• News

  • Singkap Sejarah

Antara Bunga dan Anyir Darah, Kopassus Laksana ‘Mawar Berduri‘

Ilustrasi antara bunga mawar dan Kopassus
NNC-Taat Ujianto
Ilustrasi antara bunga mawar dan Kopassus

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketika penulis membuat judul catatan ini, teringatlah sosok Sipon, istri Wiji Thukul, di acara peringatan Tragedi Mei 1998 membacakan puisi karya suaminya tercinta dan selalu ia rindukan, “Di Antara Bunga dan Tembok”. Kala itu, Sipon berteriak lantang dengan disertai derai air mata.

Seumpama bunga, kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri. Jika kami bunga, engkau adalah tembok itu. Tapi di tubuh tembok itu, telah kami sebar biji-biji.

Suatu saat, kami akan tumbuh bersama. Dengan keyakinan: engkau harus hancur! Dalam keyakinan kami, di manapun tirani harus tumbang!

Demikianlah penggalan puisi karya Widji Thukul, pria kelahiran Surakarta, tahun 1963. Ia dikenal sebagai seorang sastrawan dan aktivis hak asasi manusia (HAM) yang sejak tahun 1998 hingga sekarang tidak diketahui rimbanya.

Ia hilang bersama beberapa aktivis lain di penghujung kekuasaan Orde Baru, pemerintahan tiran yang selama masa hidupnya, ingin ia tumbangkan.

Di penghujung kekuasaan Orde Baru itulah, tersiar kabar buruk tentang “bunga mawar yang berguguran”. Berbagai kasus penculikan yang terjadi di masa-masa akhir pemerintahan Soeharto, ternyata didalangi oleh sejumlah pasukan elite Indonesia dengan nama “Tim Mawar”.

“Mawar berduri” telah melukai rakyat sendiri. Merahnya mawar berubah menjadi darah berbau anyir. Betapa tidak? Semua anggota “Tim Mawar” adalah anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang selama era Orde Baru selalu digadang-gadang sebagai pasukan yang mengharumkan Indonesia.

Namun, bangsa besar harus sadar sejarah dan harus mampu berpikir adil. Sebab, adil harus dimulai dari pikiran. Demikian pula dalam memandang keberadaan Kopassus yang hari jadinya selalu diperingati setiap tanggal 16 April.

Harum Laksana Bunga Mawar

Tak ada tentara Indonesia yang tidak melirik kagum kepada kekuatan tempur yang dimiliki TNI yang satu ini. Setiap kali ia melintas, akan muncul imajinasi heroik disertai pujian terhadap keahlian tempur yang menyerupai pasukan siluman.

Sejak didirikan pada 16 April 1952, kiprah Kopassus ikut menyukseskan berbagai operasi penumpasan gangguan keamanan seperti perlawanan Republik Maluku Selatan (RMS). Juga berjasa dalam berbagai operasi militer untuk tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kiprah sukses pertama kali yang langsung mendunia adalah operasi membebaskan 57 sandera dalam drama pembajakan pesawat Garuda 206  tahun 1981 atau biasa disebut tragedi Woyla.

Kala itu, kelompok ekstremis Islam melakukan aksi “komando jihad”. Untuk menangani aksi terorisme itu, peran Kopassus sangat dihandalkan.

Kesuksesan berikutnya adalah peran Kopassus dalam operasi pembebasan sandera di Mapenduma. Di akhir tahun 1995, anggota Tim Ekspedisi Lorentz di belantara Papua tiba-tiba disergap oleh anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Sekitar 90 anggota Kopassus dikirim di bawah pimpinan Prabowo Subianto untuk membebaskan para sandera bersama anggota TNI dari kesatuan lain. Dan pembebasan sandera pun berhasil dilaksanakan.

Gaung keharumannya pun menyebar ke luar negeri. Kopassus sempat dilirik negeri jiran untuk berlatih bersama dengan tentara Myanmar, Brunei, dan Filipina.

Sementara itu, aksi kemanusiaan juga tidak dilalaikan. Kopassus ternyata tidak hanya terlibat dalam menangani kontak senjata dan operasi rahasia. Kopassus tak jarang ikut membantu menangani korban bencana alam, seperti banjir, gempa bumi, dan kebakaran hutan.

