• News

  • Singkap Sejarah

Tionghoa Tempo Dulu: Pelit, Menjamu Tamu dengan Perempuan, dan Boros Saat Mati?

Iring-iringan kereta jenazah keluarga Tionghoa tempo dulu
Foto: Arsip Nasional
Iring-iringan kereta jenazah keluarga Tionghoa tempo dulu

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Hingga abad ke-19, ada kecenderungan umum yang berlaku dalam kehidupan orang Tionghoa perantauan di Nusantara. Mereka semuanya terkenal memiliki sifat yang sangat hemat, bahkan terkesan sangat takut untuk mengeluarkan uang.

Karena kecenderungan itu, banyak orang mengeneralisasikan seolah semua orang Tionghoa itu pelit. Lahirlah stereotip bahwa watak orang Tionghoa adalah pelit. Stereotip tidak benar ini mungkin belum hilang hingga kini.

Namun anehnya, bila mencermati sejarah Tionghoa Peranakan di Nusantara khususnya Jawa, memasuki abad ke-19 dan seterusnya, ada kecenderungan baru yang bersifat lebih longgar. Sikap hemat tidak semata-mata menjadi pedoman mutlak untuk semua bidang kehidupan.

Kebiasaan baru yang bersifat boros itu antara lain berupa pemborosan karena kebiasaan pesta dan kebiasaan pemakaman orang Tionghoa kaya yang meninggal.

Pertanyaannya, mengapa dan bagaimana perubahan itu bisa terjadi? Untuk apa pemborosan dilakukan? Apakah tradisi hemat sudah tidak relevan lagi?

Dalam kajian sejarawan Ong Hok Ham berjudul Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa (2005: 53-56), disebutkan bahwa sifat hemat orang Tionghoa terbentuk melalui proses panjang sebagai akibat dari pilihan logis menjadi orang perantauan.

Mereka pergi meninggalkan Tiongkok dalam kondisi miskin, tak memiliki apa pun. Dan setelah hidup hemat bertahun-tahun, ia kemudian bisa menjadi orang kaya. Namun saat kaya, sifat-sifat selama hidup miskin masih kuat melekat dan menjadi karakternya.

Mereka juga sadar pengalaman, yang selalu membuktikan bahwa harta kekayaan ternyata bisa membuat status sosial sebagai orang perantauan menjadi meningkat dan disegani orang lain.

Sementara harta kekayaan hanya bisa diraih dengan kerja keras dengan menjadi pedagang dan melakukan penghematan dalam segala hal.

Sifat itu kemudian diturunkan dari generasi pendahulu kepada keturunannya. Tak jarang, pesan disampaikan sebagai surat wasiat sebelum ia meninggal dunia. 

Dalam testamen yang ditinggalkan seorang Majoor Tionghoa di Surabaya bernama The Goan Tjing (1795-1851), sebelum meninggal, ia menulis pesan kepada anak-anaknya.

Bunyi pesannya, “Dalam segala perkara, djangan pake ongkos lebi banjak dari apa yang paling perloe saja; keloewarkenlah sadja ongkos jang patoet, meski sedikit, itoe jang paling baek.”

Namun, memasuki abad ke-19, muncul kecenderungan baru dari anak-anak keturunan Tionghoa kaya. Generasi Tionghoa Peranakan kaya itu, sudah terbiasa dengan hidup mewah sehingga cenderung mengabaikan pesan orang tuanya.

Salah satu contohnya adalah kisah seorang anak Tionghoa kaya yang memiliki prabrik gula di Pasuruan, Jawa Timur. Pemilik pabrik gula itu selama hidupnya tidak mau terlalu sering naik mobil. Untuk perjalanan jauh, ia memilih menggunakan kereta api, tetapi tidak mau duduk di kelas satu.

Namun berbeda dengan anaknya yang kemudian menerima warisan super besar. Anaknya saat pergi ke Eropa, justru merasa kurang terhormat walau sudah duduk di kelas satu. Maka, saat naik kapal laut, ia meminta berada di but kapal lux yang lebih mewah dari kelas satu.

Perubahan lain terjadi pada cara pemakaman orang Tionghoa kaya. Saat Majoor The Goan Tjing wafat, ternyata penguburannya dilakukan dengan mewah. Acara penguburannya konon mencapai biaya sebesar f 10.000. Uang sebesar itu, di tahun 1851 jumlahnya sangatlah besar.

