• News

  • Singkap Sejarah

Dicitrakan Telanjang Dada, Perempuan Bali Naik Pitam

Perempuan Bali tempo dulu
tropenmuseum
Perempuan Bali tempo dulu

DENPASAR, NNC - Pulau Bali jatuh dalam kekuasaan Kolonial Belanda secara penuh pada sekitar tahun 1908. Setelah Puputan Badung dan Klungkung, bangsa Belanda benar-benar bisa menyusup dalam semua sendi kehidupan masyarakat Bali. Salah satunya adalah melalui publikasi atau “citra telanjang dada”.

Anda pasti sering menjumpai gambar atau video tempo doeloe di media internet yang memperlihatkan perempuan-perempuan Bali bertelanjang dada atau bahkan telanjang bulat. Itu semua adalah jejak-jejak eksploitasi salah kaprah terhadap budaya Bali pada era Kolonial.

Menurut I Nyoman Darma Putra dalam “Wanita Bali Tempo Doeloe” (2007: 33-36), itu semua adalah salah satu bentuk dan akibat praktik penjajahan bangsa Belanda di Indonesia. Budaya Bali disalahartikan dan disalahgunakan melalui wanita telanjang dada atau the island of breast.

Propaganda yang merendahkan martabat perempuan Bali itu mengemuka pada sekitar tahun 1920-an. Dan jangan dikira bahwa hal itu dibiarkan begitu saja oleh masyarakat Bali, khususnya kaum perempuan yang telah “melek” peradaban dan semangat nasionalismenya.

Praktik tersebut telah membuat para aktivis (perempuan terpelajar) di Bali naik pitam. Mereka melakukan protes agar pemerintah Kolonial Belanda dan masyarakat menghentikan pemakaian potret wanita tanpa busana hanya karena untuk memikat orang Eropa berkunjung ke Indonesia.

Para aktivis tersebut juga berusaha menyadarkan kaum perempuan Bali untuk bersikap apabila martabatnya direndahkan dengan cara-cara murahan seperti itu.

Dan memang, hal itu tidak serta-merta bisa menghasilkan perubahan sosial. Sebagian warga Bali hidup dalam kemiskinan dan juga karena berusaha menyesuaikan iklim tropis yang panas. Para perempuan bertelanjang dada bukan karena mereka tidak mengindahkan martabatnya.

Kaum perempuan bertelanjang dada karena keterbatasan ekonomi dan tak mampu membeli kain yang layak untuk sekedar menutup aurat. Ketelanjangan bukan disebabkan oleh budaya memamerkan organ seksualitas untuk hal-hal yang bersifat asusila.

Namun, kondisi itu ternyata dieksploitasi dan sengaja digunakan kepentingan Kolonial Belanda untuk menarik simpati orang Eropa sehingga mau berdatangan ke Nusantara.

Sosok perempuan Bali yang berkulit coklat dan mengilap saat terkena sinar matahari memberi kesan tersendiri bagi pria Eropa. Dan hal itu sengaja “dijual” dan dipublikasikan oleh Pemerintah Belanda ke masyarakat Eropa  melalui beragam media cetak hinga kartu pos.

Semua itu dilakukan demi keuntungan sepihak yaitu bagi pemerintah Kolonial. Bali dicitrakan dalam eksotisme tubuh wanita Bali hanya untuk promosi pariwisata.

Salah satu gambar citra wanita Bali yang bertelanjang da da adalh foto hasil jepretan fotografer Thilly  Weissenborn pada 1923 yang mengabadikan wanita Bali bertelanjang dada di depan kuri (pintu gerbang berukiran Bali). Foto ini kemudian menyebar ke semua media.

Dalam tulisan Helen Yates berjudul “Bali: Enchanted Island” (1933), kulit wanita Bali yang sawo matang dan mengilap ketika diterpa sinar matahari menjadi daya tarik tersendiri bagi turis Eropa. “Dahaga” pria Eropa yang bosan dengan wanita berkulit putih terjawab dengan semua itu.

