• News

  • Singkap Sejarah

Meneladani Menteri Susi, Wanita Angkatan Laut Indonesia Perlu Bertato dan Merokok?

Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) Republik Indonesia
aktual.com
Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) Republik Indonesia

JAKARTA, NNC - Tanggal 5 Januari selalu dirayakan sebagai Hari Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) Republik Indonesia. Peringatan itu penting artinya sebagai momen untuk merefleksikan kiprah prajurit wanita TNI Angkatan Laut di masa lampau untuk kemajuan di masa mendatang.

Maka, dalam konteks itulah tulisan pendek ini berusaha menengok ulang arti penting Kowal bagi TNI-AL khususnya, dan bagi Indonesia pada umumnya.

Sengaja penulis mengajak semua anggota Kowal untuk bercermin pada sosok perempuan pemberani yang saat ini menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.

Meneladani Menteri Susi bukan berarti harus meniru hal-hal bersifat kontroversial seperti harus bertato dan merokok. Namun yang paling utama adalah semangat dan prinsip perjuangan kaum perempuan yang ternyata mampu berkontribusi begitu besar bagi keharuman bangsa.

Untuk itu, marilah kita tengok sepenggal kisah lampau tentang asal-usul dan sosok-sosok yang berpengaruh bagi lahirnya Kowal di negeri Indonesia tercinta ini. Untuk apakah Kowal dibentuk?

Asal-Usul Kowal

Keberadaan Kowal tak bisa dilepaskan dengan keberadaan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) atau TNI-AL. Pada awal dasawarsa tahun 1960-an, TNI-AL merasakan betapa pentingnya tenaga perempuan bagi perjuangan.

Beberapa bidang “penunjang” tetapi sangat menentukan perjuangan akan lebih sesuai bila dikerjakan oleh kaum wanita. Bidang-bidang itu antara lain mengurus administrasi, medis (Nurse Corps), logistik, diplomasi, humas, dan hal-hal teknis lainnya.

Gagasan pendirian Kowal pada mulanya dicetuskan oleh Komodor Yos Sudarso dan baru direalisasikan oleh Menteri/ Panglima Angkatan Laut Laksamana RE Martadinata melalui Surat Keputusan Men/Pangal Nomor 5401.24 tanggal 26 Juni 1962.

Maka selanjutnya dibentuklah Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) dengan merekrut sejumlah pemudi dan dididik sebagai calon anggota Kowal. Kala itu ada 12 orang calon Perwira Kowal.

Pelantikan pertama terhadap 12 Kowal dilakukan oleh Kasal Laksamana Muda di Markas Besar Angkatan Laut, Jalan Gunung Sahari 67, Jakarta, pada tanggal 5 Januari 1963. Hari itu kemudian dijadikan sebagai Hari Jadi Kowal.

Ada dua Kowal yang berhasil mencapai  jabatan Perwira Tinggi, antara lain Laksamana Muda TNI Christina Maria Rantetana SKM, MPH dan Laksamana Pertama TNI dr. Jeanne PMR Winaktu, Sp, BS.

Patut di catat bahwa di awal memang Kowal dibentuk sebagi barisan “tentara wanita” yang bertugas di bidang non-tempur.  Di satu sisi, kaum perempuan diberikan ruang untuk ikut ambil bagian dalam bela negara di bidang kemiliteran tanpa dibatasi oleh jenis kelamin.

Di sisi lain, pembentukan Kowal juga untuk meningkatkan efisiensi dan kesempurnaan organisasi.

Mengabdikan diri kepada TNI Angkatan Laut untuk tugas-tugas tertentu yang lebih cocok dan efisiensi dilakukan oleh tenaga-tenaga wanita.

TNI-AL juga mempertimbangkan pentingnya menjalin relasi yang harmonis dengan masyarakat. Dan dalam hal ini, posisi Kowal akan sangat menentukan, khususnya dalam menjalin hubungan dengan organisasi-organisasi wanita lainnya di Indonesia.

Bercermin pada sosok Menteri Susi

Dari semua asal mula dan latar belakang Kowal seperti disinggung di atas, semuanya adalah baik adanya dan sudah pada tempatnya. Namun, dewasa ini, munculnya sosok Menteri Susi Pudjiastuti, justru makin meneguhkan dan menegaskan betapa dahsyatnya peran perempuan.

