• News

  • Singkap Sejarah

Hasrat Tak Sampai, Murka Susuhunan Mengerikan: Ganyang Rakyat Sumedang!

Para bangsawan penerus Kerajaan Sumedang (abad ke-19) yang sebelumnya pernah ditundukkan Sultan Agung
KITLV
Para bangsawan penerus Kerajaan Sumedang (abad ke-19) yang sebelumnya pernah ditundukkan Sultan Agung

BANDUNG, NETRALNEWS.COM - Hari cerah, tiba-tiba menjadi kelabu. Di hadapan ribuan rakyatnya, Raja Tanah Jawa itu menampakkan dirinya dengan muka merah padam. Seluruh penduduk menyembah ketakutan dan tak ada satupun berani menatap wajah raja mereka.

Dalam murkanya, Raja itu bertitah kepada sejumlah Tumenggung Kerajaan Mataram, katanya: “Gempur bumi Tatar Sunda! Hukum sekeras-kerasnya Dipati Ukur dan seluruh rakyat Priangan di Sumedang! Bila tidak mau menyerah, bunuh semuanya!”  

Kira-kira demikianlah gambaran bagaimana perintah hukuman bagi rakyat Priangan di Sumedang dijatuhkan oleh Raden Mas Rangsang yang telah menjadi raja Mataram, dengan gelar Susuhunan Agung Hanyakrakusuma atau Sunan Agung Hanyakrakusuma.

Pertanyaannya, mengapa ia murka kepada rakyat Sumedang? Mengapa ia tega memerintahkan pembantaian?

Susuhunan Agung Hanyakrakusuma yang sejak 1640 bergelar Sultan Agung, ternyata memang tak segan-segan menghukum mati secara massal kepada semua pihak yang dianggap lawan dan harus ditaklukkan.  

Watak dan perilakunya ini sudah terlihat sejak ia memerintahkan pasukannya untuk menaklukkan daerah di Jawa Timur seperti Wirasaba, Lasem, Pasuruan, Pajang, Tuban (tahun 1613-1619), serta penaklukan Surabaya dan Madura (tahun 1620-1625).

Ekspansi penaklukkan itu selalu diwarnai dengan tindakan memusnahkan penduduk dengan merampas perempuan, anak-anak, merampok, dan membakar rumah-rumah penduduk.

Dan kali ini, agak berbeda dengan pembantaian yang pernah terjadi di Jawa Timur. Susuhunan mengeluarkan perintah menghukum rakyat Priangan atau warga Sunda di Sumedang (kini Jawa Barat) bukan sekedar soal penaklukkan tanah Sunda.

Ada faktor lain yaitu berupa kemasygulan atau kekecewaan.

Raja di tanah Jawa ini memiliki ambisi besar untuk membangun imperium dan menguasai seluruh wilayah Jawa. Ia telah berhasil menaklukkan para raja Jawa di bagian Timur. Kemudian ia bergerak ke Barat untuk menggempur Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Batavia.

Dengan kekuatan penuh, Susuhunan memerintahkan pengepungan. Dan sepanjang tahun 1628 dan 1629, terjadilah gelombang pertempuran antara pasukan Mataram melawan tentara kompeni.

Namun pil pahit harus ditelan oleh Susuhunan. Penyerbuan ke Batavia berakhir dengan kegagalan. Karena berita ini, tentu saja membuat Susuhunan sangat cemas. Sebab, bila kegagalan tersiar luas, pasti kerajaan kecil taklukkannya, bisa membelot dan melepaskan diri.

Dan ternyata benar. Susuhunan mendapat laporan bahwa pasca kekalahan menaklukkan Batavia, para petinggi dan rakyat Priangan dikabarkan membelot dan melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Mereka menyesalkan penyerangan yang telah merenggut banyak korban.   

Seperi diungkapkan HJ De Graaf dalam Puncak Kekuasaan Mataram, Politik Ekspansi Sultan Agung (2002:234), saat pengepungan Batavia, sebenarnya rakyat Priangan turut bergabung mendukung pasukan Mataram.

Hanya saja, pada 21 Oktober 1628, perkemahan mereka diserbu pasukan Kompeni. Karena pengepungan gagal, mereka memilih melarikan diri dengan mengajak seluruh istri dan anak-anak mereka ke arah hingga Banten (J. Pzn Coen, Becheiden, jil VI, halaman 423).

Sementara dalam sumber lain, dapat ditafsirkan sedikit berbeda. Rakyat Priangan memilih melarikan diri karena mereka tahu, akibat gagal menaklukkan Batavia, pada akhirnya mereka akan dihukum mati oleh Susuhunan.

Dari pada hanya pasrah menerima nasib kepala anak dan istri mereka dipenggal, mereka memilih mengadu nasib dengan cara lain. Siapa tahu bisa menyelamatkan nyawa mereka. Namun ternyata, mereka tetap diburu pasukan Mataram.

Dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008), MC Ricklefs menulis bahwa VOC menemukan 744 mayat prajurit Jawa yang tidak dikuburkan, beberapa di antaranya tanpa kepala. Prajurit itu bukan mati dibunuh oleh kompeni tetapi mati karena dihukum Raja Mataram.

Berita kegagalan penaklukkan Batavia pada tahun 1628 dan 1629  tidak bisa diterima Raja Mataram sehingga ia mengutus algojonya untuk menghukum penggal Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja beserta prajuritnya.

Daripada dihukum pancung seperti Tumenggung Bahureksa karena tidak berhasil menaklukkan Batavia, Dipati Ukur memilih membelot. Sebagian berusaha melakukan perlawanan, sebagian lain menjadi petani di pedalaman, bahkan ada pula yang berusaha minta perlindungan ke Batavia.

Petilasan Dipati Ukur di Bandung, Jawa Barat

Dan pada 1630, tibalah hari penghukuman dari Susuhunan. Priangan dikepung dari laut dan darat. Raja Anom dari Cirebon diperintahkan Susuhunan untuk menghancurkan pemberontak.

Bila tidak bersedia, budak belian Raja Cirebon yang ada di Mataram akan dibantai (Daghregister, 19 Februari 1931). Maka, dengan 70 kapal, berangkatlah pasukan Cirebon bergerak menyusuri sungai Cimanuk untuk menggempur pasukan Dipati Ukur.

Dan pada 19 Juli 1932, diterima kabar di Banten bahwa, Susuhunan dengan 40.000 prajurit telah berhasil mengalahkan dan menaklukkan sesama pribumi ini. Pasukan Mataram kemudian “mengusir penduduk, sedangkan orang kaya terkemuka semuanya dibunuh” (Daghregister, 19 Juli 1632).

Dan induk pasukan Dipati Ukur akhirnya menyerah dan berhasil ditangkap. Menurut De Haan, Dipati Ukur diduga ditangkap bersamaan dengan pasukan yang membawa delapan umbul-umbulnya pada tahun 1635. Semua yang ditangkap itu lalu dihukum mati (Haan, Priangan, jil. II bab 89).

Bumi Priangan baru bersih dari pasukan Mataram sekitar tahun 1636. Sejak itu, daerah pedalaman Tatar Sunda (Jawa Barat) kembali tenang dan terhindar dari pertumpahan darah. Namun, di kota Mataram, pertumpahan darah masih berlanjut.

Susuhunan belum puas walaupun sudah menghancurkan pemberontak di Tatar Sunda. Sebanyak 1.260 lelaki tawanan dibawa ke Mataram, setibanya di Mataram, “semua laki-laki tersebut dideretkan dan kepala mereka dipenggal,” tulis Jonge seperti dikutip HJ De Graaf (2002: 236).

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?