Dalam menjalankan operasi militer, pasukan Kopassus selalu bergerak dalam tim-tim kecil. Namun jangan salah, tim kecil itu memiliki kemampuan melakukan serangan cepat dan mematikan.

Setiap anggota Kopassus memang digembleng secara khusus untuk mampu melakukan tugas penyusupan, pengintaian, penyerbuan, menembak tepat sasaran, anti terorisme, dan berbagai jenis perang non konvensional lain. Dan kemampuan itu diakui oleh militer dunia.  

Kisah betapa besar peran dan pengorbanan Kopassus dapat kita tengok dari kisah salah satu anggotanya yang bernama Agus Hernoto yang ditulis Bob H Hernoto, MBA dalam buku Legenda Pasukan Komando (2017).

Demi tugas negara, Agus Hernoto harus kehilangan kedua kakinya di medan tempur.

”Timbul kekaguman pada jiwa heroik dan karakter keprajuritannya yang patut diteladani para prajurit muda TNI,” demikian pujian Letjen (purn) Kiki Syahnakri kepada Agus.

Agus Hernoto adalah seorang veteran Operasi Trikora yang cacat seumur hidup setelah kakinya diamputasi karena tertembak dalam kontak senjata dengan Belanda di Merauke, Irian Barat.

Karier ia rintis mulai dari prajurit Kopassus (saat itu RPKAD) berpangkat bintara. Saat Benny Moerdani bertanya siapa yang siap ikut dalam pembebasan Irian Barat, ia mengajukan diri.

Dalam Operasi Benteng Ketaton di Irian, pasukan terjun payung dikirim dengan sasaran sebelah Utara kota Fak-Fak. Terjadi kekacauan. Beberapa penerjun tersangkut di pepohonan dan selebihnya berhasil mendarat di tanah.

Begitu mendarat pasukan langsung terlibat kontak senjata dengan pasukan Belanda. Namun, kekuatan tidak seimbang. Banyak pasukan akhirnya menyusup ke dalam hutan. 

Dalam satu pertempuran itu, Agus Hernoto dan beberapa anggota lain tertembak. Ia sempat ditinggal oleh pasukan lain yang menyelamatkan diri. Beberapa hari kemudian ia ditemukan pasukan Marinir Belanda yang melakukan pembersihan daerah pertempuran. 

Ia masih hidup namun lukanya sudah membusuk, bahkan sudah muncul belatung. Ia dibawa pasukan Belanda dan dirawat setelah kedua kakinya diamputasi.

Meski kedua kakinya diganti kaki palsu, dia tetap mendapat kepercayaan Benny Moerdani dalam Operasi Seroja. Ia ikut terlibat membantu operasi pendudukan TNI ke Timor-Timur tahun 1975.

Agus Hernoto sering mengemudikan Jeep Willis terbuka seorang diri. Sebagai korban perang, ia memiliki kedekatan dengan para korban pertempuran yang dirawat di rumah sakit di Atambua.

Salah satu pasien yang ia besuk adalah seorang prajurit yang juga diamputasi kakinya. Ia terpanggil untuk selalu memberikan semangat dan membesarkan hati sang prajurit itu.

Titik-Titik Nila Merusak Susu Sebelanga

Mungkin begitulah kodrat kehidupan. Layaknya manusia, nobody’s perfect. Demikian halnya Kopassus yang terlahir dan berjuang tanpa dosa. Ketika rakyat Timor Leste menuntut referendum dan hasilnya adalah lepas dari NKRI, mulailah muncul “titik nila merusak susu sebelanga”.

Pasukan elit ini diseret-seret terlibat pelanggaran HAM berat. Konon, pada yahun 1975, lima wartawan Australia tewas ditembak prajurit Kopassus di kota Balibo, Timor Leste.

Peristiwa itu sering disebut juga sebagai peristiwa Balibo Five. Walau kasus itu berujung tidak jelas, namun kasus ini menodai reputasi yang diraihnya selama ini.

Di sisi lain, menjelang runtuhnya Orde Baru, Kopassus juga terseret-seret arus politik. Pasukan elit yang kala itu dipimpin oleh Prabowo Subianto dituding telah menculik belasan mahasiswa melalui operasi yang dijalankan oleh “Tim Mawar”.

Masih belum cukup mawar merah kehilangan harumnya. Ketika muncul pengungkapan fakta dari Serambi Mekah. Diperkirakan lebih dari 300 wanita dan anak di bawah umur telah menjadi korban perkosaan ketika DOM Aceh diberlakukan.

