• News

  • Singkap Sejarah

Pengawet Mumi Firaun, Ternyata Nasibnya Tak Seawet Khasiatnya

Mumi Mesir kuno
wikimedia commons
Mumi Mesir kuno

MEDAN, NNC - Jauh sebelum bangsa Eropa menguasai Nusantara, orang Mesir kuno diduga sudah mengonsumsi salah satu jenis rempah yang dihasilkan dari daerah Sumatera Utara, tepatnya di Barus, Tapanuli Tengah.

Rempah yang dimaksud adalah kamper atau kapur barus yang berbentuk kristal putih, berasal dari cairan yang dikeringkan sebagai hasil ekstraksi pohon kamper (Cinnamomum camphora). Oleh orang Sumatera, kapur barus sering disebut juga dengan sebutan haburuan atau kaberun.

Namun, Anda jangan buru-buru menyebut kamper yang Anda miliki sekarang sama dengan kamper yang dihasilkan dari wilayah Barus. Sebab, kini kampur atau kapur barus yang beredar di masyarakat lebih banyak berasal dari bahan tiruan atau sintetis (bahan kimia).

Kapur barus dari pohon kamper terkenal jauh lebih harum sehingga kualitasnya terkenal lebih baik dibanding dari bahan sintetis. Oleh sebab itu, kamper dari Barus bernilai lebih mahal.

Sejak sebelum Masehi, kapur barus sudah digunakan oleh orang Mesir sebagai pengawet mumi para raja Mesir atau Firaun. Di masa selanjutnya, kapur barus juga bermanfaat sebagai pengharum ruangan, pengharum baju, pengusir serangga, dan pengawet non makanan.

Dalam catatan-catatan Hindu kuno seperti kitab Ramayana dan Mahabarata, nama kapur barus dikenal sebagai obat. Dalam dosis tertentu, air kapur barus dipercaya  bisa menyembuhkan gangguan asam lambung dan sebagai minuman penghangat badan.

Bangsa asing membeli kapur barus melalui Pelabuhan Barus yang berada di pantai Barat, Sumatera Utara. Kala itu, Pelabuhan Barus  sudah termasyhur sebagai bandar dagang, penyedia kapur barus yang diminati pasar dunia.

Berdasar catatan-catatan kuno di Barus, sekitar abad ke-2 Masehi, menyebutkan bahwa jauh sebelum bangsa Eropa tiba di Nusantara, para pedagang  China, India, dan Arab telah menjalin hubungan dagang dengan Barus.

Karena hubungan dagang itulah, kapur barus bisa tersebar dan dikonsumsi oleh orang-orang India, Cina, dan Arab.

Salah satu bukti bahwa Barus pernah menjadi pusat perdagangan adalah keberadaan situs pemakaman Papan Tinggi dan Mahligai. Di makam tersebut terdapat tulisan Arab Kuno atau Persia yang diperkirakan ditulis pada abad ke-8 Masehi.

Di Barus, dahulu kala juga diyakini pernah berdiri kerajaan kuno bernama Lobu Tua. Bisa jadi, kerajaan ini sudah ada sejak 3000 Sebelum Masehi. Perkiraan ini berasal dari temuan kandungan kapur barus pada mumi-mumi dari zaman Mesir kuno.

Kerajaan Lobu Tua diperkirakan kemudian kalah bersaing dengan Kerajaan Aceh pada abad ke-16. Dan kejayaan Lobu Tua semakin sirna ketika  VOC berhasil menguasai perdagangan antar pulau di Nusantara.

Di wilayah Barus, Tapanuli, sejak dahulu kala, berlimpah pohon kamper. Masyarakat Barus kemudian secara rutin mengambil getah pohon tersebut.

Namun, karena faktor keserakahan, banyak pohon kamper yang ditebang untuk mendapatkan kristal kapur yang ada di dalamnya. Penebangan itu tidak diiringi upaya regenerasi. Selain itu, kebakaran hutan dan pembukaan lahan perkebunan juga ikut  mempercepat menuju ancaman kepunahan.

Dan untuk mengembalikan sejarah dan asal-usul kapur barus, dalam hal ini mempertahankan keberadaan pohon kamper, diperlukan upaya serius secara sistematis dan terpadu dengan membangun dan melindungi wilayah konservasi pohon kamper.

Bila tidak, kemasyuaran kapur barus  kelak hanya tinggal kenangan.  Keprihatinan ini telah ditangkap oleh Dinas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pemerintah Pusat bersama pemerintah daerah Tapanuli Utara, saat ini tengah memperjuangkan agar kapur barus menjadi salah satu objek pemajuan kebudayaan di Indonesia.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?