• News

  • Singkap Sejarah

Mengapa Pulau Sulawesi Berbentuk Huruf ‘K’?

Peta Celebes yang sekarang dikenal dengan nama Pulau Sulawesi
flickriver
Peta Celebes yang sekarang dikenal dengan nama Pulau Sulawesi

MAKASAR, NNC - Sulawesi atau dahulu dikenal dengan nama Celebes adalah sebuah pulau yang indah permai dengan luas tanah 227 ribu kilometer persegi. Pulau ini lebih kecil dibandingkan dengan gabungan daratan England dan Scotland.

Bentuk Pulau Sulawesi sangat unik. Oleh sebagian orang, pulau ini dikatakan mirip bunga anggrek dengan jazirah-jazirah yang panjang serta pipih. Namun, secara kasat mata, Pulau Sulawesi terlihat seperti huruf “K”.

Pulau ini mempunyai garis pantai yang panjang. Kebanyakan, daratannya tampak bergunung-gunung. Dilihat dari pantai maupun dilihat dari ketinggian, Pulau Sulawesi menyajikan pemandangan yang sungguh memesona.

Dalam kacamata ilmu geografi, di Pulau Sulawesi terdapat Selat Makassar yang dikenal sebagai daerah batas garis Wallace yang membedakan jenis margasatwa di belahan bagian Timur dan bagian Barat Indonesia.

Menurut sejarah lisan, nama Sulawesi berasal dari “sula” yang berarti “pulau” dan “wesi” yang berarti "besi" karena di pulau ini memiliki kandungan atau sumber tambang besi, emas, dan nikel yang banyak sekali.

Sebelum bernama Sulawesi, yang ada hanyalah laut di antara dua pulau. Konon, dahulu kala, dua pulau itu bertabrakan. Kemudian terbentuklah Pulau Sulawesi dengan penampakan seperti yang terlihat sekarang ini.

Akibat dari tabrakan itu, membuat “pinggang” daratan Pulau Sulawesi menjadi bergunung-gunung, memiliki banyak sungai dan danau, memiliki kandungan bijih besi, dan memiliki kandungan emas. Begitulah tradisi lisan yang dikisahkan turun-temurun dari para leluhur.

Pulau Sulawesi adalah pulau terbesar kesebelas di dunia dan keempat di Indonesia setelah Papua, Kalimantan, dan Sumatera.

Sementara Prof. A. Katili, ahli geologi Indonesia, merumuskan bahwa geomorfologi Sulawesi terjadi akibat tabrakan lempengan bumi atau lempengan benua sehingga membentuk dua bagian Pulau Sulawesi, yaitu bagian Timur dan Barat. Peristiwa tabrakan itu terjadi antara 13 sampai 19 juta tahun yang lalu.

“Dorongan” akibat tabrakan lempeng benua menjadi fondasi Sulawesi bagian Timur, termasuk Pulau Banggai dan Sula, yang menjadi bagian dari lempeng Australia. Kemudian, Sulawesi bagian Barat menjadi selempeng dengan pulau-pulau seperti Kalimantan, Jawa, dan Sumatera.

Dengan demikian, akibat tabrakan lempeng itu, Pulau Sulawesi menjadi salah satu pulau yang geologinya paling rumit dan unik. Dan bentuknya menyerupai huruf “K”.

Pulau ini kemudian dihuni oleh berbagai macam suku yang berbeda-beda dan memiliki bahasa yang berbeda antara daerah yang satu dengan daerah lainnya.

Keragaman suku bisa dilihat, misalnya di Sulawesi Selatan, sebagian besar dihuni oleh Suku Makassar dan Suku Bugis yang memiliki budaya dan bahasa yang relatif berbeda dengan suku-suku yang menghuni daerah Sulawesi bagian Tenggara.

Begitu juga suku yang ada di Sulawesi Tengah yang memiliki budaya yang berbeda dengan suku-suku yang menghuni Sulawesi bagian Utara (sebagian besar penghuninya adalah Suku Minahasa).

Pulau Sulawesi juga berbeda dengan sebagian besar pulau lainnya di wilayah biogeografis Wallace. Pulau ini tidak sepenuhnya memiliki “sifat samudera” namun merupakan pulau komposit di pusat zona tabrakan Asia-Australia.

Sementara pendapat ahli geologi lainnya juga mengatakan hal yang sama yaitu bahwa wilayah Pulau Sulawesi sebelumnya memang menyatu. Namun akibat tabrakan lempeng benua kemudian terpisah. 

Di sebelah Barat, sekitar Selat Makassar memisahkan Sulawesi Barat dari Sundaland pada zaman Eosen, sekitar 45 juta tahun yang lalu. 

Di sebelah timur, dahulu terjadi tumbukan yang melibatkan beberapa fragmen mikro-benua yang terpisah dari Pulau Nugini dengan batas volkanik aktif di Sulawesi Barat pada waktu yang berbeda sejak Zaman Miosen Awal, sekitar 20 juta tahun yang lalu.

Baru-baru ini muncul hipotesis bahwa fragmen tambahan tersebut merupakan hasil dari tabrakan tunggal yang terjadi pada Zaman Miosen antara Sulawesi Barat dengan Titik Sula, yang merupakan ujung Barat dari sabuk lipat kuno asal Variskan pada zaman Palaeozoikum.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?