• News

  • Singkap Sejarah

Ketika Orang Jepang Doyan Makan Gaplek Milik Petani Wonogiri

Rakyat Indonesia menyambut kedatangan pasukan Jepang
axishistory
Rakyat Indonesia menyambut kedatangan pasukan Jepang

SURAKARTA, NNC - Tahun 1942, pasukan Hindia-Belanda bertekuk lutut di hadapan pasukan Dai Nippon. Hindia-Belanda jatuh dalam genggaman pasukan Jepang.

Selanjutnya, ratusan ribu tentara berkulit kuning berdatangan secara bergelombang untuk mengambil alih kekuasaan di seluruh Nusantara.

Pada 5 Maret 1942, pasukan Jepang memasuki pedalaman Jawa, termasuk kota Surakarta atau Solo, Jawa Tengah.

Di bawah komando Funabiki, tentara Jepang membangun sistem pertahanan untuk meraih kemenangan melawan Sekutu. Mereka juga mengincar logistik dan simpati rakyat Indonesia.

Surakarta dijadikan sebagai daerah istimewa dengan sebutan kochi. Para pejabat tinggi tentara Jepang mengunjungi para penguasa keraton. Mereka berusaha mengambil hati para bangsawan Keraton Surakarta agar bersedia membantu Jepang.

Semua yang dilakukan tentara Jepang tak lepas dari taktik untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia di Surakarta.

Peran para tokoh masyarakat mulai dari bangsawan keraton hingga kepala desa sangat penting sebagai perantara dalam menyediakan kebutuhan perang.

Menghimpun logistik di Surakarta   

Selain tenaga kerja, Jepang sangat membutuhkan hasil pertanian sebagai sumber pangan. Daerah Jawa yang subur dengan beragam hasil pertanian, memberikan jawaban yang mereka perlukan.

Sumber pangan digalang seefisien mungkin. Bila perlu, dengan menggunakan kekerasan.

Padi di Jawa memang berlimpah. Dalam catatan pejabat Belanda berjudul  “De Rijspositie van Nenderlandsch-India”, selama tahun 1937-1941, rata-rata produksi padi di seluruh Jawa setiap tahunnya mencapai 8,5 juta ton.

Tentu saja, hal itu membuat Jepang tergiur dan ingin menguasainya.

Berdasar kajian Julianto Ibrahim dalam “Bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan” (2004: 60), selain untuk pasukan Jepang, stok logistik juga untuk memenuhi kebutuhan makan bagi pemuda Indonesia yang direkrut sebagai tenaga pendukung perang seperti anggota Pembela Tanah Air (PETA), Heiho, Romusha, dan tenaga konrohoshi (kerja wajib). 

Menurut perhitungan mereka, Jepang memerlukan satu sampai dua juta ton padi tiap tahun. Bila dibandingkan dengan potensi produk padi di seluruh Jawa, maka jumlah yang mereka butuhkan hanya sekitar 38 persennya.

Namun dalam prakteknya, prosentase padi yang dihimpun Jepang, jauh lebih besar.

Sejak bulan April 1943, sesuai rancangan gunseikanbu (petinggi militer pusat), tentara Jepang mulai menghimpun padi di Surakarta secara masif.

Jepang juga membentuk lembaga khusus yang mengelola pangan yaitu Zyuuyoo Bussi Kodan dan Kooti Soomutyookan

Lembaga tersebut mengeluarkan peraturan yang mewajibkan para petani menyerahkan padi berdasarkan kuota. Kuota kepemilikan padi untuk setiap petani selama satu tahun adalah sebesar 100 kilogram.

Dan untuk stok bibit sebanyak-banyaknya adalah 75 kilogram per hektare.

Seluruh produksi padi setelah dikurangi kuota kepemilikan untuk memenuhi kebutuhan makan setiap petani dan dikurangi juga untuk stok bibit, wajib diserahkan ke pemerintah Jepang.

Petani yang melanggar ketentuan akan dikenakan hukuman tiga bulan penjara atau denda sebesar 100 rupiah.

