banyak yang tidak mendapat “hadiah Lebaran”. Mungkin yang dimaksud semacam hadiah atau Tunjangan Hari Raya (THR).

Kepolisian Surakarta bekerjasama dengan Kepolisian Magelang  dan Purwodadi kemudian melakukan operasi untuk membongkar penyebab kelangkaan tersebut.

Pada 10 Juli 1948, ditemukan sebanyak satu kuintal uang receh disembunyikan di sebuah rumah di Kadipolo, Surakarta. Pemiliknya seorang pedagang beretnis Tionghoa. Uang kemudian disita dan pemiliknya ditahan.

Sementara patroli polisi di daerah Kartosuro, Surakarta, ditemukan juga satu peti uang recehan yang rencananya akan dikirim ke luar daerah.

Para penimbun adalah orang-orang Jawa yang mengaku diperintah oleh orang Tionghoa anggota Chung Hua Tsung Hui (CHTH). Sayangnya, dalam harian itu  tidak disebutkan tujuan pengiriman uang ke luar Surakarta.

Namun, pada 13 Juli 1948, di hadapan media massa, pengurus CHTH menyangkal keterlibatannya dalam praktik penimbunan uang recehan tersebut.

Mereka juga menyatakan mendukung langkah-langkah yang dilakukan polisi dan meminta agar polisi menindak tegas para penimbun.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?