Peran kaum perempuan bisa jauh labih dari sekadar ”tenaga penunjang”. Ternyata kaum perempuan mampu dan bisa menjadi pemimpin di garda terdepan dalam bela negara dan “penentu” arah masa depan Indonesia.

Aksinya yang gagah berani dalam memimpin eksekusi penenggelaman kapal-kapal pencuri ikan di perairan Indonesia telah mencengangkan dunia.

Aksi tersebut berhasil membuat para pencuri kekayaan laut Indonesia berpikir ulang jika masih tetap melanjutkan aksi-aksi mereka. Padahal sebelumnya, keberadaan mereka seolah tak tersentuh hukum negara Indonesia.

Dan bila ditengok, pemimpin komando itu bukanlah seorang perempuan berpendidikan kemiliteran. Menteri Susi, perempuan kelahiran 15 Januari 1965 di Pangadaran itu “hanya” tamat sampai tingkat SMP dan kemudian memilih terjun dalam dunia bisnis perikanan dan maskapai.

Setelah tamah SMP, Ia sempat mengenyam dua tahun pendidikan di SMAN Yogyakarta. Pada 1996, Susi kemudian merintis pabrik pengolahan ikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product. Produk unggulannya adalah lobster dengan merek “Susi Brand.”

Selanjutnya pada 2004, Susi membeli sebuah Cessna Caravan seharga Rp 20 miliar. Dengan pesawat itu, ia mengangkut dan mendistribusikan lobster dan ikan segar tangkapan para nelayan ke pasar dalam negeri dan luar negeri.

Kesuksesan pun berhasil diraih. Namun kesuksesan itu harus ia tebus dengan perjuangan tak kenal lelah. Dan hal ini sering tak terbaca dan tertulis di atas kertas. Kisah jatuh bangunnya tak semua orang tahu.

Sosoknya yang keras dan tak kenal menyerah dari kegagalan bisa dibilang “tercermin” dalam simbol  perempuan bertato dan perokok. Tak ada gading yang tak retak.

Ia pun pernah mengalami pahit getirnya hidup berkeluarga karena pernah mengalami perceraian. Namun hal itu bukanlah tembok pembatas untuk mengakhiri perjuangan meraih bintang di angkasa.

Begitulah sosok Susi Pudjiastuti yang kemudian “diseret” oleh Presiden Jokowi  pada 26 Oktober 2014 untuk menahkodai Kementerian Kelautan dan Perikanan menuju arah masa depan Indonesia yang digdaya di mata dunia.

Dan tampaknya, Susi Pudjiastuti menerima dan melaksanakan tanggung-jawab itu dengan sepenuh hati. Hal ini terbukti melalui gebrakan-gebrakan yang revolusioner dan belum pernah dilakukan deretan menteri di era sebelumnya .  

Dan sekali lagi, kaum perempuan terbukti tidak bisa dianggap remeh. Mereka bisa saja mengalami diskriminasi. Mereka bisa saja “hanya” dianggap sebagai tenaga “penunjang” perjuangan. Namun di banyak kasus, mereka tampil memimpin.

Masihkah meragukan sosok perempuan? Masihkah perempuan harus didiskriminasi?

Dan bagi perempuan, mari meneladani sosok-sosok seperti Menteri Susi. Tetap ada secercah kemerdekaan bagi perempuan walau di beberapa sisi masih ada belenggu budaya patriarki.  

Zaman tetap terbuka bagi kaum perempuan untuk bangkit dan berkontribusi membangun bangsa.

Seperti kata Susi Pudjiastuti, “Orang yang meraih kesuksesan tidak selalu orang yang pintar, tapi orang yang selalu meraih kesuksesan adalah orang yang gigih dan pantang menyerah. Bagaimana caranya mewujudkan impian agar sukses? Kunci suksesnya adalah komitmen dengan apa yang kita jalani.”

Dan bagi anggota Kowal RI, kiprah Anda semua tidaklah hanya sekadar “penunjang” TNI-AL. Kiprah Anda adalah “penentu” arah masa depan Indonesia.

Dirgahayu Korps Wanita Angkatan Laut Republik Indonesia! 

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?