Sabtu, 24 Juni 2017 | 14:06 WIB

  • News

  • Singkap Sejarah

Asal Usul Nama Genteng, Awal Legenda Jawara Kampung

Wali Kota Bogor Aria Bima naik sepeda motor mengunjungi Desa Genteng, Bogor. (Donni/Foto:Adit-Indra-eto)
Wali Kota Bogor Aria Bima naik sepeda motor mengunjungi Desa Genteng, Bogor. (Donni/Foto:Adit-Indra-eto)

BOGOR, NETRALNEWS.COM - Mungkin sebagian besar warga Kota Bogor belum banyak yang mengetahui silsilah atau asal-usul nama Genteng yang berada di wilayah Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Tidak saja sebatas asal-usul namanya, namun juga catatan sejarah perjalanan wilayah itu berdiri.

Nama kata Genteng ini berasal dari Genteng yang artinya luka atau lecet. Diceritakan bahwa asal kata Genteng ini lantaran pada zaman dahulu sering terjadinya perkelahian antar jawara yang berasal dari empat kampung. Yaitu Kampung Rancamaya, Kampung Bojong, Kampung Cogreg, dan Kampung Genteng. Kala itu, ada empat jawara yang gagah perkasa. Keempatnya adalah Ki Juariah, Ki Jabrig, Ki Cimung, dan Mbah Jambrong.

Walaupun hanya bersenjatakan "cocolek" dodol atau alat pengulak pembuat dodol yang terbuat dari kayu aren, keempat jawara itu mampu melawan jawara-jawara dari luar wilayah Genteng dengan taktik bertahan, meskipun dikepung lawan. Dengan sekuat tenaga, keempat jawara ini bisa memenangkan pertarungan.

Nama Genteng sendiri tercipta ketika jawara sedang dikepung dan dipegang lawannya dengan sekuat tenaga hingga saking kuatnya meninggalkan bekas pegangan tangannya dan dinamakan genteng, luka atau lecet. Sejak saat itulah wilayah itu bernama Genteng sampai saat ini.

Hal itu diterangkan Lurah Genteng Yusef Farizal saat kegiatan Wali Kota Ngantor di Kelurahan Genteng, Kecamatan Bogor Selatan, Senin (9/1/2017), dalam presentasinya di hadapan Wali Kota Bogor Bima Arya dan Ketua TP PKK Kota Bogor Yane Ardian, Kabag Tapem Setda Kota Bogor Taufik, Camat Bogor Selatan Sujatmiko Baliarto, dan Kapolsek Bogor Selatan AKP Irwandi.

Pada kesempatan itu, Yusef juga memaparkan bahwa Kelurahan Genteng merupakan wilayah pemekaran dari Desa Cipaku, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor pada 4 November 1982 silam. Sebelum dilakukan pemilihan kepala desa, ditunjuk seorang Pejabat Sementara (Pjs) dari Kecamatan Ciawi yang dijabat oleh Ali Jauhari.

"Setahun berselang dilakukan pemilihan kepala desa, yang dimenangkan oleh H. Tatang Ruminta, dan periode berikutnya dimenangkan oleh A.E. Sohibin dan menjabat hingga dilakukannya perluasan atau pemekaran wilayah Kota Bogor pada tahun 1994 silam hingga akhirnya Kelurahan Genteng masuk ke wilayah Kecamatan Bogor Selatan," papar lurah. (Donni/Foto:Adit-Indra-eto)

Wali Kota Bogor Bima Arya, Senin (9/1/2017), kembali melanjutkan programnya yaitu Wali Kota Ngantor di Kelurahan. Kali ini Kelurahan Genteng di Kecamatan Bogor Selatan yang berkesempatan dikunjungi wali kota. Tidak hanya sekadar ingin menyapa langsung warga dan seluruh staf kelurahan, kedatangannya itu juga untuk menyerap aspirasi dan mengetahui kondisi warganya.

Sama seperti kegiatan serupa di beberapa kelurahan sebelumnya, di Kelurahan Genteng Bima membuka sesi dialog dan melihat sejumlah potensi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Tidak hanya itu, Bima juga berkesempatan meninjau infrastruktur serta melihat langsung kondisi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Pada sesi dialog, sejumlah warga menyampaikan aspirasi dan keluhannya langsung kepada wali kota. Mulai dari tokoh masyarakat, para pengurus RT dan RW hingga para kader Posyandu. Bidang fisik atau infrastruktur tetap yang mendominasi aspirasi perbaikan jalan lingkungan, lampu penerangan jalan umum (PJU) dan ketersediaan Posyandu.

Seperti yang disampaikan salah seorang ketua RW. Mewakili warganya, ia mengharapkan agar dibangunnya trotoar dan Posyandu di wilayah RW 3. Keberadaan dua fasilitas itu, katanya, sangat dibutuhkan warga. Ini mengingat di wilayah RW 3 yang terdapat sekolah dasar dan posisinya berada tepat di depan jalan.

"Di saat jam sekolah, akan banyak anak-anak entah itu yang jajan atau mau masuk dan keluar. Kita khawatir karena posisinya di pinggir jalan, banyak kendaraan yang lewat, takut mereka terserempet atau tertabrak. Makanya, trotoar ini sangat dibutuhkan dan harus ada," ungkapnya. 

Editor : Marcel Rombe Baan
Sumber : humas.sekdakot@gmail.com

Apa Reaksi Anda?