• News

  • Singkap Sejarah

Etnis Tionghoa Tempo Dulu, Banyak yang Tertarik Masuk Islam

Pria-pria Peranakan, pegawai pabrik Timah di Pulau Singkep, Riau
tropenmuseum
Pria-pria Peranakan, pegawai pabrik Timah di Pulau Singkep, Riau

JAKARTA, NETRALNEWS - Hingga abad ke-19, perkawinan etnis Tionghoa dengan perempuan pribumi di Nusantara merupakan hal biasa. Mengapa? Sebab pada masa itu, gadis murni Tionghoa (totok) maupun Tionghoa Peranakan belum banyak.

Selain itu, orang Tionghoa yang merantau ke Nusantara, juga melebur dan tak segan meninggalkan identitas atau budaya di Tiongkok agar bisa diterima oleh masyarakat di Nusantara.

Dalam buku Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa (2005: 6-10), Ong Hok Ham menyebutkan bahwa para lelaki pendatang dari Tiongkok juga tak segan untuk menjadi muslim atau menganut ajaran agama Islam.

Bahkan di Batavia, pernah ada suatu masa di mana banyak sekali orang Tionghoa beragama Islam. Lebih-lebih sesudah terjadi peristiwa yang disebut oleh pemerintah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sebagai pemberontakan orang Tionghoa pada 1740.

Dalam peristiwa itu, pemerintah VOC  menyatakan bahwa komunitas Tionghoa harus bertanggung jawab. Akibatnya, tak kurang dari 10.000 orang Tionghoa dibantai tentara Kompeni.

Sejak peristiwa berdarah itu, kehidupan orang-orang Tionghoa sangat dikontrol dan diawasi oleh pemerintah. Bila sebelumnya orang Tionghoa mendapat perlakuan khusus karena menguntungkan pihak VOC (perantara dagang dengan bumiputra), kini hidup mereka jauh lebih terkekang.

Orang-orang Tionghoa yang selamat dari pembantaian sangat menyadari bahwa mereka harus tetap survive menghadapi kerasnya hidup di perantauan. Pilihan logis yang diambil adalah dengan berbaur secara total dengan pribumi setempat.

Pembauran itu dilakukan mulai dengan menikahi gadis setempat, melebur dalam budaya setempat, hingga memeluk sistem kepercayaan atau agama masyarakat setempat.

Sekitar tahun 1766, jumlah etnis Tionghoa yang beragama Islam sedemikian banyaknya. Akibatnya, sejak tahun itu pemerintah VOC memberlakukan sistem baru untuk mengontrol dan mengendalikan penduduk Tionghoa.

Bila sebelumnya mereka di bawah pengawasan pemimpin bumiputra, mulai tahun itu berubah di bawah pengawasan atau kekuasaan orang Tionghoa muslim sendiri atau biasa disebut dengan sebutan kapitein.

Dalam catatan De Haan, Oud Batavia, halaman 511, seperti dikutip Ong, nama Kapitein Tionghoa muslim terakhir adalah  Kapitein Muhammad Japar yang meninggal pada 1827.

Selain dengan menganut agama Islam, model peleburan dengan masyarakat bumiputra adalah dengan mengganti nama Tionghoa menjadi seperti orang bumiputra.

Anehnya, orang Tionghoa yang menganut Islam dan mengganti namanya sering dibedakan dengan Tionghoa totok dan disebut dengan istilah “peranakan”. Sebutan itu dipakai hingga kini untuk menunjuk komunitas keturunan Tionghoa yang lahir di Nusantara.

Senada dengan Ong, Lance Castles dalam buku Profil Etnik Jakarta (2007: 17) juga mencatat: “Orang-orang Tionghoa peranakan lebih banyak memiliki kemiripan dengan penduduk asli Indonesia daripada orang Tionghoa pendatang.”

Dengan menjadi muslim, orang Tionghoa itu dibebaskan dari pajak kepala. “Mereka dibebaskan dari pajak kepala yang biasa dikenakan terhadap orang Tionghoa,” tulis Castles.

Bahkan, masih menurut Castles, sejak tahun 1766 kelompok ini memiliki pemimpin dan biasa dipanggil sebagai “Kapitein Tionghoa yang menggunakan nama-nama Islam”.

Mereka tinggal berpencar dan berbaur di kampung-kampung. Selain karena pengaruh Spanyol, Arab, Banda, atau Bali, orang Tionghoa yang berbaur di Batavia ini kemudian memengaruhi lahirnya komunitas baru yang disebut etnis Betawi.

Orang Belanda menyebut orang Tionghoa muslim itu dengan istilah Geshoren Chinees yang artinya “orang Tionghoa yang dicukur”. Memang, pada masa itu, Tionghoa yang masuk Islam ditandai dengan mencukur kuncirnya.

Dan di masa itu, orang Tionghoa yang masuk Islam jauh lebih banyak dibanding menganut agama Nasrani.

Dalam catatan Millies HG, berjudul De Chineezen in Nederlandsch Oost Indie en het Christendom, seperti dikutip Ong,  pada abad ke-17, hanya ada enam orang Tionghoa yang memeluk agama Kristen. Lima di antaranya adalah wanita.

Sementara menurut catatan Ong Taij Haij, seorang Tionghoa yang merantau abad ke-18, “Kalau orang Tionghoa telah tinggal beberapa keturunan di negara asing tanpa pernah kembali ke Tiongkok, maka dengan mudah sekali mereka melepaskan diri dari ajaran dan tatacara Tiongkok.”

Dalam hal makanan, pakaian, dan budaya, mereka akan menyesuaikan dan tidak keberatan untuk mengikuti penduduk asli. Dalam hal ini, mereka tidak keberatan untuk menjadi seperti orang Jawa dan menamakan dirinya “orang Islam”.

Selain sebagai strategi agar tetap survive di tanah perantauan, dengan cara itu, orang Tionghoa juga berkesempatan untuk bisa melebur dan diterima golongan elite atau bangsawan bumiputra yang merupakan klas tertinggi dalam sistem pelapisan masyarakat Jawa.

Sama halnya bagaimana etnis Tionghoa mampu melebur dalam kalangan intelektual sehingga bisa memasuki patroon masyarakat baik melalui perkawinan maupun dengan menjual jasa-jasa tertentu. Dengan jasa-jasa dan perkawinan itu, mereka akan bisa diangkat dalam golongan ningrat.

Salah satu contoh Kapitein Tionghoa beragama Islam yang dimaksud adalah Tan Djien Sing. Ia sebelumnya menjadi Kapiten Tionghoa di Kedu (1793-1803) dan di Yogyakarta (1803-1813).

Atas jasanya dalam membantu Inggris melengserkan Sultan Hamengkubuwana II dan mengangkat Sultan Hamengkubuwana III (ayah Pangeran Diponegoro) sebagai penggantinya, Tan Djien Sing kemudian diangkat sebagai bupati nayoko pada tanggal 18 September 1813.

Penganugerahan tanda jasa itu diberikan langsung oleh Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles.  Tan Djien Sing kemudian mendapat gelar Raden Toemenggoeng Setjodiningrat. Dengan jabatan ini, otomatis ia menjadi bangsawan keraton.

Sedangkan contoh orang Tionghoa yang melebur melalui perkawinan adalah orang-orang Tionghoa yang menikahkan anaknya dengan regent-regent atau para bupati Jawa. Jumlahnya sangat banyak.

Contoh lainnya adalah Han Hien Siong, lelaki Tionghoa yang menikahi anak perempuan Bupati Bojonegoro karena berhasil menyembuhkan penyakit Sang Bupati. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai lima orang anak.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?