Citra Bali dengan perempuan bertelanjang dada kemudian terus berlanjut selama pemerintahan Kolonial Belanda. Bahkan, hingga masa awal kemerdekaan Republik Indonesia, sisa-sisa dari praktik terkutuk itu, masih sempat bermunculan.

Gerakan memrotes citra buruk itu sebenarnya sudah berkembang sejak sekitar tahun 1930. Perempuan-perempuan Bali yang terdidik yang memrotes itu antara lain adalah perempuan Bali yang tergabung dalam gerakan Poetri Bali Sadar.

Nama-nama aktivis dalam gerakan itu di antaranya Ni Loeh Sami dan Ni Made Tjatri.

Kritikan Ni Loeh Sami dituangkan dalam berita Djatajoe, 25 Desember 1936 dalam judul “Pintu dan Jendela masih Tertutup.”

Atas nama wanita Bali, Ni Loeh Sami menyatakan, “...yang telanjang bulat dipentontonkan di muka ramai. Dengan uang setali, dua tali, bangsa kami dipermainkannya, dianggapnya boneka saja untuk menghiburkan hatinya.”

Catatan Ni Leoh berhasil menggambarkan bahwa di masa itu, perempuan Bali mau dipotret dengan bertelanjang dada, juga karena tergiur imbalan uang. Ini juga menggarisbawahi bahwa karena kemiskinan, perempuan Bali justru dimanfaatkan.

Dengan mengangkat hal ini, Ni Loeh Sami berusaha menolak komersialisasi tubuh perempuan sambil mengajak kaum perempuan Bali untuk sadar dan jangan mau diperalat dan dipermainkan.

Lebih lanjut lagi, Ni Loeh Sami juga mencatat, “Ya, kami masih berselubungkan  kebodohan, kami masih terkurung dalam bilik yang kelam sehingga dengan sendirinya kami tiada melihat diri kami sendiri. Pintu dan jendela masih tertutup bagi kami.”

Ni Loeh Sami melihat masih banyak kaum perempuan Bali yang belum mengenyam pendidikan. Kaum perempuan Bali terbelakang dan membutuhkan penyadaran tentang harkat dan martabat mereka.

Kepedulian dan keprihatinan terjadap citra perempuan Bali bertelanjang dada juga mengalir melalui tulisan karya Ni Made Tjatri. Salah satu tulisan Ni Made Tjatri dimuat dalam berita Djatajoe, 27 Februari 1938, dengan judul “Poetri Bali”.

Ni Made Tjatri menyerukan agar perempuan Bali jangan mau menjadi “tertawaan” dunia, jangan mau martabatnya direndahkan, dan jangan mau dijual-belikan lewat koran dan surat kabar lainnya.

Ni Made Tjatri berharap semua perempuan Bali berani menolak imbalan bila ditawarkan berfoto dengan telanjang dada.  Sama halnya dengan Ni Loeh Sami, ia juga mengajak kaum perempuan Bali untuk memajukan diri melalui pendidikan.

Di masa itu, perjuangan sosok-sosok aktivis perempuan terpelajar Bali belum mendapat dukungan masyarakat luas. Dukungan kecil diperoleh antara lain dari organisasi bernama Organisasi Bali Darma Laksana.

Dalam Kongres ke-2 pada 1938, anggota organisasi tersebut mengeluarkan dua usulan penting berkaitan dengan martabat perempuan.

Pertama, mereka mendesak pemerintah Kolonial Belanda  untuk melarang penjuualan dan publikasi potret-potret wanita telanjang (khususnya yang terkait citra perempuan Bal). Kedua, mereka mengusulkan agar praktik “penjualan wanita” dihentikan.

Dengan demikian, pada era 1930, di Bali, sebenarnya sudah terdapat sejumlah perempuan berpikiran maju untuk sama-sama berkontribusi dalam memperjuangkan persamaan gender.

Mereka tak hanya menyuarakan  melalui mulut tetapi juga menyuarakan melalui media tulis, media massa, organisasi, bahkan juga melalui praktik nyata dengan menjadi pendidik bagi kaum wanita lainnya.    

 

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?