• News

  • Singkap Sejarah

Nasib Perempuan Selingkuhan Keluarga Raja Jawa, Sungguh Tragis

Makam Amangkurat I di Tegalwangi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Wikimedia Commons
Makam Amangkurat I di Tegalwangi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

YOGYAKARTA, NETRALNEWS - Kekuasaan Sultan Agung Hanyakrakusuma, Raja Mataram berlangsung tahun 1613-1645 Masehi. Sebelum wafat, ia mewariskan tahtanya kepada putra mahkota yang bernama Raden Mas Sayidin atau dikenal dengan gelar Amangkurat I.

Saat naik tahta, usia Amangkurat I diperkirakan berumur sekitar 26 tahun. Penerus Sultan Agung ini terkenal dengan berbagai kasus kontroversial mulai dari zinah, merebut istri orang, dan berebut perempuan dengan anaknya.

Dalam tulisan Rijklof van Goens seperti dikutip oleh HJ De Graaf dalam buku Puncak Kekuasaan Mataram, Politik Ekspansi Sultan Agung (2002: 295-303), sejak kecil Raden Mas Sayidin dikenal oleh orang Belanda sebagai putra mahkota yang “beringas dan kuat”.

Gambaran tentang sifat tersebut rupanya cukup mewakili bagaimana perilakunya sejak kecil hingga memerintah rakyat Jawa (Mataram).  Di usia sekitar 14 tahun, ia sudah mulai mencoba-coba melakukan petualangan cinta.

Dengan lugunya, petualangannya itu diceritakan ke teman-temannya dan orang Belanda. Dan memang di masa itu, seorang anak raja atau anak bangsawan berlaku nakal dengan menggoda (mencicipi) perempuan di sekitar istana adalah hal biasa.

Namun, pada 1637 ketika Raden Mas Sayidin  masih berusia sekitar 18 tahun, petualangan cintannya membikin gempar kerajaan karena telah menggoda, merebut, dan membawa lari istri Tumenggung Wiraguna, seorang pejabat kerajaan.

Raden Mas Sayidin tak kuasa membendung hasrat dan gairahnya saat melihat salah satu istri Tumenggung Wiraguna ternyata begitu cantik jelita.

Tumenggung Wiraguna tentu saja marah dan merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia juga tak menyangka istrinya yang jelita itu mau digoda oleh lelaki lain. Apakah istrinya adalah seorang wanita gatal sehingga tidak mau menolak rayuan pemuda kencur itu?

Atau istrinya sebenarnya setia, tetapi tak mampu menolak rayuan lelaki yang jelas diketahui sebagai putra mahkota, calon penguasa Mataram? Bagaimana mau menolak karena lelaki itu kelak akan menjadi raja?

Berbagai pertanyaan itu tentu saja memusingkan kepala dan sangat menyakitkan hati Tumenggung Wiraguna. Ia tidak bisa terima hanya dengan duduk tenang dan legawa menerima nasib.

Sementara itu, Raden Mas Sayidin mengira bahwa sebagai putra mahkota, kelakuannya pasti tidak akan dilaporkan kepada Sultan Agung, ayahandanya.

Anggapannya meleset. Di suatu waktu yang telah dipersiapkan, Tumenggung Wiraguna bersama kakak Sang Putra Mahkota, menghadap Sultan Agung untuk mengadukan perkara zina atau kasus perselingkuhan istrinya itu.  

Tumenggung Wiraguna sengaja mengajak serta kakak Sang Putra Mahkota dengan harapan agar Sultan Agung berubah pikiran dan mau mengganti gelar putra mahkota dari Raden Mas Sayidin kepada kakaknya. Dengan cara itu, Tumenggung Wiraguna akan diuntungkan.

Mendengar laporan bawahannya itu, Sultan Agung sangat terkejut sambil menahan marah. Saking kecewanya, ia mengurung diri selama sekitar 40 hari dengan melewatkan berbagai acara. Ia tidak tampil di masjid dan tidak menjalankan tugas di hari peradilan.

Situasi itu tentu saja membuat kehebohan seluruh penghuni keraton. Semua was-was seperti yang sudah-sudah. Ketika amarah Sultan Agung meledak, maka bisa menimbulkan pertumpahan darah.