Pemakaman serba mewah juga terjadi saat Majoor Tan Tjin Kie dari Cirebon, Jawa Barat meninggal dunia. Ongkos penguburannya pada 1919 memakan biaya hingga f 100.000.

Kebiasaan baru ini ternyata membuat Pemerintah Kolonial Belanda tidak suka. Pemerintah memandang hal itu sebagai kemewahan yang tidak perlu dan hanya menjadi sebuah pameran kekayaan belaka.

Maka, dikeluarkanlah peraturan mengenai pajak penguburan bagi penguburan orang Tionghoa kaya yang sudah meninggal. Namun, pajak itu tidak berlaku jika yang meninggal adalah orang Tionghoa yang berekonomi biasa, misalnya keluarga opsir-opsir Tionghoa.

Dan memang, salah satu penyebab biaya penguburan menjadi besar karena bila orang Tionghoa kaya meninggal, biasanya dihadiri oleh pejabat pemerintah Belanda dan para bangsawan setempat. Tamu-tamu penting ini tentunya harus dijamu dengan sepantasnya.

Kebiasaan hidup boros orang Tionghoa yang terakhir adalah mengenai munculnya kebiasaan baru berupa pesta mewah yang diselenggarakan di kota-kota besar seperti di Batavia dan Surabaya.

Orang Tionghoa kaya yang menggelar pesta pasti selalu diiringi dua jenis musik yaitu gamelan dan musik Barat. Musik gamelan diperuntukkan bagi kaum bangsawan pribumi dan musik Barat ditujukan bagi orang Belanda.

Bahkan, untuk pesta-pesta yang tidak bersifat resmi, orang Tionghoa kaya tak segan untuk mengundang penari teledhek atau tandak-tandak dari Jawa. Dan di masa itu, tandak dianggap identik dengan tindakan tak bermoral (pelacuran terselubung).

Dan tentu saja, para penari yang menghibur para tamu selalu terdiri dari perempuan-perempuan yang cantik. Para penari itu biasanya akan mengajak para tamu untuk menari bersama.

Sementara para tamu biasanya didominasi oleh kaum laki-laki yang akan menjadi lebih berani berjoged setelah menenggak minuman keras dan memabukkan. Dan semakin banyak orang Belanda yang datang ke pesta, itu menjadi prestise tersendiri bagi tuan rumah.

Pada abad ke-19, seperti dicatat oleh Ong Hok Ham (2005: 57), pesta semacam itu seringkali berakhir dengan kekacauan. Banyak orang Belanda baik yang memang sengaja mau diundang maupun bukan undangan, ikut berdatangan karena menyukai pesta keluarga Tionghoa kaya.

Dan saat orang Belanda itu mabuk, perilakunya bisa tak terkendali. Hanya karena persoalan sepele, mereka mudah berkelahi karena dipengaruhi oleh minuman keras.

Salah satu contoh orang Tionghoa kaya yang mengadakan pesta adalah Majoor The Boen Khe (1820-1899) di Surabaya, Jawa Timur. Tempat pesta yang ia selenggarakan dibuat mewah lengkap dengan hiasan lampu-lampu teng (lampion Tionghoa) yang berwarna-warni.     

Pesta yang diselenggarakan sekitar tahun 1873 itu, ramai didatangi tamu mulai dari kaum priyayi atau bangsawan Surabaya, hingga para pembesar pemerintah Belanda. Para tamu Belanda dipersilakan berdansa dengan diiringi orkes Barat.   

Saat dansa tersebut, anak-anak perempuan Majoor The Boen Khe ternyata juga diperkenankan ikut berdansa dengan para tamu Belanda. Dan memang disadari akibatnya.

Kalaupun pertemuan antara gadis Tionghoa dengan pejabat Belanda itu “berlanjut”, hal itu bukanlah suatu yang perlu ditakuti. Bisa jadi justru dianggap sebagai keberuntungan.

Dalam perkembangannya, model pesta tersebut juga ditiru oleh orang Tionghoa Peranakan lainnya. Dalam hal ini ada proses “pembaratan” budaya Tionghoa Peranakan.

Hal ini bisa dilihat dari tradisi Tionghoa kuno yang melarang kaum istri dipegang tangannya oleh para tamu. Mereka menganggap istri mereka akan dirangkul oleh lelaki-lelaki iseng. Namun karena pesta dansa itu, tangan istri mereka bisa dipegang oleh para tamu laki-laki.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?