• News

  • Singkap Sejarah

Saking Pedihnya, Orang Batak Itu Menjerit Memanggil ‘Butet’

Lelaki Batak sedang memegang senjata untuk melawan pasukan Belanda
tropenmuseum
Lelaki Batak sedang memegang senjata untuk melawan pasukan Belanda

MEDAN, NNC - Siapa yang tidak tahu ciri khas masyarakat suku Batak? Semua orang Indonesia pasti mudah mengenali dan mengakui bahwa mayoritas orang Batak adalah jago dalam menyanyi.

Bermain musik dan menyanyi adalah budaya yang telah mendarah daging dalam masyarakat Batak. Dengan budaya itu, mereka memiliki daya tarik yang belum tentu dimiliki suku lain.

Dari sekian banyak lagu daerah Batak, salah satu lagu yang populer di Indonesia adalah lagu berjudul “Butet”. Dan mungkin banyak orang belum menyadari bahwa lagu ini bukan sekedar lagu daerah suku Batak, tetapi sebenarnya tergolong sebagai lagu perjuangan.

Oleh sebab itu, lagu ini otomatis sangat bersejarah. Lagu ini adalah jejak “suara zaman” agar selalu dikenang oleh generasi penerus.

Walaupun tidak tertulis angka tahun dan siapa pengarangnya, namun lagu “Butet” adalah hasil rekaman orisinil tentang sejarah masa silam. Pertanyaannya, sejarah seperti apa yang ingin disampaikan dalam lagu “Butet”?

Walau hingga kini tidak diketahui siapa pengarang dan kapan persisnya lagu ini dibuat, tetapi  diyakini bahwa lagu ini lahir pada masa perjuangan masyarakat Batak dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Lagu “Butet” mengisahkan tentang nasib rakyat Indonesia, tepatnya warga  di wilayah Residen Tapanuli, Sumatera Utara. Mereka berjuang mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia, yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta.

Dilihat dari asal usul katanya, “Butet” adalah nama panggilan anak perempuan dalam masyarakat suku Batak.

Dengan kata lain, lagu ini adalah adalah suara jeritan hati orang tua di zaman kemerdekaan, yang begitu mengasihi anak perempuannya. Lagu ini adalah suara kepedihan akibat perang. Dan saking pedihnya, orang tua menjerit dalam hati memanggil putrinya.

Konon, di masa itu, ada sebuah keluarga di Tanah Batak sedang ikut berperang melawan pasukan Belanda. Sementara Sang ayah memanggul senjata di medan laga, Sang Ibu terpaksa harus mengungsi.

Suami-istri itu harus terpisah karena perang. Dan Sang Istri setiap hari setia menunggu dan berharap suaminya bisa selamat dan kembali berkumpul bersama lagi.

Dalam penantian itu, Sang Ibu membuat syair lagu dan menyanyikannya untuk putri tercintanya (Butet). Ia berharap agar putrinya mendoakan dan tidak melupakan ayahnya yang melaksanakan tugas suci dalam pertempuran.

Di sisi lain, Sang Ayah yang sedang bertempur juga merasakan hal yang sama. Setiap detik ia merindukan istri dan anak perempuan tercinta yang berada jauh di daerah pengungsian.

Rindu Sang ayah yang menggebu-gebu tak bisa disalurkan secara langsung karena belum bisa meninggalkan medan laga. Ia berdoa dan berharap agar istri dan putrinya setia menunggu kepulangannya.

Sang Ayah berjanji akan segera kembali begitu perang berakhir. Sang Ayah berjanji akan pulang dengan membawa kemenangan.

Kisah tentang isi hati Sang Ayah dan Sang Ibu itu kemudian menjadi tradisi lisan yang dituangkan dalam lagu. Kisah ini kemudian beredar dari mulut ke mulut dan diteruskan dari generasi ke generasi.

Sementara itu, menurut cerita lisan warga Desa Nagatimbul di wilayah Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara, lagu “Butet” pada mulanya dinyanyikan oleh br. Tobing. Beliau adalah salah satu warga Desa Sitahuis.

Setiap malam, br. Tobing menyanyikan lagu  ini sebagai pengantar tidur boru atau putrinya tercinta (Butet). Sang Ibu juga melakukan hal yang sama.

Konon, lagu itu dinyanyikan di dalam sebuah gua yang terdapat di hutan Nagatimbul. Gua itu merupakan tempat persembunyian atau pengungsian warga Sitahuis dari kekacauan perang.

Bila Si Butet tertidur, maka ayahnya akan bertugas menjaga keamanan warga yang mengungsi. Sementara di siang hari, sebagian kaum pria berusaha mencetak uang ORITA (Oeang Republik Tapanuli).

Sitahuis, pada masa itu menjadi tempat percetakan uang ORITA.  Namun sayang sekali, ketika Belanda berhasil mendesak para pejuang prokemerdekaan RI, wilayah Sitahuis berhasil direbut dan diduduki pasukan Belanda.

Pasukan Belanda kemudian membangun markas di Desa Sitiris, yang masih berada dalam satu daerah dengan Sitahuis. Alat-alat percetakan Orita dibakar sibontar mata (sebutan bagi pasukan Belanda).

Namun masih ada beberapa alat percetakan Orita berhasil diselamatkan. Dengan alat yang tersisa itu, para lelaki Sitahuis berusaha mencetak Orita sebagai alat perdagangan di wilayah yang masih diduduki pejuang prokemerdekaan RI.

Namun sayang sekali, kekacauan perang menyebabkan masyarakat lupa untuk merawat dan menjaga alat-alat percetakan tersebut. Padahal, alat-alat itu adalah bukti dan saksi sejarah masa-masa perang kemerdekaan.

“Sangat disayangkan mesin cetak itu sampai saat ini tidak diketahui dimana keberadannya. Apakah berhasil dibawa Belanda atau tidak,” kata Kepala Desa Nagatimbul R Pasaribu beberapa waktu lalu kepada media.

Namun, walaupun alat percetakan itu tidak ditemukan, masih ada bukti lain yang kini masih diingat oleh warga. Peninggalan bersejarah itu berupa rumah milik Andreas Aritonang.

“Memang benar inilah rumah yang menjadi bukti sejarah tempat dicetaknya Orita. Rumah ini sudah mengalami pemugaran. Dan di ruang tengah di rumah itu, uang tersebut dicetak,”  kata seorang warga Sitahuis menggarisbawahi.

Dan bagi yang belum mengenal syair lagu “Butet”, inilah syair lagu tersebut.

Butet dipangungsian do amangmu ale butet
Da margurilla da mardarurat ale butet
Da margurilla da mardarurat ale butet

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Butet sotung ngol-ngolan ro hamuna ale butet

Pai ma tona manang surat ale butet
Pai ma tona manang surat ale butet

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Butet tibo do mulak au apangmu ale butet
Masunta ingkon saut do talu ale butet
Masunta ingkon saut do talu ale butet

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Butet haru patibu ma magodang ale butet
Asa adong da palang merah ale butet
Da palang merah ni negara ale butet

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?