Padi dihimpun dengan memanfaatkan pejabat lokal seperti kencho (bupati), guncho atau soncho (camat), dan kucho (kepala desa).

Setiap kali panen, mereka harus menghimpun padi dengan target tertentu yang harus dipenuhi. Padi yang sudah terkumpul kemudian disimpan di gudang yang disebut petuton.

Walaupun ada ketentuan jumlah padi yang tetap harus dimiliki petani untuk kebutuhannya sendiri, namun dalam prakteknya, pejabat lokal seringkali merampas seluruh hasil panen para petani.

Pejabat lokal takut apabila target setoran tidak tercapai, mereka akan mendapatkan sanksi.

Akibat kekeringan dan gagal panen

Jumlah padi yang diserahkan ke pemerintah Jepang, setiap tahun terus meningkat. Dalam proses ini, petani adalah pihak yang nasibnya paling tragis.

Mereka memproduksi namun tidak menikmatinya. Bisa jadi, hal ini ikut berdampak pada penurunan hasil produksi pada masa-masa selanjutnya.

Jumlah padi yang mengalir ke pemerintah semakin meningkat, namun berbanding terbalik dengan jumlah produksi yang dihasilkan.

Rata-rata setiap tahun mengalami penurunan produksi sebesar -33 persen. Situasi tersebut tentu saja berdampak terhadap banyak hal.

Dalam Arsip Reksa Pustaka No 155 berjudul “Bendel Rahasia Djepang 1943-1945” disebutkan bahwa penurunan produksi disebabkan oleh iklim, kelangkaan sapi, hama tikus, dan lain-lain.

Situasi menjadi semakin tak menentu karena kemudian terjadi wabah busung lapar.

Sepanjang tahun 1943, tak kurang dari 62 ribu jiwa meninggal karena kelaparan. Satu tahun berikutnya meningkat dua kali lipat yaitu menjadi 115 ribu jiwa. Tahun 1944 adalah puncak kelaparan karena terjadi kegagalan panen akibat kekeringan.

Angka kematian paling tinggi adalah Wonogiri. Pada masa sebelumnya, mereka biasanya mampu bertahan hidup dalam melewati masa kemarau panjang dengan mengonsumsi gaplek yang mereka simpan (ubi kayu yang diawetkan dengan dikeringkan).

Namun di zaman Jepang, benteng pertahanan pangan mereka runtuh. Gaplek yang hanya bisa mencukupi kebutuhan sendiri, dirampas pejabat lokal untuk diserahkan ke pemerintah Jepang.

Kekurangan beras menyebabkan orang Jepang doyan mengonsumsi gaplek dari pada mati kelaparan. Gaplek menjadi alternatif atau solusi terbaik menghadapi ancaman maut kelaparan.      

Dalam perencanaan Kooti Soomutyookan, produksi gaplek pada 1944 di Wonogiri  diperkirakan mencapai 100 ton.

Sekitar 10 persennya, wajib diserahkan ke pemerintah Jepang. Namun, iklim di Wonogiri pada tahun itu ternyata di luar perkiraan.

Sepanjang tahun, daerah Wonogiri jarang diguyur hujan sehingga terjadi kekeringan yang parah. Panen ubi kayu menurun dan mengakibatkan produksi gaplek turun hingga 50 persen dari perkiraan.

Dan celakanya, rakyat Wonogiri tetap dipaksa menyerahkan gaplek kepada pejabat setempat. Jumlah gaplek yang dikumpulkan mencapai 829.816 kilogram.

Gaplek yang terkumpul dikirim pemerintah Jepang ke Semarang sebanyak 400 kilogram. Sisanya disimpan di gudang.

Jumlah makanan itu berhasil menyelamatkan sekian banyak tentara Jepang yang mungkin doyan gaplek karena terpaksa. Sementara sekian ribu petani di Wonogiri, menemui ajal karena lapar.

Mereka yang selamat harus memakan bonggol pisang untuk sekadar mengganjal perut.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?