Selain itu, diperkirakan 12.000 orang telah tewas selama operasi militer TNI di Aceh antara tahun 1990-1998.  Dan Kopassus, yang selalu berada di garda terdepan dalam menghadapi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ikut dirugikan.

Sama halnya dengan di Papua. Ketika di Papua diberlakukan sebagai daerah operasi militer selama pemerintahan Orde Baru, Kopassus juga kembali terseret tuduhan pelanggaram HAM.

Salah satu peristiwa yang menyeret Kopassus adalah kasus pembunuhan aktivis Papua bernama Theys Eluay, mantan ketua Presidium Dewan Papua.

Mawar Berduri

Ada kisah tentang “mawar berduri” dalam mitologi Yunani. Cerita itu mengisahkan Cupid (dewa/ dewi asmara) yang sedang memanah namun tak sengaja meleset dan akhirnya anak panah tersebut mengenai batang mawar.

Seketika itu juga, batang mawar menjadi berduri. Dan cerita itu kemudian dikisahkan turun-temurun hingga kini, untuk mengungkapkan bagaimana keharumam selalu berdampingan dengan sesuatu yang bisa mengundang malapetaka.  

Kopassus bukanlah perempuan “mawar berduri”. Namun Kopassus laksana “mawar berduri” karena memang memiliki keharumannya tak bisa dipungkiri. Di sisi lain, ia pun memiliki duri yang telah melukai dan membuat banyak pihak berdarah-darah dan berlinang air mata.

Entah sengaja atau kebetulan, komando penculikan terhadap sejumlah aktivis pengritik Orde Baru (prodemokrasi) juga menggunakan sandi “Tim Mawar”.

Anggota "Tim Mawar" di hadapan DKP

Sebanyak 11 prajurit Kopassus yang menjadi anggota “Tim Mawar” dinyatakan bersalah oleh Dewan Kehormatan Perwira (DKP) karena telah melakukan penculikan terhadap sejumlah aktivis prodemokrasi.

Peristiwa itu menyeret Letjend TNI Prabowo Subianto dan mengakibatkan diberhentikan dari anggota ABRI.  

Dalam buku Hendro Suprobo berjudul Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009: 468-469), Letjen Agum Gumelar, yang juga anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP), Prabowo dinilai telah melakukan kegiatan di luar kewenangannya.

“Perintah melakukan bawah kendali operasi (BKO) ternyata tidak ada. Dan Prabowo melakukannya di luar kewenangannya,” katanya.

Hal ini juga diperkuat oleh Sintong Panjaitan yang pada 1985 sempat menjadi Komandan Kopassandha (kemudian menjadi Kopassus) yang mencoba merunut awal peristiwa penghilangan paksa tersebut.

Tahun 1997, menjelang pemilu dan Sidang Umum MPR 1998, “Komandan Jenderal Kopassus TNI Prabowo Subianto memberikan perintah lisan kepada komandan Karsyayidha 42 Grup 4/ Sandiyudha Mayor Bambang Kristiono sebagai komandan Satgas Merpati dengan tugas mengumpulkan data tentang kegiatan kelompok radikal yang bermaksud mengganggu stabilitas negara,” ungkap Sintong.

Dan ternyata, atas dasar perintah lisan yang kemudian disusul dengan perintah tertulis itulah, Mayor Bambang Kristiono membentuk “Tim Mawar” dengan anggota 10 orang perwira.

Tim inilah yang kemudian menindak dan menculik kelompok yang ditengarai radikal, khususnya kelompok yang menamakan dirinya Partai Rakyat Demokratik (PRD).

“Tim Mawar bergerak secara rahasia dan dengan menggunakan metode hitam atau undercover”, kata Sintong Panjaitan.

Kini Mawar (Kopassus) yang pernah tercoreng oleh “Tim Mawar” tetap berdiri teguh menghadapi terpaan badai kehidupan. Komitmentnya tetap utuh menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semoga masa lalu bisa menjadikan seluruh anggota kesatuan ini menjadi semakin digdaya dan bijaksana. Oleh sejarah, jadikanlah masa lalu sebagai batu pijakan untuk melompat maju dan semakin jaya.

DIRGAHAYU KOPASSUS!

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?