Kekhawatiran itu tidak berlebihan. Pada hari ke-40, saat tiba acara pengadilan atas kasus tersebut,  Sultan Agung memang marah besar. Di hadapan para pengadu, Sultan Agung memberi peringatan keras bahwa yang mereka laporkan adalah putra mahkota yang akan naik tahta menggantikannya.

Menurut Sultan Agung, seorang pangeran muda melakukan perselingkuhan dan penyelewengan adalah hal biasa. Walaupun begitu, Sultan Agung tetap memberi hukuman kepada putranya.

Putra Mahkota diminta menentukan hukumannya sendiri. Di hadapan ayahandanya,  Raden Mas Sayidin menyatakan tidak akan bertemu muka lagi dengan ayahandanya untuk selama-lamanya.

Raden Mas Sayidin kemudian pergi meninggalkan keraton untuk mendalami ilmu agama. Ia juga memutuskan untuk mengembalikan perempuan cantik jelita yang ia bawa lari kepada suaminya yaitu Tumenggung Wiraguna.

Dengan tandu yang ditutup kain putih (warna duka) dan dikawal beberapa prajurit, perempuan jelita itu ingin dihantar ke rumah Tumenggung Wiraguna. Namun, begitu pengadilan selesai dan Tumenggung Wiraguna melihat istrinya yang jelita itu, mendadak ia menjadi kalap.

Ia menarik kerisnya dan menikam istrinya berulangkali. Setelah sekitar lima kali tusukan, perempuan itu roboh bersimbah darah dan mati seketika itu juga.

Tak hanya itu saja. Kesalnya belum terpuaskan. Tumenggung Wiraguna kemudian mengangkat mayat perempuan itu dan melemparkannya ke tanah lapang, kemudian meninggalkannya.

Raden Mas Sayidin sangat sedih mendengar nasib yang menimpa perempuan yang telah menyeleweng dengannya itu. Secara diam-diam, ia memerintahkan beberapa pengikutnya untuk mengubur perempuan itu dengan semestinya.

Atas kejadian itu, Raden Mas Sayidin merasa sangat sedih. Saking terpukulnya, konon ia tidak mau bergaul dengan perempuan dan mengurung selir-selirnya selama tiga tahun yaitu tahun 1637-1640. Penyesalannya juga ia tunjukkan dengan mencukur rambutnya.

Ketika Sultan Agung mendengar perubahan sikap putra mahkotanya itu, hatinya kembali tenang. Selang tiga tahun kemudian, ia memanggil kembali Raden Mas Sayidin, putra mahkotanya.

Dan buntut dari perselingkuhan itu belumlah berakhir. Setelah Sultan Agung mangkat dan Raden Mas Sayidin naik tahta dengan bergelar Amangkurat I, Ia mewujudkan balas dendamnya kepada Tumenggung Wiraguna.

Amangkurat I memerintahkan Tumenggung Wiraguna untuk menumpas ekspansi pasukan Bali di Blambangan. Konon, saat ia jauh dari istana dan jauh dari pendukungnya itulah, Amangkurat I memerintahkan orang kepercayaannya, yaitu Kiai Ngabehi Wirapatra, untuk mengeksekusi pembunuhan.

Skandal cinta yang menimbulkan pertumpahan darah itu ternyata tidak membuat Amangkurat I menjadi jera. Skandal petualangan cinta kembali terulang.

Saat ia telah menjadi raja, Ia pernah berusaha merebut seorang perempuan cantik dari tangan suaminya. Perempuan cantik itu adalah anak seorang  dalang wayang, dan dikenal dengan nama Ratu Malang.

Untuk merebut perempuan itu, Amangkurat I memerintahkan punggawanya membunuh suaminya. Namun ternyata, Sang Ratu sangat setia dan mencintai suaminya. Sepeninggal suaminya, ia pun mengalami sakit payah dan ikut meninggal, menyusul suaminya.

Mendengar berita kematian Ratu Malang, Amangkurat I marah dan menuduh para selir kerajaan sengaja mengutus dayang-dayang meracuni Ratu Malang karena cemburu kepadanya. Maka, Amangkurat I mengukum mati 43 orang selir dan dayang, dengan cara mengasingkan mereka tanpa diberi makan.

Itulah dua skandal yang dilakukan Amangkurat I. Masih ada satu skandal lagi sebenarnya, yaitu ketika perempuan simpanannya ternyata diambil istri oleh putra mahkotanya sendiri (Amangkurat II). Namun, akan lebih baik jika kisah ini diulas secara terpisah.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?